Arsip Tag: YOP

Running Up part 11

Running Up part 11

 

Author : choi hee young

Length : chaptered

Genre : Thriller, action, romance

Cast : Park ji yeon T-ARA

Choi minho Shinee

Sandara park 2NE1

Choi siwon Super Junior

TOP BigBang

Support cast : kyuhyun super junior

Krystal f(x)

Track : MBLAQ – running & running

Shinee – Lucifer

SNSD & 2PM – cabi song

MBLAQ – bang bang bang

Taeyeon – I love you

Rainbow – you and I

Kim bo kyung – suddenly

 

~author POV~

Jiyeon langsung menghubungi dara dan siwon. Tak lama mereka tiba di rumah sakit, “jiyeon~aa.” Panggil dara berlari menghampiri jiyeon di ikuti oleh siwon. “jiyeon~aa, apa yang terjadi dengan minho. “mollayo, tadi aku sedang di jalan lalu krystal menelponku, katanya minho pingsan di tepi jalan jadi aku segera kemari.” Jelas jiyeon. “ne, tadi aku menemukan minho tergelatak di pinggir jalan dan sudah babak belur.” Timpal krystal. Beberapa menit kemudian dokter yang memeriksa minho keluar dari ruangan pemeriksaan. “dokter, bagaimana keadaan adik saya?” Tanya siwon. “adik anda hanya menderita luka ringan, besok sudah boleh pulang.” Sahut dokter tsb. “syukurlah.” Jiyeon mengelus dadanya. “apa kami boleh menemuinya?” Tanya dara. “ne, silahkan.” Dokter itu mempersilahkan. Jiyeon, dara, siwon dan krystal pun masuk ke ruangan tempat minho di rawat. “minho~aa.” Panggil siwon. “gwenchanayo?” Tanya jiyeon. “eoh.” Sahut minho. “kenapa kau bisa begini heoh?”Tanya dara. “molla, tadi tiba2 ada beberapa orang datang dan memukulku.” Sahut minho seadanya. “untung ada krystal yang melihatmu tergeletak dan membawamu ke rumah sakit.” Ujar jiyeon. “ne, gomawo krystal~ssi. Ku doakan semoga hubunganmu dengan kyuhyun akan bertambah baik.” Minho meledek krystal. “ya! doakan yang baik, kenapa kau malah mendoakanku dengan kyuhyun.. huh.” Ujar krystal. “eh, aku pulang dulu ya, masih ada urusan annyeong.” pamit krystal. “ne.” sahut jiyeon dan minho. “minho~aa, apa kau tahu siapa yang memukulimu?” Tanya jiyeon. “entahlah, kalau tidak salah sewaktu mereka mau pergi mereka mengatakan athena.” Sahut minho mencoba mengingat. “athena?” dara memastikan. “kenapa mereka memukul minho?” kini siwon pun ikut bertanya. “tapi untunglah lukamu tidak parah.” Ujar jiyeon. “eoh, itu melegakan.” Lanjut dara. “kala begitu kalian pulanglah dan istirahat biar aku yang jaga minho.” Kata siwon. “aniyo, aku di sini saja malam ini.” sahut dara. “tapi jiyeon sendirian.” Ujar siwon. “gwenchana, aku suadah biasa sendiri kok.” Kata jiyen. “jeongmalyo?” siwon memastikan. “eoh.” Jiyeon mengangguk mantap. “ gurae, pulanglah dan istirahat, besok kau harus sekolah.” Kata dara. “ne. annyeong.” jiyeon pamit dan keluar ruangan. ‘omo! aku lupa. Aku datang kemari bersama seunghyun oppa, kemana dia?’ pikir jiyeon. Jiyeon segera menghubungi seunghyun.. “yobosaeyo, oppa, odiga?…. “eoh, gurae, aku kesana.” Jiyeon memeasukan HP nya kedalam saku celana dan melangkah meninggalkan rumah sakit, di luar rumah sakit seunghyun sedang berdiri di samping mobil mewahnya dan melambai pada jiyeon, jiyeon pun segera menghampirinya. “oppa, kau dari tadi kau menunggu di sini?” Tanya jiyeon. “eoh.”

aigoo, mianhe, aku membuatmu menunggu.”

gwenchana, ku lihat tadi kau sangat panik jadi ku pikir lebih baik aku menunggumu di sini saja, minho itu sangat penting bagimu ya?”

ne? e, kanapa oppa bertanya begitu?” wajah jiyeon memerah.

aniyo, tadi kau begitu panik saat tahu minho di pukuli dan kau terlihat sangat khawatir jadi ku pikir dia sangat penting bagimu.”

sepertinya begitu.” Jiyeon mencoba jujur. “gurae, kajja, naiklah, ku antar kau pulang.” Suruh seunghyun. “eoh.” Jiyeon menurut dan masuk ke dalam mobil seunghyun. “kalau boleh aku tahu, kenapa minho di pukuli? Dan siapa yang memukulinya?” Tanya seunghyun di tengah perjalanan ke apartemen jiyeon dan dara. “molla, minho hanya bilang kalau orang2 itu menyebut Athena. Ku rasa athena yang membuat minho seperti itu.” Sahut jiyeon. “Athena? Bukankah itu organisasi yang katamu telah membunuh kedua orang tuamu?”

eoh, mereka yang membunuh kedua orang tuaku.”

tidakkah kau berpikir bahwa mereka mengincarmu?”

ne?” jiyeon diam sejenak. “kurasa begitu.” Lanjutnya.

dan minho adalah salah satu orang yang melindungimu, mungkinkah mereka berusaha menyingkirkan orang yang melindungimu?”

menyingkirkan orang yang melindungiku?” jiyeon terlihat bingung, ia berpikir sejenak. “jadi maksudmu, Athena berusaha menyakiti orang2 di sekitarku?”

menurutku begitu, dan mereka memulainya dari minho, kurasa sebentar lagi mereka akan menyakiti yeoja yang tinggal bersamamu.” Seunghyun mulai mempengaruhi jiyeon.

maksudmu dara eonni?” jiyeon memastikan. Deg! Mendengar nama itu, jantung seunghyun menjadi berdetak lebih cepat, ada perasaan yang sangat bergejolak dalam hatinya namun semua itu tidak dapat di ungkapkan, bahkan dia harus pura2 tidak kenal dengan yeoja yang ia sadari sangat ia cintai. “euhm, yeoja itu, kurasa jika kau hanya diam terus, Athena akan semakin menyakiti orang2 yang kau sayangi seperti yang mereka lakukan pada minho.” Lanjut seunghyun. “andwae, aku tidak akan biarkan Athena menyakiti mereka.” Jiyeon begitu takut membayangkan dara dan minho akan di sakiti oleh Athena. “lalu apa yang akan kau lakukan?” Tanya seunghyun “aku, aku tidak tahu harus bagaimana.” Sahut jiyeon frustasi. “kusarankan, sebaiknya kau menjauhi mereka, Athena berusaha membuatmu menderita dengan menyakiti orang2 yang kau sayangi, jadi kalau kau menjauhi mereka, Athena tidak akan menyakiti mereka.” Seunghyun semakin mempengaruhi jiyeon. “menjauhi mereka..?” jiyeon terlihat sedih. “aku hanya menyarankan, tidak usah terlalu dipikir-“

aniyo, kau benar oppa, lebih baik aku menjauhi mereka jika tidak ingin mereka terluka.” Jiyeon memotong perkataan seunghyun, jiyeon kemudian menunduk, rambut panjangnya menutupi sebagian wajahnya, bahunya bergetar. ‘sepertinya dia menangis’ batin seunghyun, ada setitik rasa di lubuk hatinya yang menggangu pikirannya saat ini. “jiyeon~aa, gwencahanyo?” seunghyun menghentikan mobilnya di tepi jalan. Jiyeon masih diam, sedetik kemdian dia mengangkat wajahnya, terlihat air mata di pipinya yang dengan cepat dihapusnya dengan kasar. “nan gwenchana.” Sahut jiyeon berusaha tersenyum. ‘kau harus kuat jiyeon~aa, kau harus bisa menjauhi minho, ini demi kebaikan orang2 yang kau sayangi’ batin jiyeon menguatkan dirinya sendiri. Sementara seunghyun hanya diam, ssesuatu yang dirasakannya di dalam lubuk hatinya semakin mengganggu pikirannya saat ini.

 

————-

 

~jiyeon POV~

Malam ini aku sendirian di apartemen dara eonni, karena dara eonni menginap di rumah sakit menemani siwon oppa menjaga minho. Aku terus memikirkan kata2 seunghyun oppa. “seunghyun oppa benar, aku harus menjauhi mereka kalau tidak ingin orang2 yang ku sayangi tersakiti.” Lirihku dalam kesunyian. ‘aku harus pergi, ini demi kebaikan orang2 yang kusayangi, aku harus kuat.’ Tekadku dalam hati. Aku beranjak dari tempat tidur menuju lemari dan mulai mengisi pakaianku ke dalam koper, setelah selesai mengisi pakaianku di dalam koper aku segera pergi dari apartemen dara eonni. Aku akan kembali ke apartemenku. Mianhe eonni, minho.. aku haru menjauhi kalian.

 

————-

 

~author POV~

Hari ini minho keluar dari rumah sakit. “minho~aa, bagaimana? Apa kau sudah merasa lebih baik?” Tanya siwon. “eoh.” Sahut minho. “jeongmalyo? bagaimana dengan punggungmu?” Tanya dara. “gwenchana.” Minho meyakinkan siwon dan dara. “hyung, besok aku mau ke sekolah.” Ujar minho. “wae? Kau kan perlu istirahat.” Sahut siwon. “aku bosan dirumah, sudahlah, aku mau istirahat, supaya besok kondisiku fit.” Minho masuk ke kamarnya. Di dalam kamar minho membaringkan tubuhnya di atas kasur empuknya. ‘hari ini dia bahkan tidak menghubungiku, ada apa dengan jiyeon? Apa dia baik2 saja?’ batin minho.

 

————-

 

~jiyeon POV~

Aku menatap bangku minho yang kosong. ‘hari ini minho keluar dari rumah sakit, bagaimana keadaannya sekarang?’ ya tuhannn, aku benar2 ingin bertemu dengannya, mengetahui keadaannya. Aku memejamkan mataku menahan sakit dihatiku. ‘minho~aa, bogoshipeo.’ Jeritku dalam hati. Hanya ini yang bisa kulakukan, menjerit dalam hati memanggil nama minho. ‘kalau saja sekarang ada dara eonni, mungkin aku akan merasa lebih baik.’ Sungguh aku butuh dara eonni sekarang. Kenapa ini begitu berat?

 

————-

 

~dara POV~

Aku kembali ke apartemenku, pasti jiyeon sudah kesekolah. Aku membuka pintu apartemen dan segera menuju dapur untuk membersihkan sisa sarapan jiyeon pagi tadi tapi ternyata di dapur tak ada sisa makanan apapun bahkan gelas bekas minum pun tak ada. ‘apa jiyeon tidak sarapan? Bukankah dia selalu sarapan?’ aku pun segera menghubungi jiyeon. Cukup lama aku menunggu jiyeon menjawab telponku namun, tuttt, tak ada jawaban. ‘sebenarnya jiyeon kenapa?’

 

————

 

~jiyeon POV~

Di tengah jam pelajaran tiba-tiba HP ku bergetar, ku lihat di layar tertera : Dara eonni calling ingin rasanya aku mengangkat telpon dari dara eonni, tapi aku tidak bisa, aku harus menjauhinya jika ingin dia selamat, harus.

 

Keesokan harinya…

 

~minho POV~

Hari ini aku mulai masuk sekolah kembali, aku sangat bersemangat berangkat ke sekolah karena di sekolah nanti aku akan bertemu dengan jiyeon, yeoja yang errr.. ku… rindukan beberapa hari ini, ne, ku akui sekarang aku merindukannya, apa mungkin aku menyukainya? mencintainya? Haahhh, molla, aku pun bingung dengan apa yang kurasakan sekarang. Sudahlah lebih baik aku segera ke sekolah, aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan jiyeon.

 

~author POV~

Hanya butuh 20 menit minho sampai di sekolah, dia segera menuju kelasnya, namja tampan ini benar2 merindukan yeoja yang bernama park jiyeon, satu satunya yeoja yang menampar minho karena minho menciumnya. Minho pun sampai di kelas, dilihatnya yeoja cantik sedang mendengarkan lagu sambil menutup kedua matanya, tanpa ia sadari bibirnya tersenyum melihat yeoja itu, minho hendak menghampiri jiyeon namun tiba2 jiyeon membuka matanya dan akhirnya tatapan mereka bertemu, saat minho baru saja ingin tersenyum pada jiyeon, yeoja itu malah mengalihkan pandangannya ke arah lain, minho kaget melihat ekspresi jiyeon ‘tidak biasanya dia seperti itu, ada apa dengannya?’ minho baru saja mau menghampiri jiyeon tapi guru pengajar mereka sudah datang sehingga minho mengurungkan niatnya. Selama 3 jam mata pelajaran minho tidak konsen, dia memikirkan jiyeon, sikap jiyeon pagi tadi benar2 membuat minho bingung, teng, teng, teng~ bel istirahat akhirnya berbunyi, saat yang minho tunggu sejak tadi, ia buru2 menghampiri jiyeon yang hendak keluar kelas. “jiyeon~aa, changkamanyo.” Dengan cepat minho menarik tangan jiyeon membuat jiyeon mau tak mau harus berhadapan dengan minho. “wae?” Tanya jiyeon dingin. Minho kaget melihat prilaku jiyeon. “kau kenapa jiyeon~aa?” Tanya minho heran. “naega? Nan gwenchana. Wae?”

wae?! Kau masih bertanya kenapa?! Lihatlah sikapmu, kau aneh sekali, sikapmu sangat dingin padaku. Ada apa denganmu? heoh?”

kau yang aneh. Kau tiba2 datang dan marah2 padaku. Sudahlah jangan dekati aku lagi.” Jiyeon melepaskan genggaman tangan minho dan pergi meninggalkan minho yang bingung, kaget dan kecewa melihat sikap jiyeon padanya. Sementera di luar kelas jiyeon berusaha menahan air matanya agar tidak keluar. “mianhe minho~aa.” Lirihnya. ‘aku lakukan ini agar kau selamat.’ Batinnya.

 

~minho POV~

Ada apa dengan jiyeon? Sikapnya sangat aneh, dia begitu dingin padaku sedangkan pada orang lain dia sangat ramah, kenapa dia sedingin itu padaku? Apa aku melakukan kesalahan? ‘sudahlah jangan dekati aku lagi’ kata2 jiyeon tadi masih terus terngiang di telingaku, dia memintaku untuk tidak mendekatinya lagi? Tapi kenapa? Kenapa dia seperti itu padaku? Aisshh. Aku harus bicara lagi dengannya.

 

———–

 

~author POV~

Tak terasa bel pulang berbunyi, jiyeon buru2 membereskan buku2nya dan pergi meninggalkan kelas agar minho tidak mengajaknya bicara namun ternyata dugaan jiyeon salah, minho dengan cepat mencegatnya di ambang pintu. “kita harus bicara.” Ujar minho. “shireo.” Sahut jiyeon dingin. “terserah kau mau atau tidak tapi kita harus bicara. Kajja.” Minho menarik tangan jiyeon, jiyeon berusaha melepaskannya tapi kekuatannya tidak bisa melawan kekuatan minho. Minho membawa jiyeon ke atap sekolah, tempat yang paling sunyi untuk bicara. “sekarang jawab aku, apa aku punya salah padamu? sampai kau bersikap dingin begini padaku.” Tanya minho membuat jiyeon tercegat, minho sama sekali tak punya salah padanya. “jawab aku. Kenapa kau begini heoh?” suara minho naik satu oktaf, jiyeon berusaha mencari jawaban. “jawab jiyeon~aa.” Ucap minho memegang kedua bahu jiyeon. “aniyo, kau tidak salah.” Jiyeon akhirnya berbicara. “lalu kenapa kau begini padaku?” minho semakin tidak tenang. “aku yang salah.” Ujar jiyeon melepaskan pegangan minho di bahunya. Minho mengerutkan kening mendengar jawaban jiyeon. “aku yang salah karena aku, aku tidak menyukai segala sesuatu yang kau lakukan, aku tidak suka berada di dekatmu, di dekat seorang choi minho yang selalu di kerumuni wanita, aku tidak suka sikapmu yang semena-mena terhadap setiap yeoja, kau tersenyum pada mereka, menerima semua hadiah mereka tapi setelah itu kau membuangnya. Aku benci semua itu, aku benci kau choi minho.” Semua kata2 itu keluar begitu saja dari mulut jiyeon. ‘mianhe minho~aa, aku tidak bermaksud menyakitimu, sungguh semua itu tidak benar.’ Teriak jiyeon dalam hati. Minho terdiam mendengarkan semua kalimat yang keluar dari mulut jiyeon. ‘seburuk itukah aku di matanya?’ batin minho. “jiyeon~aa.” Panggil minho. “mulai sekarang jangan pernah berada di dekatku lagi, aku sudah penat dengan semua hal yang kau lakukan.” Ucap jiyeon dengan dinginnya dan pergi meninggalkan minho yang masih terdiam. ‘mianhe minho~aa, jeongmal mianhe.’ Batin jiyeon berusaha menahan air matanya agar tidak menetes.

 

————–

 

~author POV~

Hari itu seperti biasa, jiyeon menjalani hari sebagai seorang pelajar, pagi itu saat jiyeon hendak berangkat kesekolah, HP nya berdering, dilihatnya dilayar tertera nama dara. “eonni, mianhe.” Lirihnya sebelum mematikan HPnya.

 

~dara POV~

Pagi ini aku menelpon jiyeon, aku ingin menanyakan kabarnya karena sejak kemarin dia tidak pulang, aku takut terjadi sesuatu padanya. Cukup lama aku menunggu jiyeon mengangkat telponku tapi tuutt, dia mematikan telponnya, ada apa dengannya, aku mencoba menelponnya sekali lagi tapi nomornya sudah tidak aktif. Kenapa dengan jiyeon?

 

————–

 

~jiyeon POV~

Sesampai di sekolah aku segera menuju kelas, tapi sesampainya di kelas sebuah pemandangan yang tidak mengenakkan menghampiri kedua mataku, minho sedang berpelukan dengan seorang yeoja, aku tidak tahu siapa yeoja itu. “gomawo oppa, sudah mau menerimaku sebagai yeojachingumu.” Ujar yeoja itu. ‘mwo? Y, yeojachingu?’ apa pendengaranku sudah tidak normal? Yeojachingu katanya? Kulihat minho tersenyum padanyas dan menoleh kearahku, dengan cepat aku membuang pandanganku dan berjalan menuju kursiku. “oppa, kau tahu, sejak dulu aku sangat ingin jadi yeojachingumu, saranghae oppa.” Ujar yeoja itu manja, ne, dari tempat dudukku aku masih bisa mendengar percakapan mereka. “omo! yeoja itu centil sekali.” Pekik krystal yang duduk di sampingku. “jiyeon~aa, gwenchanayo?” Tanya krystal. Aku menoleh ke arah krystal. “wae?” tanyaku seakan tak peduli. “I, itu, minho, minho..” krystal tak melanjutkan perkataannya dan menatapku. “krystal~aa, kau sudah berapa lama kau mengenalku? Kau seperti tidak tau diriku saja.” Ujarku setenang mungkin, walau dalam hati terasa sangat sakit. Aku mengambil headset dan ipad ku ku pasang headset di telingaku dan memutar music sekencang2 nya agar tak mendengar pembicaraan minho dengan yeoja itu lagi.

 

~minho POV~

Saat aku bersama di kelas bersama yeoja yang sekarang ini ada yeojachinguku, jiyeon masuk ke kelas, aku menoleh kearahnya dan dia segera membuang muka dan duduk di bangkunya bersma krystal. “jiyeon~aa, gwenchanayo?” Tanya krystal, dari bangku ku aku dapat mendengar pebicaraan jiyeon dan krystal. Ku lihat jiyeon menoleh ke arah krystal. “wae?” tanyanya tak peduli. “I, itu, minho, minho..” krystal tak melanjutkan perkataannya dan menatap jiyeon. “krystal~aa, kau sudah berapa lama kau mengenalku? Kau seperti tidak tau diriku saja.” Ujar jiyeon terlihat tenang. Aish, kenapa jawabannya begitu? Jujur aku kecewa dengan jawabannya yang seakan tak peduli. Kulihat jiyeon mengambil headset dan ipad lalu memasangnya di telinga, dan itu berarti dia tidak akan mendengar pembicaraanku dengan yeoja ini, haah, sudahlah, lebih baik ku suruh pergi saja yeoja ini. “pergilah.” Ujarku. “hah? Waeyo?” tanyanya. Aish dasar pabbo. “kita putus.” Ujarku malas. “mwo?!” w, waeyo? Bukankah kita baru jadian? Kenapa kau berkata seperti itu?” ujarnya. “sudahlah pergilah. Aku sedang tidak ingin diganggu.” Aku mengalihkan pandanganku ke luar jendela. *ihh,minho oppa tega. Hihi* akhirnya yeoja menyebalkan itupun pergi. Haahh, baguslah. Aku menoleh kearah jiyeon, ‘dia benar2 tidak peduli.’ Batinku.

 

————-

 

~author POV~

Sepulang sekolah jiyeon berniat mencari tahu soal kedua orang tuanya, ya, dia mulai mencari tahu keberadaan teman2 orang tuanya, dimana jedua orang tuanya tinggal dulu, semua itu dia lakukan untuk mendapatkan bukti yang konkret untuk menuduh athena sebagai pembunuh kedua orang tuanya. Hari ini jiyeon berencanna untuk menemui salah satu teman ibunya (kim tae hee) yaitu im yoona *Cuma minjem nama*, sahabat kim tae hee. “aku harus menemuinya, mungkin saja dia tahu hubungan eomma dan appa dengan Athena.” Ujar jiyeon memasuki mobilnya dan melaju ke rumah im yoona yang alamatnya sangat susah ia dapatkan. Tanpa jiyeon sadari ternyata TOP mengintainya sejak tadi dan mengikutinya sampai di rumah nyonya im. Sesampainya di rumah im yoona, jiyeon segera mengetuk pintu rumah dan memencet bel beberapa kali sampai seorang wanita yang kira-kira berumur 40 tahunan. “annyeonghasaeyo ahjuma.” Sapa jiyeon. Dari kejauhan seunghyun memperhatikan jiyeon dan nyonya im.

maaf, apa anda yang bernama im yoona?”

ne, aku im yoona, ada apa ya?”

perkenalakan aku park jiyeon, anak dari park jungsu dan kim tae hee.” Jiyeon mengulurkan tangannya. Nyonya yoona terlihat sedikit kaget dan kemudian dengan sedikit ragu menjabat tangan jiyeon. “Kau adalah sahabat dekat eommaku kan?”

n, ne. waeyo?”

Jiyeon tersenyum, “aku ingin bicara denganmu dan bertanya beberapa hal, boleh?”

boleh, ayo masuk dulu.” Nyonya yoona mempersilahkan jiyeon untuk masuk ke dalam rumahnya yang tidak terlalu mewah. Saat jiyeon dan nyonya im masuk, seunghyun mendekat kerumah nyonya im dan mengintip ke dalam rumah berusaha mendengar pembicaraan jiyeon dan nyonya im. “duduklah.” Ujar nyonya im. “kau ingin minum apa?” lanjutnya.

aniyo, tidak usah.”

gurae, kau ingin bertanya apa?”

emm, begini, kau kan adalah sahabat dekat eommaku, jadi kau pasti tahu tentang eommaku, kau tahukan 10 tahun yang lalu, saat aku berumur 7 tahun, kedua orang tuaku meninggal terbunuh, dan di duga pembunuh kedua orang tuaku adalah organisasi Athena, apa kau tahu hubungan kedua orang tuaku dengan Athena?”

A, Athena?” Tanya nyonya im. ‘bukankah itu organisasi yang di pimpin oleh park gi tae.’ Batinnya.

ne, Athena, apa kau tahu?”

aku tidak begitu yakin, tapi kalau tidak salah itu adalah organisasi yang di pimpin oleh park gi tae.”

benar, organisasi itu di pimpin oleh park gi tae, apa kau tahu apa hubungannya dengan kedua orang tuaku?”

park gi tae adalah temanku dan tae hee, kami berteman sangat dekat karena kami tinggal di panti asuhan yang sama, setelah kami cukup dewasa, kami memutusakan untuk meninggalkan panti asuhan itu dan mencoba mengadu nasib di seoul, tapi ternyata mencari pekerjaan tak semudah yang kami bayangkan, dan,,, akhirnya,,,,” nyonya im dia sejenak, mimic wajahnya berubah menjadi sedih. “aku dan tae hee mengambil jalan pintas..” yonna menarik nafas dalam2 sebelum melanjutkan ceritanya. “kami, kami memutuskan untuk menjadi,,, p, pelacur.” Lidah yoona terasa kelu mengatakan hal itu. “m, mwo?!” mata jiyeon membelalak mendengar hal itu. “keputusan itu adalah keputusan terbodoh dalam hidupku, tapi kami benar2 kehilangan jalan keluar, kami sudah tidak punya uang sama sekali bahkan hanya untuk membeli air minum pun kami tak punya. Saat aku dan tae hee melakukan pekerjaan hina itu, park gi tae juga berusaha mati matian mencari uang, mulai dari kerja serabutan, namun hal itu masih juga tidak cukup, sampai akhirnya gi tae mulai membangun organisasi Athena bersama teman2 premannya, sedangkan aku dan tae hee masih melakukan pekerjaan hina itu, namun hal yang tidak kami sangka terjadi, tae hee hamil, tae hee tidak ingin menggugurkan janinnya dia terus menjaganya sampai bayi laki2 itu lahir ke bumi ini.” nyonya im berhenti sejenak. Sedangkan di luar rumah, seunghyun sangat terkejut mendengar cerita nyonya im, tiba2 HP nya bergetar, ternyata park gi tae menelponnya dan menyuruhnya kembali, maka TOP pun menurutinya. “karena pekerjaannya, jadi tak seorangpun yang tahu siapa ayah dari anak itu.” lanjut nyonya im. ”gi tae yang sudah lama menyukai tae hee, akhirnya bersedia merawat anak itu dan tae hee bisa kembali bekerja mencari uang tanpa harus terbebani dengan statusnya yang sudah memiliki anak, tak lama seorang pria bernama lee tae sung mulai dekat dengan tae hee dan akhirnya mereka berpacaran, hal itu cukup membuat gi tae terguncang karena tae sung adalah temannya, karena tae sung, tae hee berhenti menjadi pel*cur dan mencari pekerjaan yang lain, tiba2 seorang pria dari keluarga kaya raya jatuh cinta pada tae hee yang kebetulan bekerja di perusahaan keluarganya dan pria itu adalah park jungsu, ayahmu. Jungsu mendekati tae hee sampai akhirnya dia meminta tae hee untuk menikah dengannya, tae hee yang masih berstatus sebagai pacar tae sung, awalnya tidak ingin menerima lamaran junsu namun entah kenapa tae hee menerima lamaran jungsu dan menikah dengannya. Aku, gi tae dan tae sung sangat terkejut mendengar hal, tae sung sangat sedih, begitu pun gi tae. Setelah itu aku jarang berkomunikasi dengan tae hee, gi tae, atau pun tae sung, sampai sepuluh tahun yang lalu aku mendengar kematian tae hee dan jungsu.” Jelas nyonya im panjang lebar. Jiyeon tak dapat menahan air matanya, ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya, mencoba mencerna setiap kata yang di ucapkan nyonya im. “l, lalu di mana anak laki2 yang dilahirkan oleh eomma? Apa dia masih hidup? Setidaknya aku masih mempunyai kakak, walaupun tidak se ayah denganku.” Ujar jiyeon. “ne, dia masih hidup dan orang yang merawatnya dari dulu sampai sekarang yang menjaganya adalah park gi tae.” Jawab nyonya im. “m, mwo?! Park gi tae?!” pekik jiyeon. “kau tahu siapa namanya?” Tanya jiyeon lagi. “mollayo, aku hanya tahu gi tae yang menjaganya, sebelum aku berhenti menjalin kontak dengan mereka.” Kata nyonya im. “guraeyo, gomawo sudah menceritakan semuanya. Aku permisi dulu.” Jiyeon pun pamit. “ne.” sahut nyonya im. Jiyeon pun pergi meninggalkan ruamah nyonya im.

 

~jiyeon POV~

Aku melajukan mobilkuku menuju apartemenku. ‘aku harus mencari tahu siapa oppaku, kudengar, park gi tae hanya mempunyai satu putra, mungkinkah itu adalah kakak ku? Tapi siapa dia?’

TBC

jebal di komeeeeeeeeeeeeeeeeennnnnn yaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhh, yang udah baca ni FF trus ga kasih komentar, aku sumpahin biasnya ilang (?) 😀

Iklan