Arsip Tag: EXO-M

The Return of EXO planet part 6

Author : choi hee young

Length : chaptered

Rating : PG

Genre : fantasy, romance (maybe)

Cast :

EXO members (especially sehun, kai, baekhyun, tao dan luhan, soalnya mereka bias aku, :3 hehe :D)

Park ji yeon T-ARA

Support cast :

Krystal f(x)

Backsound :

EXO – MAMA

EXO – into your world (Angel)

EXO – History

T-ARA – Day by Day

T-ARA – Don’t Leave

Di setiap chapter Author bakalan tetep ingetin kalo disini ceritanya jiyeon, tao dan D.O seumuran sama krystal, kai dan sehun, biar para reader ga pada bingung.

Lanjutkan membaca The Return of EXO planet part 6

Iklan

[oneshoot] Regret

[oneshoot] Regret

 

 

 

Author : choi heeyoung

 

Genre : sad, romance

 

Rating : PG-17+

 

Main cast :

Huang zi Tao EXO-M

Park jiyeon T-ARA

 

Support cast :

Suzy Miss A

EXO members

 

Summary : ketika penyesalan datang, waktu tak akan bisa diputar kembali.

 

 

~all Tao POV~

Hari ini adalah hari terburuk dalam hidupku. “Tao~ya, chukka atas pertunanganmu.” Ujar cheonyeol, aku hanya diam dengan wajah datar. “ya, tersenyumlah. Lihat jiyeon, dia begitu ramah pada tamu.” Eomma menyikutku. AISH!! Lihatlah yeoja itu, betapa bahagianya dia diatas penderitaanku, senyumnya begitu mengerikan, hari ini benar-benar bencana, argh!! “oppa.” Yeoja mengerikan itu berlari menghampiriku dengan senyum menyebalkan. “aku seumuran denganmu, jangan memanggilku dengan sebutan menjijikan itu.” Kataku dengan sinis. “tapi kau kaun lebih tua 2 bulan.” Sahutnya menggandeng lenganku tapi segera ku tepis. “berhenti bersikap bodoh.” Ujarku pergi meninggalkannya. “oppa.” Aish. Dia mengejarku dan mengamit lenganku, kalau tidak ada eomma sudah ku hempaskan tangannya. “tao~ya, chukkae atas pertunanganmu.” Ujar kai dan sehun yang datang bersama.. Suzy?? Mereka mengajak suzy? “oppa..” lirih suzy menatap jiyeon yang mengamit lenganku, segera ku hempaskan tangan yeoja menyebalkan ini. “s, suzy~aa…” aku tidak tahu harus bagaimana sekarang, suzy yang masih berstatus sebagai yeojachinguku datang ke acara pertunanganku, oh tuhan, semoga ini hanya mimpi buruk. “chukkae.” Ucap suzy. “aniya, suzy~aa.. kau jangan salah paham, ini bukan keinginanku.” Aku mencoba menjelaskannya pada suzy. “aku.. aku sama sekali tidak mencintainya, aku hanya mencintaimu suzy, percayalah..” aku menggenggam kedua tangan suzy. “oppa.” Yeoja menyebalkan itu memegang lenganku. “aish.!” Sentakku kesal menghempaskan tangannya. “ya, Tao~ya, apa yang kau lakukan? Dia itu tunanganmu.” Tegur kai. Cih, dasar penghianat, dia pikir aku tidak tahu dia menyukai suzy dan berharap hubunganku dan suzy berakhir. “gwenchana~ hehe.” Ujar yeoja menyebalkan ini. ish, benar-benar pencari perhatian. “jiyeon~aa. Kajja, kita ambil minum.” Sehun mengajak yeoja menyebalkan itu pergi, baguslah. “aku pergi.” Pamit suzy. “changkamman. Wae gurae?” aku menahan tangan suzy. “aku hanya akan mengganggumu dan tunanganmu, tao~ssi.” Suzy menghempaskan tanganku dan pergi. Sial! Ini semua gara-gara yeoja menyebalkan itu.

 

—————

 

Pagi ini aku sudah kena sial, yeoja menyebalkan itu datang kerumahku dan mengikutiku sampai ke tempat kerjaku. “oppa, aku akan menunggumu di sini sampai jam makan siang, lalu kita pergi makan siang bersama, ne?” ujarnya sok manis, aku mengacuhkannya dan kembali fokus pada pekerjaanku.

 

Keesokan harinya..

 

Yeoja ini lagi-lagi datang menghampiriku di kantor. “oppa, kajja, kita makan siang bersama, aku bawakan makanan untukmu.” Ujarnya tersenyum lebar, kennapa ada orang yang bermuka tebal seperti dia? Ckck, sudah jelas-jelas aku mengacuhkannya. “aku tidak lapar.” Sahutku tanpa menatapnya. “ayolah, makan ne? nanti kau bisa sakit kalau kau tidak makan. Igeo, makanlah.” Paksanya menyodorkan makanan padaku. “sudah ku bilang aku tidak lapar.” Bentakku menyingkirkan tangannya, bagus dia terdiam dan tidak mengoceh lagi. “gwencahana kalo oppa tidak mau makan makanan buatanku, tapi jangan sampai kau lupa makan ne? nanti kau bisa sakit.” Ujarnya menyunggingkan senyuman aku menatapnya kesal. “gurae, aku pergi dulu. Annyeong.” di keluar dari ruanganku. “eoh, jiyeon~aa.” Aku mendengar suara sehun memanggil jiyeon yang baru saja keluar dari ruanganku. “kau sudah mau pulang?” kudengar sehun bertanya. “ne.” sahut jiyeon. “kajja, kuantar kau pulang.” Cih, dasar yeoja pencari perhatian, bahkan temanku pun berbaik hati mau mengantarnya pulang.

 

—————

 

Sudah seminggu sejak pertunanganku, dan yeoja itu juga setiap hari datang ke kantor ku membawakan bekal makan siang yang ia buat sendiri, aku pun setiap hari menolak untuk memakannya. “oppa, jebal, hari ini makan ya?? ne???” bujuknya sok manis, aish. “gurae.” Sahutku kesal karena sedari tadi dia tidak berhenti mengoceh. “igeo.” Dia menyodorkan kotak bekal sambil tersenyum lebar, cih, menyebalkan. Aku membuka kotak bekal dan memakan makanan buatannya, eeuuu, lumayan.. “oppa ottae?” tanyanya. “tidak enak.” Sahutku ketus. Setelah selesai makan aku menutup kembali kotak makanan itu, apa ini? aku baru sadar di penutup kotak makanan ini ada setitik bekas darah, apa dia terluka? Ahhh, sudahlah, peduli apa aku padanya.. “oppa, hari ini temani aku jalan-jalan ya?” katanya tersenyum membujuk. “shireo.” Sahutku, yang benar saja, mana mungkin aku menemaninya jalan-jalan sedangkan hari ini aku ada janji dengan suzy, yeojachinguku tercinta. “wae?” tanyanya. “aku ada janji dengan suzy, yeojachinguku.” Sahutku dengan penekanan pada kata yeojachingu, raut wajahnya berubah kecewa, bagus. “oppa.” Suzy tiba-tiba datang dan langsung memelukku, yeoja menyebalkan itu juga melihatnya. “eoh, suzy~aa, kenapa kau sudah datang, aku kan bilang nanti ku jemput.” Ujarku mengusap pipi suzy. “aku ingin cepat-cepat bertemu denganmu oppa.” Sahut suzy mencium bibirku singkat, kulihat yeoja menyebalkan itu menatap kaget, wae? Dasar aneh. “ehm.” Dia berdehem membuatku dan suzy menoleh padanya. “eu, aku, pergi dulu.” Ujarnya menunduk, bagus pergilah.

 

————–

 

Sudah beberapa hari ini yeoja menyebalkan itu tidak datang menemuiku, apa dia marah padaku? Ada apa denganku?? Kenapa memikirkannya? Bukankah lebih bagus kalau dia tidak datang menggangguku? Ahh sudahlah.. “Tao~ya. kau mau ikut kita makan siang?” Tanya baekhyun membuyarkan lamunanku. “ne? eoh, kajja.” Aku pergi bersama chingu-chunguku untuk makan siang. Tunggu, sepertinya ada yang kurang? Sehun, ne, dimana dia. “sepertinya aku tidak melihat sehun. Kemana dia?” tanyaku. “eu, molla, cheonyeol~aa. Sehun kemana?” baekhyun melirik chaeonyeol. “eu, nado molla, suho hyung, apartemenmu disebelah apartemen sehun kan? Dia kemana?” cheonyeol malah melirik suho. “ne? eu, dia ada urusan bisnis jadi harus ke jepang sejak 5 hari yang lalu.” Sahut suho, ada apa sih dengan mereka? Aneh. “ bagaimana kalau sebentar malam kita perrgi ke club, akhir-akhir ini kan kita jarang keluar bersama.” Usulku, mereka saling pandang lalu menatapku. “eu, mian, aku ada janji dengan yeojachinguku.” Sahut baekhyun. “mwo? Sejak kapan kau punya yeojachingu? Kenap tidak pernah cerita?” tuntutku. “eu, itu..” baekhyun menggigit bibirnya, ada apa dengannya? “itu karena mereka baru saja jadian kemarin, yeojachingunya adalah sahabat dari yeojachinguku jadi malam ini kami double date.” Cheonyeol memotong. “ish, kalian sungguh tidak asik. Suho hyung, ottae? Kita ke club sebentar malam ne?” ajakku. “eu, aku juga tidak bisa, masih banyak pekerjaan yang belum ku selesaikan.” Tolaknya. “aish, kenapa kalian begitu sibuk sih.” Gerutuku. “mianhe, tao~ya.” ujar baekhyun.

 

—————-

 

Hari ini tepat seminggu yeoja itu tidak datang menemuiku, sepertinya ada yang kurang. Aniya…!! Apa yang kau pikirkan?!! “oppa.” Suara itu.. apa aku sudah mulai gila? “oppa.” Suara itu lagi, aku mendongak dan mnedapati yeoja itu sedang berdiri dihadapanku dengan senyum khasnya yang selalu membuatku kesal, tapi ada apa denganku hari ini? aku sama sekali tidak kesal melihatnya berdiri dihadapanku sambil tersenyum. “mau apa kau kemari?” tanyaku ketus. “wae? Oppa marah padaku ya, karena aku tidak kemari selama eumm, seminggu..?” tanyanya. “mwo? Kau tidak datang selamanya juga aku tidak peduli bahkan aku akan sangat bahagia.” Kataku kesal. “jadi oppa akan bahagia kalau tanpa aku?” tanyanya kecewa. “gureom.” Jawabku mantap. Dia menatapku sedih “mianhe, tapi aku tidak bisa, aku akan selalu disisimu sampai kapanpun.” Ujarnya tersenyum lebar, aish, menyebalkan, tapi ada apa denganku? Kenapa aku seperti…… senang? Aku senang?! Aniya! Mana mungkin! “oppa, aku ingin mengatakan sesuatu padamu.” Dari nada suaranya terdengar serius. “ini tentang yeojachingumu, suzy.” Lanjutnya. “wae? Ada apa dengannya?” tanyaku. “dia.. eu, tadi saat perjalanan kemari aku sempat mampir ke kafe, di sana, aku, aku melihatnya berciuman dengan namja lain.” Katanya. “MWO?! Mana mungkin?! Dia sangat mencintaiku, kau jangan pernah mencoba memfitnahnya untuk merusak hubungan kami, kau pikir aku akan percaya?! Sekali pun kau berusaha memisahkanku dengan suzy, aku tidak akan pernah mencintaimu, sampai kapan pun! Araseo?! Jadi jangan pernah memfitnah yeojachinguku lagi!!” bentakku, terang saja aku kesal, yeoja aneh ini berani-beraninya menjelek-jelekan suzy. “tapi aku tidak mem-“ “DIAM.” Sentakku berhasil membuatnya terdiam, aku pergi meninggalkannya dalam ruanganku menuju ke toilet untuk menenangkan diri. Setelah merasa cukup tenang aku kembali keruanganku tapi langkahku terhenti saat melihatnya msih dalam ruanganku, dia… menangis? Untuk apa dia menangis?! Jelas-jelas dia yang memfitnah suzy, tunggu, dia tidak sendirian, dia bersama.. sehun?? “uljima, eum.” Kulihat sehun mengusap wajahnya dan memeluknya. Kenapa ini? kenapa aku seperti tidak rela?! Aku merasa sehun mengambil yang seharusnya menjadi milikku. “eoh, jiyeon~aa, hidungmu berdarah lagi.” Sehun mengambil tissue dan dan membersihkan darah yang keluar dari hidung yeoja itu. “apa tidak sebaiknya kau-“ “sehun~aa.” Yeoja itu meenggeleng memotong ucapan sehun, mereka terlihat sangat dekat, ada apa denganku?! Aku merasa kesal?

 

Keesokan harinya…

 

Hari ini aku pergi ke tempat kerja suzy untuk memberi kejutan padanya, aku membuka pelan pintu ruangannya dan aku melihat sebuah pemandangan yang membuat amarahku naik ke ubun-ubun, suzy sedang berciuman dengan seorang namja. “bae suzy.” Panggilku membuat mereka menghentikan ‘kegiatan’ mereka. “o, op, oppa.” Sahutnya terbata. “neo.” BUKK aku meninju namja itu. “kya.. oppa, neo wae gurae?!” bentak suzy. Mwo? Dia membentakku?! “WAE?! Kau membela namja brengsek ini?!” bentakku. “eoh! Aku membela namja yang kucintai, WAE?!” suzy balik membentakku. “mwo?!” tanyaku tak percaya, namja yang dia cintai?! “kau pikir aku bersamamu selama ini karena aku mencintaimu heoh?! Aku hanya memanfaatkanmu, yang aku inginkan hanya uangmu.” Ujarnya sinis. “brengsek.” Hanya itu kata yang keluar dari mulutku sebelum aku pergi meninggalkan 2 manusia brengsek itu. AISH!!! SHIT!! Bisa-bisanya aku tertipu dengan yeoja brengsek yang mengaku mencintaiku itu!! Aku jadi teringat yeoja itu, kemarin aku membentaknya dan menuduhnya memfitnah suzy, padahal pada kenyataannya suzy memang brengsek. apa aku harus minta maaf padanya? Tapi… mau taruh di mana muka ku nanti kalau aku meminta maaf… aishh.. gurae, aku kerumah nya saja dulu. Aku melaju ke rumah jiyeon, aku memparkir mobilku tak jauh dari rumahnya, aku tak ingin dia tahu aku datang. Lalu untuk apa aku kemari?? Hahh molla. Kakiku terus melangkah menuju rumah jiyeon sampai aku melihat mobil sehun yang terparkir di depan rumahnya tak lama keluar seorang yeoja yang tak lain adalah jiyeon, aku bersembunyi dan diam-diam mendengarkan percakapan mereka. “jiyeon~aa, pikirkanlah baik-baik. Ini demi kebaikanmu.” Ujar sehun. “aku sudah memikirkannya, dan keputusanku tetap tidak sehun~aa.” Sahut jiyeon, apa yang sebenarnya mereka bicarakan? Sehun membuang nafas berat. “kau begitu keras kepala.” Sehun mengacak rambut jiyeon pelan, tanpa sadar aku mengepalkan kedua tanganku, kesal? Mungkinkah? Apa wajar aku kesal? Jiyeon tunanganku, dan sekarang sahabatku bersikap begitu mesra pada tunanganku, tunggu, aku, aku mngakuinya sebagai tunanganku? Tapi apapun yang terjadi jiyeon memang tunanganku. “Aku ingin kau mengambil keputusan yang tepat, tapi keputusan apapun yang kau ambil asal bisa membuatmu bahagia, aku akan mendukungnya karena aku mencintaimu.” Ujar sehun. MWO?! Sehun… dia mencintai jiyeon?! Tunanganku?! Eoh, sekarang kutegaskan kalau jiyeon adalah tunanganku. “behentilah mengatakan hal itu, ini sudah kesekian kalinya kau mengatakannya. Sehun~aa.” Sahut jiyeon. Jadi sehun sudah mengungkapkannya berulang kali?! Sehun tersenyum pada jiyeon dan mengacak rambutnya lagi. “masuklah~.” Katanya dan.. dia mencium kening jiyeon?! Sial! Kenapa aku sekesal ini?! sehun menyentuh tunanganku! Dia mencium kening jiyeon. aku pergi meninggalkan rumah jiyeon tanpa menemuinya.

 

—————

 

oppa.” Suara seseorang menyadarkanku dari lamunanku. Dia berlari dari amabang pintu menghampiriku dengan senyum merekah, dan tidak seperti biasanya aku tidak kesal saat dia datang. “oppa, hari ini temani aku jalan-jalan ya? ne?” bujuknya, dia tidak marah karena aku membentaknya kemarin? “hari ini aku ada meeting.” Sahutku. “abeonim sudah membatalkannya dan katanya kau bebas hari ini. jadi mau ya, temani aku jalan-jalan. Ne?” serunya tersenyum lebar. Abeonim membatalkan meeting? Bukankah abeonim sangat disiplin? Dia tidak pernah membatalkan meeting untuk hal yang tidak penting. Kenapa abeonim membatalkan meeting dan membiarkanku pergi dengan yeoja ini. entah setan apa yang merasukiku sehingga aku mengiyakan ajakannya. “wuah. Gomawo. Kajja.” Serunya semangat. Dia mengajakku ke taman, banyak daun berwarna orange yang berjatuhan karena sekarang adalah musim gugur. Dia berlari kecil mengayunkan tangannya menikmati pemandangan yang memang indah ini, wajahnya terlihat begitu senang, tapi sepertinya da yang beda.. wajahnya sedikit pucat, apa dia kelelahan? “oppa, pemandangan disini indah bukan.” Ujarnya membuyarkan lamunanku. “oppa kajja. Kita duduk di sana.” Dia menarik tanganku kesebuah bangku panjang berwarna coklat. “ini adalah tempatku bermain sewaktu aku kecil, di tempat ini aku bertemu dengan seseorang, orang yang menemaniku bermain setiap hari, tapi suatu hari dia pergi meninggalkanku tanpa kabar, aku begitu sedih dan mencarinya kemana-mana, kami memiliki janji kalau suatu saat bertemu lagi, kami akan datang kemari bersama.” Ujarnya menatap lurus, pandangannya begitu sendu, baru kali ini aku melihatnya begitu sendu, karena biasanya dia menghampiriku dengan senyum yang merekah. Apa itu..? eu, darah?! Hidungnya mengeluarkan darah tapi sepertinya dia tak menyadarinya. “jiyeon~aa, hidungmu berdarah.” Ujarku, dia menoleh kaget dan segera memgang hidungnya sambil menengadahkan wajahnya agar darah itu tidak keluar lagi. Ini sudah kedua kalinya aku melihat hidungnya berdarah. “kenapa hidungmu..?” tanyaku menggantung. “mungkin aku hanya kelelahan, hehe. Eh, changkaman, tadi, tadi kau memanggil namaku?” tanyanya menatapku heran. “e, eoh. Wae?” sahutku gugup, ne, kuakui aku gugup karena sekarang dia menatapku begitu lekat. “aniya, hanya saja selama ini kau tidak pernah memanggil namaku, hehe.” Ucapnya. Benarkah? Aku baru sadar kalau selama ini aku tidak pernah memanggil namanya. “oppa, kajja, hari sudah mulai gelap.” Jiyeon mengajakku pulang, dan benar katanya matahari sudah mulai terbenam. “naiklah.” Aku menyuruhnya untuk naik ke mobilku. “ne?” dia menatapku tak percaya. “wae?” tanyaku balik. “oppa, kau mau mengantarku pulang?” tanyanya lagi. “appa dan eomma menyuruhku untuk mengantarmu pulang.” Sahutku berbohong, karena appa dan eomma memang tidak menyuruhku, dan jangan Tanya kenapa aku melakukannya karena aku pun tak tahu. Jiyeon masuk ke mobilku sambil tersenyum. Aku mengantarkannya ke rumah. Aku menghentikan mobilku tepat di depan rumahnya namun dia tak keluar dari mobilku, ku tolehkan kepalaku dan mendapatinya tengah tertidur pulas, yeoja ini benar-benar. Kutatap wajahnya saat tertidur, sangat polos, dari jarak sedekat ini aku baru menyadari kalau tunanganku ini memiliki wajah yang sangat cantik, matanya, hidungnya, bibirnya yang mungil. Deg.. kenapa ini? dia menggeliat, aku segar menjauhkan tubuhku darinya. “euggh. Eoh. Sudah sampai ya?” serunya membuka matanya sempurna. “aigoo~ mianhe oppa, aku ketiduran.” Ujarnya buru buru keluar dari mobilku. “oppa, gomawo.” Dia melambai dari luar mobil. “masuklah.” Suruhku. “eoh, annyeong.” ujarnya, aku pun pergi meninggalkan rumahnya. Ada apa denganku? Jantungku, jantungku berdetak tidak karuan saat menatapnya.

 

—————-

 

Hari ini aku makan di café bersama chingu-chinguku karena jiyeon tidak datang membawakanku bekal, ada apa dengannya?. Kenapa denganku? Apa… aku.. mer.. rindukan… nya? Mungkinkah aku… jatuh cinta padanya? “kau memikirkan jiyeon?” Tanya suho hyung membuyarkan lamunanku. “m, mwo?” tanyaku gugup. “kau merindukannya? Karena hari ini tidak daang?” kini giliran baekhyun yang menebak pikiranku. “Tao~ya, kau sudah jatuh cinta pada jiyeon iyakan?” tebak cheonyeol. Mereka bicara apa sih? “mengaku saja, kau merasa kehilangannya saat dia tidak menemuimu sehari saja, karena kau mulai mencintainya. Iyakan?” cecar baekhyun. “aku tahu itu tao~ya, kau sudah jatuh cinta pada tunanganmu, jiyeon, yeoja yang setiap hari mengikutimu, sekali pun kau membentaknya dia tetap saja mengikutimu dengan senyuman.” Ujar suho hyung. “ap, apa yang kalian bicarakan heoh? Eu, sehun mana?” tanyaku mengalihkan pembicaraan. “ne? sehun?” Tanya baekhyun. “eoh, dimana dia?” tanyaku, hufft, akhirnya mereka berhenti mencecarku dengan pertanyaan yang jujur aku tidak tahu harus menjawab apa. “eu, sehun sedang ke busan, ne, dia ke busan.” Jawab cheonyeol menggaruk tengkuknya. “mwo? Buat apa dia ke busan?” tanyaku heran. “eu, dia menjenguk tantenya yang sedang sakit.” Sahut suho hyung, aneh, anak itu akhir-akhir ini sering menghilang.

 

Malam harinya…

 

Aku menatap langit-langit kamarku, dengan tatapan kosong. “kemana dia? Kenapa tadi tidak datang? Apa terjadi sesuatu padanya?” gumamku, kuakui yeoja itu behasil menguasai pikiranku seharian ini. “eoh, Tao sedang ada di kamarnya, kau masuk saja.” Terdengar suara eomma. “ne, gomampseumnida eomonim.” Suara itu… itu suara jiyeon. Tap, tap, tap. Dia pasti sedang berjalan kemari. Ottokhe? Sebaiknya aku pura-pura tidur saja. Langkahnya semakin mendekat “eoh, sudah tidur rupanya.” Gumamnya, apa dia akan pergi? Andwae. Haruskah aku bangun dan menahannya pergi? Aniya, itu terlalu konyol. Tunggu, sepertinya dia mendekat. “oppa. Kau sudah tidur ya.” ujarnya disampingku. “wajahmu saat tidur begitu tenang dan polos. Oppa, bisakah kau menatapku dengan wajah setenang ini?” lanjutnya. Apa yang dia lakukan? Sudah jelas-jelas dia melihatku tidur, tapi dia malah berbicara padaku. “kurasa itu tidak mungkin, kau selalu menatapku datar bahkan terkadang kau menatapku kesal, tapi itu lebih baik dari pada kau tidak menatapku sama sekali, aku tahu kau pasti sangat membenciku karena kau harus bertunangan denganku, yeoja yang tidak tahu malu yang terus-terusan mengejarmu.” Apa yang dia bicarakan? “Oppa, kau pasti sangat menderita menjadi tunanganku, mianhe. Tapi tenanglah kau akan segera bebas dariku, kau akan segera mendapatkan kebahagiaanmu, aku akan pergi meninggalkanmu seperti yang kau mau, sebentar lagi, bersabarlah oppa. Mianhe, jeongmal mianhe, aku begitu egois, aku hanya memikirkan diriku sendiri.” Dia berhenti sejenak. Tes~ dia menangis? Air matanya jatuh di tanganku. “saranghae~ jeongmal saranghaeyo~” lirihnya membelai rambutku. “mianhe, cintaku padamu membuatmu menderita karena harus bertunangan denganku. Jeongmal mianhe.” Ujarnya disela tangisannya. “aku berjanji sebentar lagi kau akan mendapatkan kebahagiaanmu. Saranghae oppa.” Cup~ dia mengcium keningku lembut. Deg! Ingin rasanya aku bangun dan memeluknya, tapi itu tidak mungkin, gensiku terlalu besar untuk melakukan hal itu. “aku akan selalu mencintaimu oppa, sampai kapan pun akan selalu mencintaimu.” Ujarnya. Terdengar suara langkahnya menjauh. Aku membuka perlahan mataku saat suara langkahnya tidak terdengar lagi. Ku pegang keningku, ciuman hangat jiyeon masih terasa, tanganku basah karena air matanya, dia menagis dan meminta maaf padaku, padahal selama ini aku yang selalu melukainya. Sekarang aku sada kalau aku telah jatuh cinta padanya, sehari tidak melihatnya membuatku gundah. Tapi kenapa tadi dia berkata seperti itu? ‘aku akan pergi meninggalkanmu seperti yang kau mau’ kata-katanya masih terngiang di telingaku. Apa maksudnya? Dia akan pergi? Dia akan meninggalkanku? Andwae, aku tidak mau. Perlahan mataku mulai terpejam. Seorang gadis kecil sedang menangis di taman yang dipeniuhi daun-daun berwarna orange yang berguguran. “gwenchana?” seorang bocah laki-laki menghampirinya. “lolipopku jatuh, itu lollipop terkahirku.” Rengek gadis kecil itu.”igeo, ambilah.” Bocah laki-laki itu memberikan lolipopnya untuk gadis kecil yang menangis itu. “untukku?” Tanya gadis kecil itu dengan air mata masih menggenang di matanya. “eoh.” Bocah laki-laki itu mengangguk mantap. “lalu bagaimana denganmu?” Tanya gadis kecil itu lagi.”gwenchana.” sahut bocah kecil itu. “gomawo Tao~ya.” ujar gadis kecil itu tersenyum manis. “Tao~ya.” “uhm.” “kau mau berjanji?” “janji apa?” “kalau suatu saat nanti kita akan kembali bertemu dan pergi ketaman ini bersama, ne?” “eoh, aku berjanji.” “saranghae tao~ya.” “nado saranghae jiyeon~aa.” Aku terbangun dari mimpiku saat cahaya matahari mulai memaksa masuk kedalam kamarku. Mimpi itu.. jadi… orang yang jiyeon ceritakan beberapa hari lalu adalah aku..? kenapa ku bisa melupakannya? Tapi sekarang semua ingatan itu kembali, semua menjadi jelas.. aku sudah mengingat semua kenanganku saat bersama jiyeon kecilku, aku juga ingat saat itu aku berjanji akan menikahinya. Apa dia juga mengingat janjiku itu? Aku segera bangkit. Hari ini aku datang ke kantor dengan semangat. Sekarang sudah jam isirahat, kenapa jiyeon belum datang juga? Kuputuskan untuk menelponnya, ini pertama kalinya aku menelponnya. Tuttt, tuutt, tuutt. Tak ada jawaban, apa dia sedang sibuk? Tapi setahuku dia tidak bekerja. Drrtt. HP ku bergetar, aku berharap yang menelponku adalah jiyeon tapi ternyata sehun yang menelponku, ada apa? Tumben. “yobbosaeyo?”

Tao~ya.”

wae?”

cepat datang ke rumah sakit XXX sekarang?”

mwo? Wae? Siapa yang sakit?”

tidak bisakah kau berhenti bertanya, dan cepat kemari?!”

mwo? Ya! aku hanya berta-“

jiyeon.” DEG! Seketika firasat buruk menghampiriku. “dia sedang dirawat disini.” Lanjut sehun, tuutt, segera kumatikan telp dan menyambar kunci mobilku, berbagai pikiran buruk menghampiriku, ku percepat laju mobilku menuju rumah sakit. “permisi, pasien bernama park jiyeon dirawat di ruangan mana?” tanyaku pada resepsionis. “di kamar 201.” Sahut suster itu. Aku berlari sepanjang koridor rumah sakit berharap segera menemukan kamar 201, kulihat sehun, baekhyun, cheonyeol dan suho hyung, aku berlari menghampiri mereka. “kenapa jiyeon?” nafasku tersengal-sengal, mereka menatapku sendu. Aku segera melihat kedalam kamar rawat, disana terbaring yeoja yang kukenal jelas, jiyeon, tunanganku yang sudah kusia-siakan, aku masuk keruangan yang sunyi itu, yang terdengar hanya suara mesin detector jantung. Kutatap wajah pucat jiyeon, kedua matanya yang biasa selalu berbinar kini tertutup. “dia tak sadarkan diri sejak semalam.” Suho hyung menepuk bahuku. “sebenarnya dia sakit apa hyung?” tanyaku masih menatap jiyeon yang belum juga membuka matanya. “dia…” ucapan suho hyung terpotong. “dia menderita leukemia.” Cheonyeol membuka suara. MWO?! “cheonyeol~aa.” Tegur baekhyun. “biar saja, aku sudah tidak tahan, biar Tao tahu.” Sahut cheonyeol membuatku semakin bingung. “tapi jiyeon-“ ujar baekhyun. “apa maksud semua ini??” tanyaku. “sebenarnya jiyeon menderita leukemia stadium akhir.” Kata sehun. “MWO?!” perkataan sehun bagaikan sebilah pisau yang menikam jantungku, kepalaku terasa menerima beban berton-ton, aku terduduk lemas. Kuharap semua ini hanya mimpi. “sejak kapan kalian mengetahuinya?” tanyaku. “sejak awal kau bertunangan dengannya.” Sahut baekhyun tertunduk. “wae?! Kenapa kalian tidak memberitahuku?!” bentakku. “jiyeon yang meminta kami untuk tidak memberitahumu, dia tidak ingin kau bertunangan dengannya hanya karena kasihan.” Jelas sehun. “mwo..??” aku tidak percaya dengan semua ini, jiyeon…… yeoja yang kuanggap sebagai orang asing yang datang merusak kebebasanku, yeoja yang ternyata adalah cinta pertamaku yang datang kembali untukku tapi aku telah menyia-nyiakannya bahkan jahat padanya, dan aku sekarang sadar, sangat sadar kalau aku mencintainya, tapi kenapa malah begini jiyeon~aa??, kenapa?! Kenapa kau melakukan semua ini padaku?! Kau membuatku merasa sangat buruk. Aku satu-satunya orang yang tidak mengetahui penyakitmu. Jiyeon~aa, tunanganku,,, cepatlah sadar.. aku menggenggam tangan jiyeon erat.

 

————-

 

Sudah seminggu jiyeon koma, dan selama itu pula aku terus menungguinya dirumah sakit, appa memahamiku dan membiarkankku tidak masuk kantor. Kini aku tengah duduk disamping ranjang tempat jiyeon terbaring, wajahnya masih pucat, ku genggam erat tangannya dan menciumnya. “jiyeon~aa,, tunanganku.. sadarlah, kumohon..” lirihku. Tes~ air mataku mengalir tak tertahankan, kembali terlintas di ingatanku saat aku membentaknya ketika dia memberitahuku soal perselingkuhan suzy, dia menangis karenaku, karena aku yang tidak mempercayainya dan membentaknya, mianhe~, mianhe jiyeon~aa. “jiyeon~aa, jebal..” ini sdah yang kesekian kalinya aku memanggil namanya tapi dia tak membuka matanya. Jiyeon~aa, tidakkah kau ingin mendengarku memanggil namamu lagi..? jebal sadarlah. “Tao~ya, pulanglah, kau perlu istirahat.” suho hyung menepuk bahuku. “tapi hyung-“ bantahku. “pulanglah Tao. Kau juga butuh istirahat.” Kata eomma jiyeon. “n, ne, eommonim.” Aku menurut. “tao~ya, jika jiyeon sadar nanti, berpura-puralah kalau kau belum mengetahui penyakitnya.” Ujar sehun. “mwo?” tanyaku bingung. “dia akan sangat sedih kalau kau tahu penyakitnya dan itu hanya akan memperburuk keadaannya. Ara?” jelas sehun, terlihat dia sangat mengkhawatirkan jiyeon, tentu saja, sehun mencintai jiyeon. “eoh.” Aku mengangguk dan pergi meninggalkan rumah sakit.

 

Malam harinya..

 

Aku sedang bersiap-siap untuk kembali kerumah sakit tapi tiba-tiba baekhyun menelpon, katanya jiyeon sudah sadar. Aku sangat senang dan ingin cepat-cepat kerumah sakit tapi dia melarangnya, kata baekhyun jiyeon tidak boleh tahu kalau aku sudah mengetahui penyakitnya. Akhirny aku memutuskan untuk tetap dirumah.

 

Keesokan harinya…

 

Drrrttt, drrrtt.. “eugh..” aku merenggangkan otot-ototku lalu mencari handphone ku yang sedari tadi bergetar, siapa sih yang menelpon sepagi ini..? aku mengangkat telpon dengan mata tertutup. ”eugh.. yobosaeyo.” Sahutku dengan malas.

oppa..!” deg! Suara ini.. ini suara yang sangat kurindukan akhir-akhir ini. “oppa, kau baru bangun ya?” ujarnya lagi.

e, eoh.”

gurae, mandilah dan segera ke kantor.”

n, ne?” kenap segugup ini?

mian mengganggumu pagi-pagi, nan jeongmal bogoshipeo oppa, annyeong.” tutt.

j, jiyeon-“ nado bogoshipeo jiyeon~aa. Aku tersenyum, senang? Tentu saja, pagi ini aku mendengar suara jiyeon, suara yang sangat ingin kudengar seminggu ini. aku segera mandi dan siap-siap ke kantor. Hari ini aku kembali bersemangat ke kantor, berharap saat makan siang nanti, jiyeon akan datang. Ku langkahkan kakiku di kantor dengan mantap menuju ruanganku.

 

Aishhh! Kenapa waktu berjalan begitu lama?!?! Kulirik jam tangan yang masih menunjukan pukul 11. Aishhh masih sejam lagi makan siang..

 

Satu jam kemudian…

 

Ini sudah jam makan siang, apa jiyeon akan datang menemuiku?? Apa dia akan datang sambil tersenyum padaku lagi?? Kuharap begitu. “oppa..!” seru seseorang dengan suara yang sangat ku kenal, aku menoleh, disana seorang yeoja cantik dengan gaun berwarna pink sedang berdiri sambil tersenyum diambang pintu. Dia berlari kecil dan memelukku. “oppa.. bogoshipeo.” Ujarnya, hangat, pelukannya terasa begitu hangat, baru saja aku mau membalas pelukannya, jiyeon sudah melepas pelukannya. “mm, m, mian..” katanya menunduk. Kenapa dia harus minta maaf. “wae? Kenapa kau meminta maaf?” Tanyaku, dia mendongakan kepalanya menatapku heran. “kau… tidak marah aku memelukmu?” tanyanya dengan mata yang bulat, sungguh lucu, aku tertawa kecil membuatnya mengerutkan kening. “oppa, kau sakit?” tanyanya menyentuh dahiku, aku menahan tangannya dan menariknya kepelukanku. “eo?!” dia sepertinya kaget. “o, oppa..” ujarnya saat aku melepas pelukanku, ku tatap wajahnya, sangat lucu dan menggemaskan. “wae?” tanyaku. “eu, kau… m, memelukku?” Tanya dengan wajah kaget, aku tertawa melihat tingkahnya. “wae? Bukankah kau tunanganku?” sahutku, dia terdiam menatapku dengan ekspresi tidak percaya. “mana?” tanyaku melihat tangan jiyeon yang kosong, dia tak membawakan bekal buatannya. “mwoga?” tanyanya bingung dan lagi-lagi ekspresinya membuatku gemas. “makan siangku..” sahutku. “eu, igeo…” aku tahu dia pasti tidak akan membawanya karena dia dari rumah sakit. “sudahlah, aku lapar, kajja.” Aku berjalan didepannya menuju café untuk makan siang. “eoh, sehun~aa” seru jiyeon saat kami sedang ada di café, aku menoleh dan melihat sehun, dia terlihat kaget melihat jiyeon bersamaku. “jiyeon~aa, neo..” ucapnya tergantung. “eu, aku ke toilet dulu.” Ujar jiyeon pergi meninggalkanku dan sehun. “kau.. mengajak jiyeon makan siang?” Tanya sehun. “eoh.” Sahutku memakan makananku. “kau melakukannya karena kasihan?” pertanyaan sehun berhasil membuatku menoleh. “mwo?” kenapa dia berpikiran seperti itu?! “sebelumnya kau selalu bersikap kasar pada jiyeon dan tidak pernah menganggapnya, tapi sekarang..” ujar sehun. “ani, aku tidak melakukannya karena kasihan, aku, aku mencintainya, aku mencintai park jiyeon, tunanganku.” Tegasku. Sehun tersenyum. “baguslah kalau kau mencintainya, kuharap kau akan terus membahagiakannya dan tidak membuatnya menangis lagi.” Ucapannya membuatku bingung, bukankah dia seharusnya kesal mendengarku berkata seperti itu? Tapi kenapa dia malah senang dan tersenyum? “aku mencintai jiyeon, aku tidak ingin dia menderita lagi, aku ingin melihatnya tersenyum walau tidak bersamaku.” Lanjutnya, aku terhenyak mendengarnya, sahabatku, sehun, dia begitu mencintai jiyeon dan begitu ingin membahagiakan jiyeon, sedangkan aku? Sebagai tunangannya aku hanya membuatnya menderita selama ini.

 

————-

 

Malam ini eomma menyuruhku mengajak jiyeon kerumah untuk makan malam bersama. “annyeonghasaeyo.” Sapa jiyeon pada kedua orang tuaku. “omo.. jiyeon~aa, kau makin cantik.” Ujar eomma mengelus rambut jiyeon yang menanggapinya dengan senyuman manis. “kajja, kita keruang makan.” Ajak appa. Setelah selesai makan malam aku mengajak jiyeon ke kamarku karena katanya dia ingin melihat bintang lewat teropong dan aku punya teropong bintang di beranda kamarku. “aigoo~ neomu yeoppoda.” Serunya saat melihat bintang dari teropong. “oppa, apa setiap malam kau melihatnya?” tanyanya antusias. “ani.” Sahutku. “wae? Bukankah ini sangat cantik.” Ujarnya kembali fokus melihat bintang. “aku setiap hari melihat yang jauh lebih cantik dari itu.” Ujarku membuatnya menoleh, kena kau perk jiyeon. “mwoga?” tanyanya penasaran. “kau mau tahu?” aku balik bertanya. “kemarilah, ku beritahu.” Sahutku, jiyeon mendekat, aku memgang pundaknya. “neo.” Bisikku tepat ditelinganya. “n, ne?” dia terlihat gugup, sangat lucu. “kau.. jauh lebih cantik dari bintang-bintang itu, saranghae jiyeon~aa.” Akhirnya aku bisa mengatakannya sekarang, ku lihat wajahnya memerah, sungguh menggemaskan, aku mendekatkan wajahku dan dalam hitungan detik bibirku sudah menempel di bibir mungilnya, aku melumatnya lembut, sepertinya dia masih kaget namun sedetik kemudian dia membalas ciumanku, hangat dan lembut, kulingkarkan tangannku di pinggang rampingnya dan jiyeon mengalungkan tangannya di leherku, ku dorong tubuhnya pelan kedalam kamar meninggalkan beranda yang dingin, kuperdalam ciumanku dan semakin melumat bibir mungilnya, tanpa kusadari kakiku masih berjalan membuat jiyeon juga melangkah mundur sampai kakinya menabrak ranjangku. “eo..” ujarnya melepas ciuman kami dan menoleh kearah kakinya yang menabrak ranjangku, dia menatapku, aku tersenyum evil dan kembali menciumnya, melumat bibirnya dalam, merasakan kehangatan dan sensasi yang berbeda, perlahan kudorong tubuhnya sampai terbaring diranjangku. 

 

Keesokan harinya…

 

Kubuka mataku perlahan menyesuaikan dengan cahaya yang masuk kedalam kamarku, aku menoleh pada seseorang yang kini tengah tidur disampingku sambil memelukku, aku tersenyum melihatnya disampingku. Apa dia akan disampingku selamanya? Kuharap begitu. Kuperhatikan wajahnya saat tidur, sangat polos dan tenang. “eugh.” Jiyeon mulai menggeliat dan mengerjap-ngerjapkan matanya membuatku gemas. “kau sudah bangun?” tanyaku mengelus rambutnya. “eum.” Dia mengangguk dengan mata yang masih setengah tertutup. “omo..! ini sudah pagi?!” tanyanya panik, matanya membulat sempurna. “eoh, wae?” tanyaku bingung. “ottokhae? Appa dan eomma pasti mencariku.” Ujarnya panik. “tenanglah, semalam kan aku menjemputmu, orang tuamu mempercayakanmu padaku.” Kataku mengacak rambutnya, dia tersenyum. “jam berapa sekarang?” tanyanya.

jam 9.” Sahutku melirik jam.

mwo?! Kau tidak ke kantor?”

ani.”

wae?”

hari ini aku bebas.”

bebas?”

appa memberikan ijin padaku untuk santai hari ini.”

hajiman wa-“ cup~ aku membungkam bibirnya dengan bibirku.

jangan bertanya lagi, eoh?” ujarku setelah melepas ciumanku, dia mengangguk dengan wajah memerah, entah sejak kapan aku sangat menyukai ekspresinya yang seperti ini.

mandilah, hari ini aku akan membawamu kemana pun kau mau.”

eum.” Jiyeon mengagguk dan segera mandi.

 

Hari ini aku membawa jiyeon berjalan-jalan, kami pergi ke berbagai tempat hingga sore, katanya dia ingin melihat matahari terbenam di pantai. “jiyeon~aa.” Panggilku. “eum.” Dia menoleh. “orang yang berjanji padamu untuk datang kembali ketaman bersamamu, itu adalah aku.” Ujarku, dia menatapku kaget. “apa kau sudah tahu?” tanyaku, dia tersenyum dan mengangguk. “mwo? Kau sudah tahu dan kau tidak memberitahuku?” tanyaku kesal. “aku takut, aku takut kau tidak bisa mengingatku dan itu malah membuatmu menderita.” Sahutnya. Aku terhenyak mendengarnya, jiyeon sangat mencintaiku, dia tidak ingin aku menderita sedangkan aku, sebelumnya aku selalu menyakitinya. “mianhe.” Hanya itu yang mampu kuucapkan. “jeongmal mia-“ ucapanku terhenti saat jiyeon menempelkan jari telunjuknya di bibirku. “jangan mengatakannya lagi, eoh?” ujarnya lembut. “Tao~ya.”

uhm.”

kau mencintaiku?”

eoh. Saranghae.”

andwaeyo. Kau tidak boleh mencintaiku.”

wae?” tanyaku heran, jiyeon malah tersenyum.

karena kau memang tidak boleh mencintaiku, berjanjilah untuk tidak mencintaiku dan hiduplah bahagia.” Ujanya tenang, aku menatapnya bingung. “eo..! mataharinya sudah mulai terbenam.” Serunya menatap matahari yang mulai terbenam. Kuperhatikan wajahnya yang terkena cahaya dari matahari yang mulai terbenam, yeoppo dan pucat,, “tao~ya.” panggilnya memuyarkan lamunanku. “uhm.” Sahutku. “bisakah kau tersenyum untukku?” tanyanya. Kenapa hari ini jiyeon begitu aneh? “wae?” aku balik bertanya. “aku ingin melihatmu tersenyum untukku.” Katanya, aku menurutinya, tersenyum untuknya, mulai sekarang senyumanku milikmu jiyeon~aa. “gomawoyo. Kajja. Hari sudah malam.” Ajaknya. Aku pun mengantarkannya pulang.

 

Keesokan harinya…

 

Aku merapihkan dasiku didepan cermin, aku ingin terlihat baik didepan jiyeon. Drrrtt drrrtt “yobosaeyo.”

Tao~ya, sejak semalam jiyeon tak sadarkan diri dan sekarang dia sedang di rawat di rumah sakit.”

ye? Gurae, aku akan segera kesana eommonim.” Ttuuutt, aku segera melaju kerumah sakit, jiyeon~aa, kenapa kau selalu seperti ini heoh? Aku mempercepat laju mobilku hingga tiba di rumah sakit. Aku berlari mencari kamar tempat jiyeon dirawat, disana sudah ada orang tua jiyeon dan sahabat-sahabatku, aku melangkahkan kakiku menuju ranjang tempat jiyeon berbaring, aku duduk di kursi sambil mengelus rambut jiyeon. Jiyeon~aa, bisakah kau membuka mata mu dan tersenyum padaku seperti kemarin?

 

————–

Hari ini adalah hari kedua jiyeon koma, aku kembali menjaganya dirumah sakit. Kugenggam erat tangannya. “jiyeon~aa, jebal bukalah matamu, tersenyumlah untukku heum..?” diam,, tak ada jawaban kecuali suara mesin pendetektor detak jantung. Tes~ air mataku tak dapat kubendung lagi, ketakutan semakin menghampiriku setelah mendengar apa yang dibicarakan dokter dengan orang tua jiyeon, katanya kondisi jiyeon sudah sangat buruk dan harapan hidupnya sangat kecil. “jiyeon~aa, bangun dan katakan padaku kau baik-baik saja eoh?” kataku. “tao~ya.” panggil orang tua jiyeon yang datang bersama sahabat-sahabatku. “relakan jiyeon, ne?” ujar eommonim membuat hatiku seperti diiris pisau, perih. Bagaimana mungkin aku… jiyeon~aa, apa kau juga memintaku untuk merelakanmu? Aku menatap jiyeon yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. “kami juga akan merelakannya” kata abeonim. Aku berbalik menatap jiyeon, menggenggam tangannya, mengelus rambutnya dan mengecup keningnya. “saranghae, jiyeon~aa.” Bisikku dan sedetik kemudian bunyi memekakan telinga dari mesin detector jantung membuatku terduduk lemas, garis lurus dilayarnya menyadarkanku kalau jiyeon sudah pergi meninggalkanku untuk selamanya.

 

————–

 

Setelah selesai upacara kematian jiyeon, eommonim memintaku datang kerumah dan memberikanku sebuah diary milik jiyeon. Aku duduk di taman tempatku dan jiyeon bermain dulu, ku buka perlahan lembar demi lembar diary jiyeon.

 

 

Hari ini aku bertunangan dengan Tao oppa, senang? Tentu saja, akhirnya aku bisa bersama namja yang ku tunggu selama 11 tahun, namja yang berjanji akan bertemu kembali denganku, tapi kurasa dia sudah lupa denganku karena sikapnya begitu berbeda, dia sangat kasar padaku, hari ini dia tidak menganggapku, untung ada sehun, dia mengajakku mengobrol, tapi tetap saja aku tidak bisa berhenti memperhatikan Tao oppa yang sibuk dengan yeojachingunya, sakit rasanya hatiku. Hajiman, gwenchana, aku harus tetap kuat di sisa-sisa hidupku sebelum penyakit menyebalkan ini benar-benar membunuhku, aku harus tetap kuat demi tao oppa.

 

 

Sudah 3 hari aku tidak datang membawakan bekal ke kantor tao oppa, aku terbaring lemas dirumah sakit karena penyakit menyebalkan ini, bosan, aku sangat bosan, untung saja setiap hari sehun selalu menemaniku, dan malam ini, baekhyun oppa, cheonyeol oppa dan suho oppa datang menghiburku, mereka sungguh baik.

 

Jadi… waktu itu, waktu aku mengajak mereka untuk keluar, mereka menolaknya karena mereka pergi menemani jiyeon di rumah sakit..?

 

Yeah. Akhirnya hari ini aku bisa keluar dari rumah sakit, aku buru-buru pergi ke kantor tao oppa, saat di perjalanan aku melihat yeojachingu tao oppa sedang bermesraan dengan namja lain, sesampai dia kantor tao oppa aku memberitahukan hal itu padanya tapi dia malam memarahiku, sakit, sangat sakit rasanya saat tao oppa membentakku dan membela suzy dihadapanku.

 

Mianhe~, mianhe jiyeon~aa……

 

hari ini aku mengajak tao oppa jalan-jalan, aku mengajaknya ke taman tempat kita bermain dulu, tapi sepertinya dia tidak mengingatnya, dia benar-benar sudah melupakanku. Tapi hal yang sungguh menakjubkan terjadi, tao oppa memanggil namaku dan mengantarkanku pulang..!! huaa.. aku sangat senang.

 

Apa aku begitu berarti bagimu jiyeon~aa…?

 

Aish..!! aku semakin membenci penyakit ini, gara-gara penyakit ini aku jadi tidak bisa membawakan bekal untuk tao oppa, setelah chek up di rumah sakit bersama sehun, malam ini aku pergi menemui tao oppa tapi ternyata dia sudah tidur… -_-

 

Jadi hari itu dia sakit…? Dan yang pergi menemaninya sehun, bukan aku.. betapa bodohnya aku..

 

Wuaahh rasanya sudah lama aku tidak menulis di diary ini, tentu saja, aku koma selama 1 minggu jadi tidak sempat menulis di sini. Huaahh, aku sangat merindukan tao oppa, jadi hari ini aku pergi menemui tao oppa di kantornya dan dia memelukku..!! apa aku bermimpi?! Ani, ini kenyataan, tao oppa benar-benar memelukku…!!! Jjang..!! hihi

 

Tes~ air mataku yang sedari tadi kubendung jatuh begitu saja. Kututup buku diary jiyeon, aku tidak sanggup membaca lembar terakhir yang dia tulis. Aku kembali teringat saat-saat dimana aku membentaknya, memarahinya. Menyesal. Itulah yang kurasakan sekarang, aku sangat menyesal telah bersikap bodoh dan menyia-nyiakan yeoja yang sangat mencintaiku. Jiyeon~aa, inikah caramu menghukumku? Kau membuatku benar-benar merasa buruk. Mianhe jiyeon~aa, jeongmal mianhe.

 

The END

 ottae??? mian kalo gaje.. 😀 ini oneshoot buat ingisi waktu nungguin lanjutan FF ku yang nunggak (?) hehehe.. mohon meninggalkan jejak.. 🙂

 

The Return of EXO planet part 3

The Return of EXO planet part 3

 

Author : choi hee young

Length : chaptered

Rating : PG-16

Genre : fantasy, romance (maybe)

Cast :

EXO members (especially sehun, kai, baekhyun, tao dan luhan, soalnya mereka bias aku, :3 hehe :D)

Park ji yeon T-ARA

Support cast :

Krystal f(x)

Backsound :

EXO – MAMA

EXO – into your world (Angel)

EXO – History

EXO – Machine

Di setiap chapter Author bakalan tetep ingetin kalo disini ceritanya jiyeon, tao dan D.O seumuran sama krystal, kai dan sehun, biar para reader ga pada bingung. Dan di ff ini Author masukin tentang kekuatan-kekuatannya para member EXO sesuai yang di MV mama.

~Author POV~

Aura ini, semakin terasa kuat.’ Batin kai. “sehun~aa, apa kau merasakannya?” Tanya kai dan sehun langsung menoleh dengan tatapan kaget. “kau..” sehun tak tau harus berkata apa. “apa yeoja itu..?” Tanya kai lagi sambil memandang jiyeon yang sibuk memperhatikan penjelasan song seonsaeng, sehun hanya mengangguk. “kau tidak akan membertahu kris hyung dan yang lain kan?” Tanya sehun cemas. “wae?” Tanya kai. “aku hanya khawatir kalau mereka tahu, mereka akan langsung membawa jiyeon ke planet EXO.” Jelas sehun. “jadi namanya jiyeon.” Gumam kai. “gurae, aku juga belum mau pulang ke planet EXO.” Ujar kai santai dan menoleh sekilas kearah krystal dan tersenyum tipis. “kemana Tao dan D.O?” bukannya mereka juga seharusnya ikut kelas ini dengan kita?” Tanya sehun. “kata Tao dia sedang malas dia akan ke kampus nanti setelah kelas ini selesai, kalau D.O, dia masih tidur.” Jawab kai seadanya. “mwo? Kenapa kau tidak membangunkannya?” Tanya sehun kesal. “shireo, kau tahu sendirikan bagaimana D.O kalau tidurnya diganggu? Bisa-bisa dia membuat gempa.” Kai bergidik ngeri, yah menginggat kalau D.O adalah sang pengendali bumi (tanah, bebatuan dll.) sebuta saja kekuatannya itu Terrakinesis, dia bisa saja menimbulkan gempa atau getaran lainnya dari dalam tanah. Sehun hanya membuang nafas berat. Dua jam berlalu, dan kelas song seonsaeng pun selesai, para mahasiswa berhamburan keluar ruang kuliah. “huaah akhirnya selesai juga.” Krystal merentangkan kedua tangannya. “uhm, krystal~aa, aku duluan ya.” ujar jiyeon merapihkan bukunya dan dengan segera pergi, sehun tak kalah cepat juga mengejar jiyeon keluar ruang kuliah. “y, ya. jiyeon~aa.” Krystal hendak mengejar jiyeon. “chogi.” Ujar kai menghentikan langkah krystal. “ne, cheoyo?” Tanya krystal menunjuk wajahnya sendiri. “eoh.” Kai mengangguk mantap. “ada apa?” Tanya krystal. “chingu mu tadi..” ucap kai terhenti. “jiyeon maksudmu? wae? Kau menyukainya?” Tanya krystal bertubi-tubi. “ne?” kai memasang tampang bingung. “lupakanlah, kalau kau benar-benar menyukainya, sudah banyak namja yang menembaknya tapi semuanya ditolak, beritahu juga pada chingu mu itu, uhm,, sehun, beritahu pada chingumu itu, untuk berhenti mengejar jiyeon, tak ada gunanya, jiyeon pasti akan menolaknya. Menyerahlah, ne?” jelas krystal panjang lebar sedangkan kai hanya melongo dan sedetik kemudian tersenyum ataulebih tepat ia sedang menahan tawanya. “jadi kau pikir aku menyukai jiyeon?” Tanya kai memperjelas. “eoh, gureom. Bukankah dia sangat cantik, kau pasti tertarik dengannya kan, mahasiswa baru..??” Tanya krystal. “namaku Kai.” Ujar kai mengulurkan tangannya. “krystal.” Krystal menjabat tangn kai seketika senyum diwajah kau memudar ‘soojung~aa, neo eodiya?’ batin kai. “gureom, na khalgae (aku pergi)” krystal pergi meninggalkan kai yang masih diam terpaku.

—————

~sehun POV~

ya. changkaman.” Aku terus mengejar jiyeon, sungguh yeoja ini benar-benar.. “ya. park jiyeon.” Panggilku dan akhirnya dia menoleh. “mau apa lagi kau?” tanyanya dingin, membuatku benar-benar penasaran. Aku tersenyum dan berjalan mendekatinya.

~jiyeon POV~

Sehun tersenyum berjalan mendekatiku, aku sudah tidak tahu lagi bagaimana kerja jantungku saat melihatnya tersenyum seperti itu, seperti sesuatu bergemuruh dalam hatiku. Kini dia sudah berdiri tepat di depanku dan masih tersenyum, tidak bisakah dia berhenti tersenyum seperti itu?! Aish..! “tidak bisakah kau berhenti bersikap dingin?” tanyanya membuat kesadaranku kembali sepenuhnya. “m, mwo?” tanyaku bodoh dan lagi-lagi dia tersenyum, ya oh sehun, kau bisa membuatku kena serangan jantung. “aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat, tidak bisakah kau berhenti bersikap dingin padaku?” tanyanya lagi berhasil membuatku terpaku, rasanya seperti kakiku sudah tidak menapak di lantai lagi, sadar jiyeon!! “a, apa yang kau bicarakan?” ucapku setelah mengembalikan kesadaranku sepenuhnya. “berhenti menggangguku.” Kataku pergi meninggalkannya. Apa ini?? jantungku, ku mohon bekerjalah secara normal.

~sehun POV~

Aku menatap jiyeon yang sudah berjalan menjauhiku, park jiyeon, mari kita lihat berapa lama kau bisa sedingin itu padaku.

~baekhyun POV~

Aku sedang berjalan dikoridor kampus dan hendak ke ruang kuliah, di sana cheonyeol dan chen sudah menungguku. Tapi mataku menangkap sosok seorang yeoja cantik yang kini tengah berjalan tak jauh di depanku. “jiyeon.” Gumamku hendak menyapanya namun..

~Tao POV~

Aku berjalan di koridor dengan kesal, bagaimana tidak, hari ini saat aku baru saja memasuki gerbang kampus, aku sudah dihadang oleh 5 orang yeoja bermake up tebal, salah satu dari mereka yang mereka panggil hyuna itu menghampiriku dan seenak jidatnya menciumku. “cih, dasar murahan.” Umpatku kesal berjalan menyusuri koridor kampus dan BRUKK. Great!! Seseorang baru saja menabrakku. Aish!! Menyebalkan. Aku menoleh dengan wajah kesal, ternyata yang menabrakku adalah seorang yeoja. Pasti dia sengaja dan hanya ingin menciumku seperti yang dilakukan oleh hyuna sialan itu. “jeseongham-“ ujarnya terpotong karena aku menatapnya tajam dan merendahkan.

~jiyeon POV~

Aku berjalan menjauhi sehun sambil menunduk dan memegang dada kiriku tempat jantungku bersarang, gara-gara dia jantungku berdetak sangat cepat, huu. BRUKK.. aku menabrak seseorang aku langsung bangkit, ternyata yang kutabrak adalah seorang namja, dia menoleh dengan wajah kesal. “jeseongham-“ kataku terpotong karena namja itu menatapku tajam dan,,, apa ini? dia memandangku dengan pandangan merendahkan?! Seketika darahku naik ke ubun-ubun. “ya! kenapa kau menatap ku seperti itu?” tanyaku kesal. “wae? Bukankah kau memang pantas di pandang seperti itu?” tanyanya balik meremehkan. “mworago?!” kataku dengan suara yang kunaikan satu oktaf, aku tidak peduli lagi dengan orang-orang yang sudah menatapku.

~Author POV~

Sehun dan baekhyun melihat apa yang terjadi antara jiyeon dan Tao, sehun hendak menghampiri jiyeon dan Tao tapi bahunya di tahan oleh kai yang entah sejak kapan berdiri di belakangnya, sehun menoleh dan kai hanya menggeleng mengisyaratkan agar sehun tetap diam di tempat, sedangkan baekhyun masih diam di posisinya memperhatikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Tao menatap jiyeon, “bukankah kau sama dengan yeoja-yeoja murahan itu? Kau sengaja menabrakku dan ujung-ujung menciumku.” Kata Tao membuat jiyeon terbelalak. “MWO?” jiyeon semakin emosi. “gurae, kalau itu maumu.” Ujar Tao mendekatkan wajahnya pada jiyeon dan PLAKK sebuah tamparan dari jiyeon mendarat mulus di wajah tampan Tao membuat baekhyun, sehun dan kai terbelalak melihatnya. Tao memegang pipinya yang baru saja di tampar oleh jiyeon dan menatap jiyeon tajam.

~jiyeon POV~

Namja itu menatapku tajam, seketika aku merasa seperti waktu berhenti berputar dan aku merasa semua kegiatan di sekelilingku terhenti seperti hanya aku dan namja ini yang sedang bernafas, a, ada apa ini?

~Author POV~

Tao sepertinya sudah sangat kesal, tanpa sadar dia mengeluarkan kekuatannya sebagai Time controller, membuat waktu berhenti berputar dan semua kegiatan di sekelilingnya juga ikut berhenti, tapi tidak dengan baekhyun, sehun dan kai, mereka tidak terpengaruh dengan kekuatan Tao menghentikan waktu anehnya jiyeon juga tidak ikut terpengaruh oleh kekuatan Tao membuat Tao terperangah begitupun dengan sehun, baekhyun dan kai. ‘dia.. tidak terpengaruh oleh kekuatanku?’ batin Tao. ‘kenapa jiyeon tidak terpengaruh oleh kekuatan Tao?’ itulah pertanyaaan yang muncul di benak baekhyun, sehun dan kai dengan ekspresi kaget mereka menatap jiyeon yang masih berdiri di hadapan Tao. Kai menggunakan kekuatan Teleportation nya untuk berpindah tempat di depan Tao tepat di belakang jiyeon, kai memberi kode pada Tao agar Tao segera mengembalikan keadaan dan pergi dari sini, dan Tao pun menurut, dia segera menjalankan kembali waktu yang sempat berhenti berputar lalu ia pergi dari hadapan jiyeon namun sebelum pergi Tao sempat mengatakan pada jiyeon “kau, kau orang pertama yang berani menamparku, ku pastikan kita akan bertemu lagi.” Ucap Tao, saat itu Tao benar-benar merasakan aura yang sangat kuat terpancar dari jiyeon. Sementara jiyeon masih terdiam di tempatnya sampai seseorang menepuk pundaknya, orang itu adalah baekhyun jiyeon kaget dan dengan spontan menoleh. “kau..” ujar jiyeon. Baekhyun tersenyum manis sangat manis. “baekhyun imnida, kau masih ingat aku?” Tanya baekhyun. “eoh, gomawo telah menolongku waktu itu baekhyun~ssi.” Sahut jiyeon. “gwenchana.” Baekhyun tersenyum lagi. “jiyeon~aa. Bisa aku panggil kau seperti itu?” Tanya baekhyun tanpa menghilangkan senyum manis diwajahnya. “ne? eoh.” Jiyeon mengangguk dan kali ini baekhyun tersenyum senang. “kau sudah makan siang?” Tanya baekhyun, jiyeon menggeleng. “gureom, kajja, aku juga belum makan.” Ajak baekhyun ‘ini kesempatan langka, biarlah kali ini aku tidak ikut kuliah.’ Batin baekhyun menarik lembut tangan jiyeon mengikuti langkahnya.

~baekhyun POV~

Aku masih menggenggam tangan jiyeon berjalan menyusuri koridor menuju kafetaria kampus. Jiyeon pun diam, entahlah, aku sekarang merasa sangat senang saat jiyeon membiarkan tangannya di genggam olehku. Kini kami telah sampai di kafetaria. “kau mau makan apa jiyeon~aa?” tanyaku, namun dia masih diam. “jiyeon~aa, wae gurae?” tanyaku memegang tangannya. “n, ne?” tanyanya tersadar. “aniyo.” Lanjutnya. Aku pun tersenyum. “jadi kau mau makan apa?” tanyaku lagi. “samakan denganmu saja.” Sahutnya.

~jiyeon POV~

Kini aku sedang menyantap makan siangku di kafetaria bersama baekhyun. Tapi apa dia tidak punya kelas sekarang? “baekhyun~ssi, apa kau tidak punya kelas sekarang?” tanyaku. “ne? eum.. eobbseo.” Sahutnya tersenyum tanpa beban, membuat orang yang melihat senyum itu ikut merasa tanpa beban. “ah, bukankah aku lebih tua setahun darimu? Panggil aku oppa ne?” ujarnya. Mwo? “e, gurae.” Aku mengangguk dan dia lagi-lagi tersenyum. Aku masih terus memperhatikan wajah baekhyun oppa yang sangat jelas tepat berada di depanku. Changkaman. Wajah baekhyun oppa seperti… omo!! d, dia.. baekhyun oppa, adalah salah satu dari 12 namja di mimpiku!! Ada apa ini sebenarnya?? Pertama sehun, kedua, luhan, ketiga kai dan sekarang baekhyun opaa tunggu, namja yang tadi kutampar!! Matta!! Wajahnya juga ada di mimpiku!! Dia juga salah satu dari 12 namja itu!! I,IGE mwoya?!?!?! “jiyeon~aa.” Aku merasa sesuatu yang lembut menyentuh permukaan tanganku, aku tersadar dan menatap baekhyun oppa yang sekarang memegang tanganku. “neo wae gurae? Dari tadi kau sepertinya sedang memikirkan sesuatu.” Ujarnya. “aniya, nan gwenchana.” Sahutku dan baekhyun oppa tersenyum padaku. “hyung.” “baekhyun.” Kudengar dua orang namja di belakangku memanggil baekhyun oppa. “sehun~aa, luhan hyung.” Sapa baekhyun oppa. Sehun?? Luhan?? Aku menoleh dan mendapati kedua namja itu berdiri di belakangku. “jiyeon.” Panggil mereka bersamaan.

~Author POV~

jiyeon.” Panggil sehun dan luhan bersamaan, baekhyun dan sehun menatap heran, setahu mereka hanya mereka berdua yang mengenal jiyeon. Jiyeon masih melongo saat sehun dan luhan kini duduk satu meja dengannya dan baekhyun. ‘M, mereka saling mengenal satu sama lain?? Ada apa ini sebenarnya??’ batin jiyeon bertanya-tanya, namun yang anehnya luhan tak dapat membaca pikiran jiyeon walau sedari tadi dia berusaha membaca isi pikiran jiyeon, luhan tetap tidak berhasil tapi sedetik kemudian luhan tersenyum menatap jiyeon. “jadi kau sekelas dengan sehun?” Tanya luhan. “eoh.” Sahut jiyeon singkat dan memang begitulah jiyeon, yeoja cantik namun selalu bersikap dingin kecuali pada sahabatnya krystal. “hyungdeul, sehun.” Lagi-lagi sebuah suara membuat jiyeon menoleh pada pemilik suara yang memanggil luhan, baekhyun dan sehun, ternyata namja itu adalah kai yang sedang berjalan mendekati mereka dibelakangnya ada Tao, ini sudah kesekian kalinya jiyeon menerima kejutan yang tak terduga dari namja-namja yang baru sekali ia temui. ‘kai,, dia mengenal baekhyun, dan luhan? Dan siapa itu? Mwo?! Namja itu!!’ jiyeon membulatkan matanya menatap Tao yang berdiri dibelakang kai, mereka sudah berada tepat di samping meja tempat jiyeon makan. “NEO!!” sentak jiyeon dan Tao membuat luhan menatap heran sedangkan kai, sehun dan baekhyun terlihat biasa karena mereka tahu kejadian saat jiyeon menampar Tao. Jiyeon dan Tao saling menatap dengan tajam. “Tao~aa, kau juga mengenal jiyeon?” Tanya luhan. “jiyeon?” Tao mengerutkan keningnya. “maksudmu yeoja ini.” tunjuk Tao pada jiyeon dan dengan cepat jiyeon menepis telunjuk Tao. “jangan pernah menunjukku.” Ucap jiyeon sinis dan dibalas tatapan tajam dari Tao. ‘sekarang aku yakin, yeoja inilah sumbernya.’ Batin mereka berlima yang sedari tadi sudah merasakan Energi yang sangat besar saat berada di dekat jiyeon. “kajja.” Sehun menarik lengan jiyeon membawanya pergi sebelum jiyeon kembali bertengkar dengan Tao. Jiyeon tidak memberontak saat sehun menarik lengannya untuk pergi dia msih terus memikirkan apa yang sebenarnya sedang terjadi sekarang, tiba-tiba rasa takut menjalar keseluruh tubuh jiyeon, tangannya bergetar membuat sehun menoleh dan mendapati wajah jiyeon yang pucat. “gwenchana?” Tanya sehun saat mereka sudah berada di parkiran, jiyeon tak menyahut tangannya masih bergetar dan wajahnya pucat. “jiyeon~aa, gwenchanayo?” Tanya sehun memegang wajah jiyeon. “s, siapa kalian sebenarnya?” Tanya jiyeon dengan nafas tercekat. “apa maksudmu?” Tanya sehun tak mengerti. “kau, luhan, baekhyun oppa, kai dan namja itu. Siapa kalian sebenarnya heoh?” Tanya jiyeon lagi. “k, kau..” sehun kehabisan kata-kata, dia tidak bisa menjelaskan semua itu sekarang. “kalian… bagaimana bisa kalian ada di sini? Kenapa kalian tiba-tiba hadir dikehidupan nyataku??” ujar jiyeon lagi semakin membuat sehun bingung. “kehidupan nyata? Maksudmu?” Tanya sehun bingung. “kau.. wajahmu.. kau namja yang selalu muncul di mimpiku bersama 11 namja lainnya, luhan, baekhyun oppa, kai, dan namja itu, tao, adalah salah satu dari 11 namja itu.”jelas jiyeon dengan suara bergetar, tergambar jelas kalau dia sekarang sedang ketakutan dan bingung. ‘aku dan 11 namja? Apa yang di mimpi itu adalah 12 orang yang di utus untuk mencari sumber energi itu? Apa maksudnya itu aku dan 11 chinguku?’ batin sehun. “s, siapa kalian sebenarnya?” lirih jiyeon, sehun mendekap jiyeon, di rasakannya tubuh yeoja itu bergetar ‘setakut ini kah dia? Mianhe jiyeon~aa’ batin sehun. “tenanglah.” Ujar sehun mengusap rambut jiyeon. “kelak kau akan bertemu dengan 7 namja lagi, jangan seperti ini lagi heoh? Kau harus bisa menghadapi semuanya.” Lanjutnya jiyeon mendongakan wajahnya menatap sehun. “maksudmu… ke12 namja itu adalah kau, baakhyun oppa, luhan, kai, tao dan 7 chingumu lagi?” Tanya jiyeon dan mendapat anggukan dari sehun. “ada apa ini sebenarnya sehun~aa?” Tanya jiyeon mulai frustasi namun sehun malah kembali memeluknya. “kau akan tahu nanti.” Ujarnya.

~jiyeon POV~

ada apa ini sebenarnya sehun~aa?” Tanyaku mulai frustasi namun sehun malah kembali memelukku. “kau akan tahu nanti.” Ujarnya. Aku tidak meronta saat dia memelukku atau lebih tepatnya aku tidak mampu untuk memberontak, jantungkku berpacu terlalu cepat, pelukannya hangat, membuatku tenang dan sedikit melupakan ketakutanku. Kenapa ini? jantungku, kumohon kembalilah bekerja secara normal.

~sehun POV~

ada apa ini sebenarnya sehun~aa?” Tanya jiyeon mulai frustasi, aku kembali memeluknya. “kau akan tahu nanti.” Ujarku. ‘mianhe jiyeon~aa.’ Jiyeon diam dalam pelukanku, dia tidak memberontak sama sekali, aku senang sepertinya dia sudah sedikit tenang. Tapi kenapa ini? darahku seperti mengalir begitu cepat saat memeluk jiyeon.

~Author POV~

Tanpa mereka sadari ternyata sedari tadi sepesang mata tengah memperhatikan mereka.

TBC

cuma satu kata… KOMEN… jebal,, eum..?? *puppy eyes hehehe

[Oneshoot] My True Love

[Oneshoot] My True Love

 

Author : choi hee young

 

Length : oneshoot

 

Genre : romance, friendship

 

Cast :

Park Jiyeon T-ARA

Oh Sehun EXO-K

Xi Luhan EXO-M

 

Backsound : NS yoonji – the reason I become a witch

 

annyeong reader ku tercintaaaaa 😀 #cipok :* aku bawain FF oneshoot buat ngisi waktu nungguin lanjutan FF ku yang lain.. buat running up yang sabar ya nunggunya. 😀

 

   ~Jiyeon POV~

Annyeong.. namaku park jiyeon, biasa di panggil jiyeon, aku hanya yeoja biasa berumur 17 tahun yang mempunyai satu cita-cita yaitu……. Menjadi yeojachingu oh sehun, namja idamanku sekaligus temanku hehe. Aku berteman dengannya sejak kelas 1 SMA di teman pertamaku dan itu berarti aku sudah 3 berteman dengannya karena sekarang aku kelas 3 SMA yang sedang tidak sabar menunggu pengumuman kelulusan, aku sungguh tidak sabar menunggu hari itu datang karena pada hari itu aku bertekad untuk menembak sehun, namja idamanku, huaaaahh cita-citaku sebentar lagi akan tercapai *Author : yakin amat sih lu yeon bakal di terima sehun. :p Jiyeon : kan elu yang nyuruh gue ngomong gitu thor -_- :p #abaikan* ok, mungkin aku Cuma yeoja yang sangat biasa bahkan sebagian teman-teman sekolahku mengatakan aku ‘aneh’ dan ‘culun’ ne, aku memang culun, kalian bisa bayangkan penampilanku, baju kebesaran yang ku masukan kedalam rok besarku, kaca mata tebal dan besar menghiasi wajahku, rambutku yang selalu ku kepang 2 dan kawat gigi yang bertengger di gigiku tapi aku tidak peduli karena sehun tetap berteman denganku, dia mau menjadi temanku selama tiga tahun sedangkan teman-temanku mencibirku, apa itu berarti dia menyukaiku?? Huaaa, semoga saja. hihi

 

—————–

 

   ~Jiyeon POV~

Kyyaaaa.. kalian tahu hari adalah apa?? Hari ini adalah hari pengumumuman kelulusan, huaaaaa aku sungguh tidak sabar untuk menyatakan cintaku pada sehun, kalian pasti bertanya kenapa aku tidak memikirkan soal hasil pengumumuman? Haaa aku tidak peduli, asal sehun menjadi pacarku, hahaha. Ok, sekarang aku melangkahkan kakiku dengan mantap ke papan pengumuman tempat sehun berdiri. “sehun~aa.” Sapaku, dia menoleh, wuaah tampan sungguh tampan. “eoh, jiyeon~aa, kau sudah lihat hasil pengumuman?” tanyanya tersenyum. “belum. Ini aku baru mau melihatnya.” Sahutku. “eoh.” Dia mengangguk, ya tuhaann kenapa bisa ada mahluk sesempurna oh sehun. Aku melihat papan pengumumun sambil berdesak-desakkan. Aww, kakiku terinjak seseorang. Haahh sudahlah, kalaupun aku marah pasti orang itu hanya akan mencibir, aduuuhh apayo. “omo. mianhe, aku tidak sengaja, gwenchana?” ujar orang yang menginjak kakiku. Aih, dia meminta maaf? Ahh, sudahlah. “eoh.” Sahutku tanpa menatapnya, aku kembali fokus kepapan pengumuman. Kulihat namaku tertera disana dan….. “kyaaaaa….. AKU LULUS.” Teriakku girang. Aku segera berlari menghampiri sehun yang sedang mengobrol dengan teman –temannya.

 

 

   ~sehun POV~

Aku sedang mengobrol bersama teman-teman satu bandku, cheonyeol, baekhyun, suho, dan lay. “omo. sehun~aa, yeojachingumu datang. Kkk~” seru cheonyeol terkekeh, aku menoleh dan mendapati jiyeon sedang berlari kearahku. “ya. dia bukan yeojachinguku.” Sentakku. Selalu seperti ini, teman-temanku selalu meledekku dengan mengataiku berpacaran dengan yeoja culun dan siapa lagi yeoja itu kalau bukan jiyeon, dan aku selalu menjawab kalau aku hanya berteman dengan jiyeon dan dia tidak mungkin menjadi yeojachinguku, dan memang seperti itulah perasaanku, aku hanya menganggapnya………. Chingu, ne, just friend. Ahh molla. “sehun~aa, bisa kita bicara sebentar?” Tanya jiyeon. “eoh, ne.” aku mengangguk, jiyeon berjalan mendahuluiku. “sehun~aa, selamat berkencan. Kkkk~” ledek lay. “ya. kami itu cum-“ “Cuma teman? Ara.. haha.” Baekhyun memotong perkataanku. “palli kha. Chingumu itu sudah menunggu.” Ujar suho dengan nada meledek. Aish. Jinjja.

 

   ~jiyeon POV~

Woaahh.. jantungku berdegup kencang saat ini, sebentar lagi aku akan menyatakan cintaku pada sehun. Huuaahh.. hihihi sekarang aku dan sehun sudah berada di taman sekolah dan hanya berDUA. “ehm.” Aku berdehem. “sehun~aa.” Panggilku. “ada apa? Apa yang ingin kau bicarakan?” Sahutnya. “eehhmm.. sehun~aa, saranghaeyo.” Huffttt leganya telah mengatakannya. Aku melihat ekspresi sehun, dia kaget. Jebal~ bilang ‘nado saranghae’ jebal.. “e, mianhae jiyeon~aa.” DEG! Dia menolakku? “aku..” ujarnya lagi. “aku tidak bisa berpacaran denganmu, itu tidak mungkin dan tidak akan pernah terjadi karena….” Ucapnya terpotong. “karena aku tidak menyukaimu, dan sampai kapan pun aku tidak akan pernah menyukaimu.” Rasanya sekrang seperti ribuan pisau menusuk dadaku, merecoki hatiku hingga tak berbentuk lagi. “wae?” hanya itu kata yang mampu keluar dari mulutku. “e.e.e..ee ya. sadarlah. Aku, oh sehun tidak mungkin berpacaran denganmu, park jiyeon, yeoja yang, yang bahkan… tidak cantik dan.. pokoknya kau bukan tipeku.” Sahutnya terbata. Mataku terbelalak, inikah sehun yang sebenarnya? Ku pikir dia tidak mempermasalahkan penampilanku. “gurae, gomawo sudah menjadi temanku selama 3 tahun.” Aku pergi meninggalkan sehun, aku tak dapat menahan air mataku lagi. Aku pulang ke apartemenku dengan langkah gontai, neomu apayo. Sekarang aku sendiri, benar-benar sendiri, ku pikir sehun bisa menemaniku, mengisi hari-hariku yang sepi ternyata tidak, di dunia ini tak ada satupun yang peduli denganku, bahkan appa dan eomma pun tidak peduli denganku, mereka lebih memilih bisnis mereka dibanding denganku anak yang memang tidak pantas untuk dibanggakan, tidak pintar dan juga tidak cantik. Tangisku semakin menjadi menyadari sekarang aku benar-benar sendiri dan tidak berarti. Aku membaringkan tubuhku di ranjang.

 

——————-

 

   ~Author POV~

Seminggu sudah jiyeon seperti ini, uring-uringan tak jelas dan hanya berdiam diri di dalam apartemennya padahal seminggu lagi dia akan mulai menjalani ospek di kampus barunya.

 

   ~Jiyeon POV~

Aku menatap diriku di cermin, begitu menyedihkannya kau park jiyeon, rambut acak-acakan mata sembab dan penyebab semua itu adalah Oh sehun namja yang telah meluluh lantahkan hatiku. Apa dia tahu keadaanku seperti ini setelah dia menolakku mentah mentah dan malah menghinaku?! Ku pikir dia berbeda, ternyata, cih, semua laki-laki sama, mereka hanya melihat penampilan. Gurae, akan kubuat kalian menyesal karena hanya menilai seorang yeoja dari penampilan, yeoja cantik belum tentu bisa membuatmu bahagia. “ireona jiyeon~aa. HWAITING..!” aku menyemangati diriku sendiri.

 

6 bulan kemudian….

 

   ~Author POV~

Seorang yeoja cantik dengan penampilan stylish berjalan di koridor chungdam university, rambut coklat panjangnya dibiarkan tergerai, matanya yang indah memandang lurus kedepan, hanya satu kata yang dapat mendeskripsikannya, sempurna, matanya yang indah, hidungnya yang mancung, bibirnya mungil berwarna pink, kulit putih susu yang mulus, body yang seperti super model yeoja itu adalah park jiyeon, semua orang yang mengenalnya saat SMA pasti berpikir dia oprasi plastic tapi itu salah, karena memang beginilah wajahnya dan tubuhnya, hanya saja, dulu dia terlalu bodoh untuk tidak menunjukannya, matanya yang indah tertutupi oleh kaca mata tebal dan besar, bibirnya yang mungil terganggu oleh kawat gigi yang kini sudah dilepasnya, body nya yang indah tak terlihat karena dia selalu memakai pakaian yang kebesaran dan soal kulitnya yang semakin mulus dan putih itu karena dia sering mandi susu dan memakai lulur, jadi jelaskan, kalau jiyeon memang pada dasarnya cantik hanya dia baru menunjukannya sekarang, setelah 6 bulan lalu seorang oh sehun dengan sombongnya menolak jiyeon. “yeoppoda..” gumam baekhyun menatap jiyeon yang sedang berjalan di koridor. “tapi sayangnya dia sudah jadi milik donghae sunbae.” Cheonyeol mendesah. “mwo? Bukannya dia berpacaran dengan lee joon sunbae?” Tanya lay. “eoh.” Cheonyeol mengangguk. “dia berpacaran dengan keduanya?” Tanya suho heran dan mendapat anggukan mantap dari baekhyun dan cheonyeol. “aigoo~ bagaimana bisa donghae sunbae mau berbagi pacar dengan lee joon sunbae? Ckck.” Ujar lay prihatin. “yang kudengar sih, lee joon sunbae menembak jiyeon dan saat itu juga jiyeon mau memutuskan donghae sunbae karena dia ingin menerima lee joon tapi donghae sunbae tidak mau dan dia rela jiyeon menerima lee joon sunbae, begitu pun dengan lee joon sunbae, dia rela menjadi yang kedua asal jiyeon mau menjadi pacarnya.” Jelas cheonyeol. “aku masih tidak percaya dia adalah jiyeon yang ku kenal saat SMA dulu. Iyakan sehun?” kata suho, sehun hanya diam dan menatap jiyeon yang kini sedang berbicara dengan donghae.

 

   ~Jiyeon POV~

chagiya, kajja kita makan, aku sudah lapar.” Ajak donghae oppa, ketua senat yang sekarang berstatus sebagai namjachinguku. “sunbae..” panggilku, dia menatapku. “wae?” tanyanya lembut, cih. “aku ingin kita putus.” Ujarku. “mwo? Wae? Apa ada namja yang menembakmu lagi?” tanyanya kecewa. “ani. Aku hanya sudah bosan, aku juga sudah memutuskan lee joon sunbae. Mianhe sunbae. Annyeong.” aku pun pergi meninggalkan donghae sunbae. Bagaimana rasanya sunbae? Sakitkah? Itulah yang kurasakan dulu hahaha.

 

   ~sehun POV~

omo! sepertinya jiyeon baru saja memutuskan donghae sunbae, lihatlah wajah frustasi donghae sunbae.” Seru cheonyeol. Aku menatap jiyeon yang sudah pergi meninggalkan donghae sunbae. Yeoja itu.. “benar-benar playgirl.” celetuk lay. “hey, apa itu berarti sekarang dia sudah single? Woaahh.. berarti aku punya kesempatan.” Girang baekhyun. “nado. Haha.” Seru cheonyeol.

 

——————

 

   ~jiyeon POV~

Aku berjalan santai di koridor kampus, kuliahku hari ini sudah selesai, aku juga sudah sangat capek. Dan kalian tahu aku berpapasan dengan siapa? Oh sehun, namja terkutuk yang membuatku seperti sekarang ini, mempermainkan setiap namja yang menyukaiku, aku berjalan melewatinya tanpa menatapnya sedikitpun. “kau benar-benar sudah berubah.” Ujarnya. “mwo?” aku berbalik menatapnya. “kau tidak seperti park jiyeon yang ku kenal dulu.” Lanjutnya. “wae? Bukankah park jiyeon yang dulu membuatmu malu?” tanyaku sinis. “jiyeon~aa.” Panggil seseorang aku menoleh dan mendapati kai sudah berdiri di sampingku. “bisa kita bicara sebentar?” Tanya kai. “gurae, kajja.” Aku pergi bersama kai meninggalkan sehun, rasakan itu oh sehun, ottae? Apa kau menyesal dulu telah menolakku mentah mentah? Sekarang aku dengan mudah mendapatkan namja sepertimu oh sehun, contohnya seperti sekarang ini, seorang kai, namja seangkatan denganku dan sehun yang menjadi salah satu idola para yeoja, sehun dan teman-teman bandnya juga menjadi idola tapi kai berada satu tingkat di atas mereka, dan sekarang seorang kai sedang berdiri dihadapanku memohon cintaku, hahaha, apa kau siap menjadi namjachinguku kai? Hahaha. “jiyeon~aa, bagaimana? Apa kau mau menjadi yeojachinguku?” Tanya kai menggenggam tanganku. “eeuumm, sebenarnya aku sedang tidak ingin pacaran sekarang..” sahutku terlihat wajah kai sangat kecewa. “kai~aa, jangan memasang wajah seperti itu eoh?” aku bersikap manis, tapi ini semua palsu haha. “jiyeon~aa, berikan aku kesempatan ne?” bujuknya, aku diam sejenak. “gurae.” Aku mengangguk.

 

———————–

 

   ~Author POV~

Pagi itu di chungdam university sudah ramai dengan gossip. “hey, kudengar jiyeon sekarang sudah berpacaran dengan kai.” seru suho. “mwo?!” pekik baekhyun dan cheonyeol. “haish. Baru saja aku ingin mendekatinya.” Kata baekhyun lemas. “itu mereka.” Pekik lay menatap kearah jiyeon yang datang bersama kai yang menggandengnya mesra. “omo.. kali ini aku benar-benar minder, lihatlah, kai begitu tampan dan terkenal, sepertinya aku memang tidak akan bisa mendekati jiyeon.” Kata cheonyeol putus asa. “mereka terlihat benar-benar serasi, kasihan sekali kalian berdua.” Suho mengasihani kedua temannya sedangkan sehun menatap jiyeon yang semakin menjauh dari pandangannya.

 

   ~jiyeon POV~

Aku berjalan bersama kai yang sekarang adalah namjachinguku, dia menggandengku mesra di hadapan banyak orang, yeoja-yeoja yang nota bene adalah fans berat kai menatapku sinis, apa-apan itu? Cih, kalau mau silahkan ambil Kai, aku juga tidak butuh, sungguh aku tidak nyaman di pandangi seperti itu. “kai~aa..” panggilku, kai menghentkan langkahnya dan menatapku. “wae?” tanyanya lembut selayaknya namja pada yeojachingunya. “sebaiknya kita putus saja.” Ujarku. “mwo?” tanyanya tidak percaya. “waeyo?” tanyanya lagi. “aku tidak nyaman berpacaran denganmu. mian, kurasa lebih baik kita berteman saja.” Jelasku berlalu meninggalkannya. Haaahh sekarang aku bebas. Tak ada namjachingu yang membuatku repot, haha.. “jiyeon~aa.” Aku menoleh, xiu min sedang berlari kearahku. “wae?” tanyaku. “saranghae, mau kah kau menjadi yeojachinguku?” tanyanya. Ige mwoya? Aish. Ckckckck (-_-). “mianhe xiumin~aa.” Sahutku. “wae? Apa karena kau sekarang berpacaran dengan kai?” tanyanya lagi. “ani. Aku sudah memutuskannya. Aku sekarang sedang tidak ingin pacaran. Mian.” Aku pergi meninggalkan xiumin. Ckckck, dasar namja. “jiyeon~aa.” Oh tuhan, siapa lagi ini.. aku menoleh malas dan ternyata itu Tao ketua panitia penyelenggara PenSi yang akan diselenggarakan oleh kampusku bulan depan. “wae?” tanyaku. “kau di panggil leeteuk saem.” Ujarnya. “memangnya ada apa?” tanyaku bingung. “molla, dia hanya memintaku menghadap bersamamu.” Jelas Tao. “gurae, kajja.” Aku dan Tao pergi menemui leeteuk saem, Pembina penyelenggaraan PenSi.

 

—————–

 

   ~Author POV~

mwo?” pekik jiyeon. “tapi kenapa harus aku saem?” Tanya jiyeon. “kau kan yeoja yang paling cantik dan terkenal di kampus ini, kau bisa menggunakan popularitasmu untuk membujuknya.” Jelas leeteuk. “tapi tadi kau bilang sendiri kan, kalau kau juga sudah membujuknya, tapi dia tidak mau berpartisipasi dalam PenSi. Bagaimana bisa aku membujuknya??” Gerutu jiyeon. “molla, itu tugasmu. Jika kau tidak berhasil membujuknya maka kau juga tidak bisa ikut pensi.” Kata leeteuk enteng. “mwoya?!” jiyeon membulatkan matanya. “kenapa harus aku yang jadi korban?!” Tanya jiyeon tidak terima, jelas saja jiyeon tidak terima kalau dia tidak bisa tampil dalam pensi hanya karena namja yang kata leeteuk bernama xi luhan tidak berhasil dibujuknya untuk ikut PenSi. “kenapa bukan tao saja yang melakukannya saem?” rengek jiyeon. “mwo? Shireo.” Kata Tao. “ini tugasmu park jiyeon.” Tegas leeteuk. “ish.” Jiyeon mendengus kesal.

 

Keesokan harinya…

 

   ~jiyeon POV~

Aku sekarang berdiri di depan ruang kuliah fakultas tehnik. “jiyeon~aa. Sedang apa kau?” Tanya Tao menghampiriku. “sedang apa lagi kalau bukan menunggu namja itu.” Sahutku. “luhan maksudmu?” Tanya Tao dan aku hanya mengangguk. “jiyeon~aa, Hwaiting..! kkkk~” Tao mengepalkan kedua tangannya menyemangatiku namun akhirnya menertawakanku. “ya! ish!” aku menjitak kepalanya, biar tahu rasa dia. “aww, apayo.” Ringgisnya. “mau lagi heoh?” aku sudah siap siap menjitaknya. “ya. jangan galak-galak, nanti fansmu berkurang loh, hahaha, annyeong.” ledeknya pergi meninggalkanku, hanya Tao namja yang dekat denganku karena dia adalah sepupuku tapi tak ada satu pun yang tahu tentang hal itu. Tak lama kelas pun bubar, dan semua mahasiswa keluar ruang kuliah, mataku tak sengaja berpapasan dengan sehun yang juga adalah mahasiswa fakultas tehnik dan sekelas dengan luhan. Dengan segera aku membuang muka. “omo. jiyeon~aa, sedang apa di sini?” Tanya salah seorang teman sehun sejak SMA, baekhyun. “aku menunggu seseorang.” Sahutku. Luhan pun keluar ruang kuliah. “luhan~ssi.” Panggilku mengejar luhan yang sudah menjauh.

 

   ~sehun POV~

Saat aku keluar dari ruang kuliah aku berpapasan dengan jiyeon yang sedang berdiri di depan pintu ruang kuliah, dia segera membuang muka saat mata kami bertemu. “omo. jiyeon~aa, sedang apa di sini?” Tanya baekhyun mendekati jiyeon. “aku menunggu seseorang.” Sahut jiyeon. Siapa yang di tunggu oleh jiyeon? “luhan~ssi.” Panggil jiyeon pada seorang namja yang baru saja meninggalkan ruang kuliah, jiyeon segera mengejar namja bernama luhan itu, dia mahasiswa pindahan yang baru masuk seminggu lalu. Ada hubungan apa mereka berdua? Kenapa jiyeon mengejarnya? Aish. Jujur saja, aku benar-benar kesal saat jiyeon berdekatan dengan namja lain, setelah aku menolaknya hari itu, aku benar-benar menyesal saat aku tidak melihatnya selama seminggu, aku baru sadar kalau aku mencintainya, bukan karena penampilannya yang berubah tapi karena dia yang dekat dengan banyak namja membuatku sadar kalau aku ternyata mencintainya, dulu aku menolaknya karena aku malu ledeki oleh teman-temanku. Dasar sehun pabbo, seharusnya kau buang jauh jauh gengsi mu waktu itu!!

 

   ~luhan POV~

luhan~ssi.” Panggil seseorang aku menoleh, aku sempat terpaku menatap yeoja ini. ‘dia benar-benar sudah berubah.’ Ada sedikit rasa kecewa dihatiku. Tapi sudahlah. “wae?” tanyaku datar. “emm, kenalkan namaku park jiyeon. bisa bicara sebentar?” tanyanya. “bicara saja.” Kataku. “kita bicara di kafe saja, kajja.” Ajaknya. “di sini saja, aku tidak punya banyak waktu.” Ujarku. “e, gurae. Emm, luhan~ssi, kudengar kau bisa menyanyi dan suaramu sangat merdu, kau mau tidak ikut PenSi?” tanyanya. “shireo.” Sahutku, aku penderita demam panggung, konyol bukan? Dan karena itu aku tidak pernah mau ikut pentas-pentas seperti itu. “wae?” tanyanya. “aku tidak tertarik.” Sahutku berbohong. “mwo? Coba saja dulu, pasti menarik, ne?” bujuknya. “tidak, terima kasih.” Aku pergi meninggalkannya.

 

   ~Author POV~

omo! namja itu, jinjja! Susah sekali dibujuk huhh.’ Gerutu jiyeon dalam hati. ‘lihat saja, aku tidak akan menyerah.’ Tekad jiyeon.

 

——————–

 

   ~Author POV~

Hari ini jiyeon kembali menunggu luhan di luar ruang kuliahnya, dari dalam ruang kuliah sehun melihat jiyeon yang berdiri sambil memandangi luhan. ‘mereka ada hubungan apa sebenarnya? Aku tidak pernah melihat jiyeon mengejar namja lain selain aku, itu pun hanya saat kami SMA, kalau sekarang yang ada malah para namja yang mengejarnya.’batin sehun. “aigoo~ bukannya itu jiyeon? Sedang apa dia? Apa dia menunggu luhan lagi?” gumam baekhyun. “kurasa begitu, apa mereka pacaran?” kata cheonyeol. “eoh, sudah banyak gossip beredar seperti itu.” Celetuk suho. “tapi kenapa harus namja pendiam itu?” kata baekhyun tidak rela. “eoh, kenapa harus luhan? Sementara kai, xiumin, donghae sunbae, lee joon sunbae, sanghyun sunbae dan masih banyak namja yang notabene adalah namja idola saja mengejar-ngejar jiyeon tapi dia menolak.” Ujar suho. setelah dosen keluar dari ruang kuliah, jiyeon menghampiri luhan yang masih dalam ruang kuliah. “annyeong.” sapa jiyeon. “mau apa lagi?” Tanya luhan, membereskan barang-barangnya dan pergi meninggalkan jiyeon tapi jiyeon mengejarnya dan terus mengoceh tentang PenSi. “kau mau kan? Ne? mau ya?” bujuk jiyeon terus mengikuti luhan sampai ke kantin di mana hampir semua mahasiswa ada di sana dan memperhatikan jiyeon dan luhan. “siapa namja itu? Kenapa jiyeon mengejar-ngejarnya?” Tanya seorang mahasiswa. “dia, luhan mahasiswa pindahan di fakultas tehnik.” Sahut seorang lagi. “lihat, semua fansmu menatapku sinis dan semua mahasiswa membicarakanmu yang terus mengikutiku, berhentilah membujukku, aku tidak akan pernah mau.” Ujar luhan meninggalkan jiyeon. “luhan~aa, aku tidak akan berhenti, aku akan mendapatkanmu.” Teriak jiyeon membuat luhan menghentikan langkahnya, semua mata memandang jiyeon dan luhan tidak terkecuali sehun dan kawan-kawannya begitu pun dengan para namja idola yang mengejar-ngejar jiyeon. ‘kena kau luhan. Haha’ jiyeon tersenyum penuh arti.

 

   ~sehun POV~

luhan~aa, aku tidak akan berhenti, aku akan mendapatkanmu.” Teriak jiyeon. Mwo? Apa maksudnya? Apa jiyeon benar-benar menyukai luhan? Sakit, hatiku terasa sangat sakit, saat jiyeon berpacaran dengan namja-namja itu aku tidak begitu sakit hati karena aku tahu jiyeon hanya mempermainkan mereka tapi sekarang, jiyeon dengan terang-terangan mengejar-ngejar luhan dan itu berarti dia benar-benar menyukai luhan.

 

—————-

 

   ~luhan POV~

Hari ini lagi-lagi jiyeon mendatangiku dan membujukku untuk ikut PenSi. Sejak kejadian di kantin kemarin, semakin banyak mata memandang kami, aish yeoja ini benar-benar. Tapi sebenarnya aku sangat senang jiyeon berada di dekatku setiap hari. terang saja, aku sudah menyukainya selama 3 tahun, saat pertama masuk SMA aku memperhatikan tingkah lucunya, aku sudah menyukainya, aku suka saat dia tertawa lepas, tapi akal sehatku kembali menyadarkanku kalau selama 3 tahun pula dia tak pernah melihatku yang selalu mencintainya dan aku tahu jelas kalau dia menyukai sehun, sampai sekarang pun dia mendekatiku hanya karena ingin mengajakku ikut PenSi. “luhan~aa, mau ya ikut PenSi? Ne??” bujuk jiyeon untuk yang kesekian kalinya.

 

——————

 

   ~Author POV~

Sudah seminggu jiyeon terus mengikuti luhan untuk membujuknya ikut PenSi, tapi luhan tetap saja tidak mau. Hari ini jiyeon di panggil untuk menghadap leeteuk. “wae saem?” Tanya jiyeon. “kau tahu kan 3 minggu lagi PenSi dank au belum juga berhasil membujuk luhan, dan mau tidak mau kau juga tidak bisa ikut PenSi karena kau gagal membujuk luhan.” Ujar leeteuk. “tapi saem..” jiyeon menunduk lesu. “mian jiyeon~aa, ini salahmu, karena kau gagal.” Kata leeteuk jiyeon hanya menunduk pasrah. Ternyata diluar ruangan, luhan mendengar semuanya. ‘kasihan jiyeon. Karena aku dia tidak bisa ikut berpartisipasi dalam PenSi, padahal aku tahu jelas sejak dulu dia sangat suka dengan seni.’ batin luhan. Jiyeon keluar ruangan dengan lesu, dia duduk di taman sendirian sambil menangis. “jiyeon~aa.” Suara lembut berhasil membuat jiyeon menoleh dan itu adalah luhan, namja manis itu kini sudah duduk dihadapan jiyeon. “mianhe.” Ujar luhan. “untuk?” Tanya jiyeon bingung. “aku tahu, kau tidak bisa ikut PenSi karena aku.” Kata luhan membuat tangis jiyeon semakin menjadi-jadi. “uljima.” Ujar luhan memegang wajah jiyeon dan menghapus air mata jiyeon dengan kedua ibu jarinya dengan halus.

 

   ~Jiyeon POV~

uljima.” Ujar luhan memegang wajahku dan menghapus air mataku dengan kedua ibu jarinya dengan halus. DEG. Kenapa ini? jantungku menjadi tak karuan karena perlakuan luhan, padahal aku sudah sering mendapat perlakuan sehalus ini dari namja, tapi kenapa sekarang rasanya berbeda? Luhan menatap mataku lembut, tatapan yang sangat menenangkan. “aku akan berpartisipasi dalam PenSi.” Katanya lembut. “jinjja?”tanyaku tak percaya dan dia mengangguk mantap aku nyaris meloncat kegirangan. “gomawo luhan~aa.” Tanpa sadar aku memeluk luhan. Oh, tuhan apa yang terjadi denganku? Rasanya seperti saat mau menyatakan cinta pada sehun 6 bulan lalu, jantungku berdegup begitu cepat.

 

   ~luhan POV~

gomawo luhan~aa.” Seru jiyeon memelukku. Omo! dia memelukku? Jiyeon memelukku? Benarkah ini? tolong sadarkan aku kalau ini mimpi. “m, mian.” Ujarnya melepas pelukannya. “g, gwenchana.” Sahutku tersenyum canggung.

 

——————

 

   ~Author POV~

gomawo sudah mengantarku pulang, kajja, masuk dulu.” Ajak jiyeon pada luhan. “kau mau minum apa?” Tanya jiyeon. “terserah.” Sahut luhan. “gurae, changkaman.”

 

——————-

 

   ~Author POV~

Tidak terasa sudah3 minggu berlalu, jiyeon semakin dekat dengan luhan dan sehun tahu jelas hal itu. Hari ini adalah hari penyelenggaraan PenSi, Luhan mondar mandir di belakang panggung, pikirannya tidak tenang. “semoga aku tidak demam panggung lagi.” Gumam luhan.”luhan~aa.”

 

   ~Luhan POV~
“luhan~aa.” Panggil sebuah suara lembut yang aku tahu jelas siapa pemilik suara itu, jiyeon kini dia sedang berjalan ke arahku sambil tersenyum. “sebentar lagi giliranmu tampil.” Katanya mengingatkan. Aku sungguh gugup, aku meremas-remas kedua tanganku dengan tidak tenang. “luhan~aa, tenanglah, ne?” jiyeon memegang kedua tanganku mengalirkan kehangatan yang luar biasa. “jiyeon~aa, sebenarnya… sebenarnya aku demam panggung.” Aku akhirnya jujur, dia tersenyum, senyum manis yang selalu kusukai sejak dulu. “tenanglah, kau pasti bisa, sekarang tutup matamu dan bayangkan hanya kau sendiri yang ada di panggung itu, tak ada satu pun orang yang melihatmu, menyanyilah seperti saat kau latihan, ne?” seperti terhipnotis dengan kata-katanya aku pun memejamkan kedua mataku mengikuti perintahnya, sedektik kemudian aku membuka mataku saat sesuatu yang lembut menyentuh keningku, jiyeon, dia mengecup lembut keningku, oh, tuhan apa aku bermimpi? “hwaiting, luhannie.” Bisiknya, aku mengangguk dan mengusap puncak kepalanya. “gomawo jiyeon~aa.” Ujarku dan langsung naik kepanggung.

 

   ~sehun POV~

Apa yang kulihat ini benar-benar nyata? Jiyeon, dia mencium kening luhan dan berbisik pada namja itu? Selama ini walaupun jiyeon playgirl tapi dia tak pernah mencium seorang namja seperti tadi, apa jiyeon benar-benar sudah menyukai luhan? Kenapa sesakit ini..? apa 6 bulan lalu jiyeon juga merasakan sakit yang sama saat aku menolak dan menghinanya? Inikah yang di sebut hukum karma? Jiyeon~aa, kau berhasil membuatku menyesal dan menderita.

 

——————-

 

   ~luhan POV~

Sekarang aku sedang berada di apartemen jiyeon, setelah PenSi selesai, jiyeon mengajakku kemari dan memasakan makanan kesukaanku, ternyata dia pandai memasak. “enak. Kau ternyata pandai memasak.” Pujiku. “tentu saja, haha.” Sahutnya tertawa renyah. Sekarang kami sudah selesai makan dan sedang menonton TV bersama. “jiyeon~aa.” Panggilku, “uhm” sahutnya. “saranghaeyo.” Entah dapat keberanian apa aku untuk mengatakan hal itu. “ara.” Sahutnya. “mwo?” tanyaku bodoh. Dia malah memelukku. “araseo luhannie.” Ujarnya masih memelukku berhasil membuat jantungku berdetak tak beraturan. Pelukannya sangat hangat.

 

   ~Author POV~

kau tahu aku mencintaimu?” Tanya luhan pada jiyeon yang masih memelukknya dan jiyeon mengangguk, luhan memberanikan diri membalas pelukan jiyeon. “apa kau juga tahu sejak kapan aku menyukaimu?” Tanya luhan.

 

   ~jiyeon POV~

apa kau juga tahu sejak kapan aku menyukaimu?” Tanya luhan, aku mendongakkan kepalaku menatapnya dan masih memeluknya. Hangat. “sebulan lalu?” tebakku, luhan menggeleng. “3 minggu lalu?” tebakku lagi dan dia menggeleng lagi. “lalu sejak kapan?” tanyaku. “sejak 3 tahun lalu.” Sahutnya, aku ternganga menatapnya. “tapi kita bertemu baru sebulan lalu.” Ujarku. “itu bagimu, tapi bagiku, aku sudah menyukaimu sejak pertama kali kita masuk SMA.” Kata luhan membuatku ternganga untuk yang kedua kalinya bagaimana biasa aku tidak menyadarinya? Dan bagaimana mungkin ada namja yang menyukaiku saat aku SMA? “kenapa aku tidak pernah tahu kalau kau satu sekolah denganku dulu?” Tanya polos. “itu karena di matamu hanya ada sehun.” Sahutnya tersenyum, senyum yang selalu menenangkanku, tunggu, apa katanya tadi? Sehun? Dia tahu waktu itu aku menyukai sehun? “kau.. tahu aku menyukai sehun?” tanyaku ragu. “eoh, aku melihatnya saat hari pengumuman kelulusan, kau me-“ aku menghentikan kata-katanya dengan meletakan jari telunjukku di bibirnya.

 

   ~Luhan POV~

eoh, aku melihatnya saat hari pengumuman kelulusan, kau me-“ kata-kataku terhenti saat jiyeon meletakan jari telunjuknya di bibirku. Rasanya jantungku mau keluar dari tempatnya bersarang. “apa kau masih menyukainya?” tanyaku ragu, kuharap jawabannya tidak. Jiyeon melepaskan pelukannya, dia menunduk. Apa dia masih menyukai sehun? “aku sudah tidak punya perasaan apapun padanya.” Sahut jiyeon menatapku. “kau tidak percaya?” tanyanya seakan mengerti pandanganku yang ragu atas jawabannya. “ani. Aku percaya padamu.” Aku membawanya kepelukanku. “tapi aku tidak akan bisa melupakannya.” Ujar jiyeon membuat nafasku seakan berhenti. jiyeon melepas pelukannya dan tersenyum padaku. “aku tidak akan bisa melupakannya, karena dia telah mengisi memoriku selama ini, karena dia membuatku sadar agar aku tidak terus melihatnya dan mencoba untuk meliht namja lain hingga aku melihatmu, melihatmu yang benar-benar mencintaiku, nae namching.” Jelasnya tersenyum dan memelukku. Apa itu artinya dia? Dia memilihku dan melepaskan sehun? Dia menerimaku? Aku tersenyum dan membalas pelukannya yang hangat.

 

   ~Jiyeon POV~

Luhan membalas pelukanku dengan pelukan hangatnya. ‘gomawo sehun~aa, kau telah menyadarkanku, kalau selama ini ada namja yang mencintaiku apa adanya.’ Aku mendongakan wajahku dan menatap luhan dia menatapku balik, tatapannya sangat teduh membuatku begitu nyaman, perlahan wajah kami mendekat semakin dekat dan cup~ luhan mengecup lembut bibirku mengalirkan kehangatan, seakan tidak ingin menyakitiku, luhan melumat bibirku lembut sangat lembut, perlahan aku membalas ciumannya, luhan semakin mempererat pelukan kami dan melumat bibirku lembut dan semakin dalam. ‘saranghae, my true love’

 

The End

 ottae?? komen ya.. 😀