Arsip Kategori: sad

Painful Story [Part 3]

painful story 2

Title     : Painful Story

Auhtor : Choi Hee Young

Rating : NC 17+

Cast     :  Park Jiyeon T-ARA

              Lee Jong Suk

              Kim Jong In (KAI) EXO-K

              Kang Se Ra (OC)

              Kim Woo Bin

              Kim heerin (OC)

              Bae Suzy MISS A

              Kim Jonghyun SHINEE

              Jung Hyunseung BEAST

Note    : FF ini mengandung unsur yang tidak cocok untuk dibaca anak di bawah umur! Jadi buat yang dibawah umur harap jangan baca ya, buat kebaikan bersama hehehe. Happy reading~

Lanjutkan membaca Painful Story [Part 3]

[DRABBLE] The Beautiful Fake Memory

Author : choi hee young

cast : park jiyeon T-ARA, kim myungsoo (L) INFINITE

genre : sad

length : drabble

rating : PG

tulisan gaje yang inspirasi nya datang begitu saja di tengah malam. hahaha, yang mau baca, silahkan, yang ga mau juga ga papa, tapi kayaknya baca aja deh *maksa hahaha. ok, let’s read.

“saranghae~”

“na do saranghae~” Lanjutkan membaca [DRABBLE] The Beautiful Fake Memory

Running Up part 11

Running Up part 11

 

Author : choi hee young

Length : chaptered

Genre : Thriller, action, romance

Cast : Park ji yeon T-ARA

Choi minho Shinee

Sandara park 2NE1

Choi siwon Super Junior

TOP BigBang

Support cast : kyuhyun super junior

Krystal f(x)

Track : MBLAQ – running & running

Shinee – Lucifer

SNSD & 2PM – cabi song

MBLAQ – bang bang bang

Taeyeon – I love you

Rainbow – you and I

Kim bo kyung – suddenly

 

~author POV~

Jiyeon langsung menghubungi dara dan siwon. Tak lama mereka tiba di rumah sakit, “jiyeon~aa.” Panggil dara berlari menghampiri jiyeon di ikuti oleh siwon. “jiyeon~aa, apa yang terjadi dengan minho. “mollayo, tadi aku sedang di jalan lalu krystal menelponku, katanya minho pingsan di tepi jalan jadi aku segera kemari.” Jelas jiyeon. “ne, tadi aku menemukan minho tergelatak di pinggir jalan dan sudah babak belur.” Timpal krystal. Beberapa menit kemudian dokter yang memeriksa minho keluar dari ruangan pemeriksaan. “dokter, bagaimana keadaan adik saya?” Tanya siwon. “adik anda hanya menderita luka ringan, besok sudah boleh pulang.” Sahut dokter tsb. “syukurlah.” Jiyeon mengelus dadanya. “apa kami boleh menemuinya?” Tanya dara. “ne, silahkan.” Dokter itu mempersilahkan. Jiyeon, dara, siwon dan krystal pun masuk ke ruangan tempat minho di rawat. “minho~aa.” Panggil siwon. “gwenchanayo?” Tanya jiyeon. “eoh.” Sahut minho. “kenapa kau bisa begini heoh?”Tanya dara. “molla, tadi tiba2 ada beberapa orang datang dan memukulku.” Sahut minho seadanya. “untung ada krystal yang melihatmu tergeletak dan membawamu ke rumah sakit.” Ujar jiyeon. “ne, gomawo krystal~ssi. Ku doakan semoga hubunganmu dengan kyuhyun akan bertambah baik.” Minho meledek krystal. “ya! doakan yang baik, kenapa kau malah mendoakanku dengan kyuhyun.. huh.” Ujar krystal. “eh, aku pulang dulu ya, masih ada urusan annyeong.” pamit krystal. “ne.” sahut jiyeon dan minho. “minho~aa, apa kau tahu siapa yang memukulimu?” Tanya jiyeon. “entahlah, kalau tidak salah sewaktu mereka mau pergi mereka mengatakan athena.” Sahut minho mencoba mengingat. “athena?” dara memastikan. “kenapa mereka memukul minho?” kini siwon pun ikut bertanya. “tapi untunglah lukamu tidak parah.” Ujar jiyeon. “eoh, itu melegakan.” Lanjut dara. “kala begitu kalian pulanglah dan istirahat biar aku yang jaga minho.” Kata siwon. “aniyo, aku di sini saja malam ini.” sahut dara. “tapi jiyeon sendirian.” Ujar siwon. “gwenchana, aku suadah biasa sendiri kok.” Kata jiyen. “jeongmalyo?” siwon memastikan. “eoh.” Jiyeon mengangguk mantap. “ gurae, pulanglah dan istirahat, besok kau harus sekolah.” Kata dara. “ne. annyeong.” jiyeon pamit dan keluar ruangan. ‘omo! aku lupa. Aku datang kemari bersama seunghyun oppa, kemana dia?’ pikir jiyeon. Jiyeon segera menghubungi seunghyun.. “yobosaeyo, oppa, odiga?…. “eoh, gurae, aku kesana.” Jiyeon memeasukan HP nya kedalam saku celana dan melangkah meninggalkan rumah sakit, di luar rumah sakit seunghyun sedang berdiri di samping mobil mewahnya dan melambai pada jiyeon, jiyeon pun segera menghampirinya. “oppa, kau dari tadi kau menunggu di sini?” Tanya jiyeon. “eoh.”

aigoo, mianhe, aku membuatmu menunggu.”

gwenchana, ku lihat tadi kau sangat panik jadi ku pikir lebih baik aku menunggumu di sini saja, minho itu sangat penting bagimu ya?”

ne? e, kanapa oppa bertanya begitu?” wajah jiyeon memerah.

aniyo, tadi kau begitu panik saat tahu minho di pukuli dan kau terlihat sangat khawatir jadi ku pikir dia sangat penting bagimu.”

sepertinya begitu.” Jiyeon mencoba jujur. “gurae, kajja, naiklah, ku antar kau pulang.” Suruh seunghyun. “eoh.” Jiyeon menurut dan masuk ke dalam mobil seunghyun. “kalau boleh aku tahu, kenapa minho di pukuli? Dan siapa yang memukulinya?” Tanya seunghyun di tengah perjalanan ke apartemen jiyeon dan dara. “molla, minho hanya bilang kalau orang2 itu menyebut Athena. Ku rasa athena yang membuat minho seperti itu.” Sahut jiyeon. “Athena? Bukankah itu organisasi yang katamu telah membunuh kedua orang tuamu?”

eoh, mereka yang membunuh kedua orang tuaku.”

tidakkah kau berpikir bahwa mereka mengincarmu?”

ne?” jiyeon diam sejenak. “kurasa begitu.” Lanjutnya.

dan minho adalah salah satu orang yang melindungimu, mungkinkah mereka berusaha menyingkirkan orang yang melindungimu?”

menyingkirkan orang yang melindungiku?” jiyeon terlihat bingung, ia berpikir sejenak. “jadi maksudmu, Athena berusaha menyakiti orang2 di sekitarku?”

menurutku begitu, dan mereka memulainya dari minho, kurasa sebentar lagi mereka akan menyakiti yeoja yang tinggal bersamamu.” Seunghyun mulai mempengaruhi jiyeon.

maksudmu dara eonni?” jiyeon memastikan. Deg! Mendengar nama itu, jantung seunghyun menjadi berdetak lebih cepat, ada perasaan yang sangat bergejolak dalam hatinya namun semua itu tidak dapat di ungkapkan, bahkan dia harus pura2 tidak kenal dengan yeoja yang ia sadari sangat ia cintai. “euhm, yeoja itu, kurasa jika kau hanya diam terus, Athena akan semakin menyakiti orang2 yang kau sayangi seperti yang mereka lakukan pada minho.” Lanjut seunghyun. “andwae, aku tidak akan biarkan Athena menyakiti mereka.” Jiyeon begitu takut membayangkan dara dan minho akan di sakiti oleh Athena. “lalu apa yang akan kau lakukan?” Tanya seunghyun “aku, aku tidak tahu harus bagaimana.” Sahut jiyeon frustasi. “kusarankan, sebaiknya kau menjauhi mereka, Athena berusaha membuatmu menderita dengan menyakiti orang2 yang kau sayangi, jadi kalau kau menjauhi mereka, Athena tidak akan menyakiti mereka.” Seunghyun semakin mempengaruhi jiyeon. “menjauhi mereka..?” jiyeon terlihat sedih. “aku hanya menyarankan, tidak usah terlalu dipikir-“

aniyo, kau benar oppa, lebih baik aku menjauhi mereka jika tidak ingin mereka terluka.” Jiyeon memotong perkataan seunghyun, jiyeon kemudian menunduk, rambut panjangnya menutupi sebagian wajahnya, bahunya bergetar. ‘sepertinya dia menangis’ batin seunghyun, ada setitik rasa di lubuk hatinya yang menggangu pikirannya saat ini. “jiyeon~aa, gwencahanyo?” seunghyun menghentikan mobilnya di tepi jalan. Jiyeon masih diam, sedetik kemdian dia mengangkat wajahnya, terlihat air mata di pipinya yang dengan cepat dihapusnya dengan kasar. “nan gwenchana.” Sahut jiyeon berusaha tersenyum. ‘kau harus kuat jiyeon~aa, kau harus bisa menjauhi minho, ini demi kebaikan orang2 yang kau sayangi’ batin jiyeon menguatkan dirinya sendiri. Sementara seunghyun hanya diam, ssesuatu yang dirasakannya di dalam lubuk hatinya semakin mengganggu pikirannya saat ini.

 

————-

 

~jiyeon POV~

Malam ini aku sendirian di apartemen dara eonni, karena dara eonni menginap di rumah sakit menemani siwon oppa menjaga minho. Aku terus memikirkan kata2 seunghyun oppa. “seunghyun oppa benar, aku harus menjauhi mereka kalau tidak ingin orang2 yang ku sayangi tersakiti.” Lirihku dalam kesunyian. ‘aku harus pergi, ini demi kebaikan orang2 yang kusayangi, aku harus kuat.’ Tekadku dalam hati. Aku beranjak dari tempat tidur menuju lemari dan mulai mengisi pakaianku ke dalam koper, setelah selesai mengisi pakaianku di dalam koper aku segera pergi dari apartemen dara eonni. Aku akan kembali ke apartemenku. Mianhe eonni, minho.. aku haru menjauhi kalian.

 

————-

 

~author POV~

Hari ini minho keluar dari rumah sakit. “minho~aa, bagaimana? Apa kau sudah merasa lebih baik?” Tanya siwon. “eoh.” Sahut minho. “jeongmalyo? bagaimana dengan punggungmu?” Tanya dara. “gwenchana.” Minho meyakinkan siwon dan dara. “hyung, besok aku mau ke sekolah.” Ujar minho. “wae? Kau kan perlu istirahat.” Sahut siwon. “aku bosan dirumah, sudahlah, aku mau istirahat, supaya besok kondisiku fit.” Minho masuk ke kamarnya. Di dalam kamar minho membaringkan tubuhnya di atas kasur empuknya. ‘hari ini dia bahkan tidak menghubungiku, ada apa dengan jiyeon? Apa dia baik2 saja?’ batin minho.

 

————-

 

~jiyeon POV~

Aku menatap bangku minho yang kosong. ‘hari ini minho keluar dari rumah sakit, bagaimana keadaannya sekarang?’ ya tuhannn, aku benar2 ingin bertemu dengannya, mengetahui keadaannya. Aku memejamkan mataku menahan sakit dihatiku. ‘minho~aa, bogoshipeo.’ Jeritku dalam hati. Hanya ini yang bisa kulakukan, menjerit dalam hati memanggil nama minho. ‘kalau saja sekarang ada dara eonni, mungkin aku akan merasa lebih baik.’ Sungguh aku butuh dara eonni sekarang. Kenapa ini begitu berat?

 

————-

 

~dara POV~

Aku kembali ke apartemenku, pasti jiyeon sudah kesekolah. Aku membuka pintu apartemen dan segera menuju dapur untuk membersihkan sisa sarapan jiyeon pagi tadi tapi ternyata di dapur tak ada sisa makanan apapun bahkan gelas bekas minum pun tak ada. ‘apa jiyeon tidak sarapan? Bukankah dia selalu sarapan?’ aku pun segera menghubungi jiyeon. Cukup lama aku menunggu jiyeon menjawab telponku namun, tuttt, tak ada jawaban. ‘sebenarnya jiyeon kenapa?’

 

————

 

~jiyeon POV~

Di tengah jam pelajaran tiba-tiba HP ku bergetar, ku lihat di layar tertera : Dara eonni calling ingin rasanya aku mengangkat telpon dari dara eonni, tapi aku tidak bisa, aku harus menjauhinya jika ingin dia selamat, harus.

 

Keesokan harinya…

 

~minho POV~

Hari ini aku mulai masuk sekolah kembali, aku sangat bersemangat berangkat ke sekolah karena di sekolah nanti aku akan bertemu dengan jiyeon, yeoja yang errr.. ku… rindukan beberapa hari ini, ne, ku akui sekarang aku merindukannya, apa mungkin aku menyukainya? mencintainya? Haahhh, molla, aku pun bingung dengan apa yang kurasakan sekarang. Sudahlah lebih baik aku segera ke sekolah, aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan jiyeon.

 

~author POV~

Hanya butuh 20 menit minho sampai di sekolah, dia segera menuju kelasnya, namja tampan ini benar2 merindukan yeoja yang bernama park jiyeon, satu satunya yeoja yang menampar minho karena minho menciumnya. Minho pun sampai di kelas, dilihatnya yeoja cantik sedang mendengarkan lagu sambil menutup kedua matanya, tanpa ia sadari bibirnya tersenyum melihat yeoja itu, minho hendak menghampiri jiyeon namun tiba2 jiyeon membuka matanya dan akhirnya tatapan mereka bertemu, saat minho baru saja ingin tersenyum pada jiyeon, yeoja itu malah mengalihkan pandangannya ke arah lain, minho kaget melihat ekspresi jiyeon ‘tidak biasanya dia seperti itu, ada apa dengannya?’ minho baru saja mau menghampiri jiyeon tapi guru pengajar mereka sudah datang sehingga minho mengurungkan niatnya. Selama 3 jam mata pelajaran minho tidak konsen, dia memikirkan jiyeon, sikap jiyeon pagi tadi benar2 membuat minho bingung, teng, teng, teng~ bel istirahat akhirnya berbunyi, saat yang minho tunggu sejak tadi, ia buru2 menghampiri jiyeon yang hendak keluar kelas. “jiyeon~aa, changkamanyo.” Dengan cepat minho menarik tangan jiyeon membuat jiyeon mau tak mau harus berhadapan dengan minho. “wae?” Tanya jiyeon dingin. Minho kaget melihat prilaku jiyeon. “kau kenapa jiyeon~aa?” Tanya minho heran. “naega? Nan gwenchana. Wae?”

wae?! Kau masih bertanya kenapa?! Lihatlah sikapmu, kau aneh sekali, sikapmu sangat dingin padaku. Ada apa denganmu? heoh?”

kau yang aneh. Kau tiba2 datang dan marah2 padaku. Sudahlah jangan dekati aku lagi.” Jiyeon melepaskan genggaman tangan minho dan pergi meninggalkan minho yang bingung, kaget dan kecewa melihat sikap jiyeon padanya. Sementera di luar kelas jiyeon berusaha menahan air matanya agar tidak keluar. “mianhe minho~aa.” Lirihnya. ‘aku lakukan ini agar kau selamat.’ Batinnya.

 

~minho POV~

Ada apa dengan jiyeon? Sikapnya sangat aneh, dia begitu dingin padaku sedangkan pada orang lain dia sangat ramah, kenapa dia sedingin itu padaku? Apa aku melakukan kesalahan? ‘sudahlah jangan dekati aku lagi’ kata2 jiyeon tadi masih terus terngiang di telingaku, dia memintaku untuk tidak mendekatinya lagi? Tapi kenapa? Kenapa dia seperti itu padaku? Aisshh. Aku harus bicara lagi dengannya.

 

———–

 

~author POV~

Tak terasa bel pulang berbunyi, jiyeon buru2 membereskan buku2nya dan pergi meninggalkan kelas agar minho tidak mengajaknya bicara namun ternyata dugaan jiyeon salah, minho dengan cepat mencegatnya di ambang pintu. “kita harus bicara.” Ujar minho. “shireo.” Sahut jiyeon dingin. “terserah kau mau atau tidak tapi kita harus bicara. Kajja.” Minho menarik tangan jiyeon, jiyeon berusaha melepaskannya tapi kekuatannya tidak bisa melawan kekuatan minho. Minho membawa jiyeon ke atap sekolah, tempat yang paling sunyi untuk bicara. “sekarang jawab aku, apa aku punya salah padamu? sampai kau bersikap dingin begini padaku.” Tanya minho membuat jiyeon tercegat, minho sama sekali tak punya salah padanya. “jawab aku. Kenapa kau begini heoh?” suara minho naik satu oktaf, jiyeon berusaha mencari jawaban. “jawab jiyeon~aa.” Ucap minho memegang kedua bahu jiyeon. “aniyo, kau tidak salah.” Jiyeon akhirnya berbicara. “lalu kenapa kau begini padaku?” minho semakin tidak tenang. “aku yang salah.” Ujar jiyeon melepaskan pegangan minho di bahunya. Minho mengerutkan kening mendengar jawaban jiyeon. “aku yang salah karena aku, aku tidak menyukai segala sesuatu yang kau lakukan, aku tidak suka berada di dekatmu, di dekat seorang choi minho yang selalu di kerumuni wanita, aku tidak suka sikapmu yang semena-mena terhadap setiap yeoja, kau tersenyum pada mereka, menerima semua hadiah mereka tapi setelah itu kau membuangnya. Aku benci semua itu, aku benci kau choi minho.” Semua kata2 itu keluar begitu saja dari mulut jiyeon. ‘mianhe minho~aa, aku tidak bermaksud menyakitimu, sungguh semua itu tidak benar.’ Teriak jiyeon dalam hati. Minho terdiam mendengarkan semua kalimat yang keluar dari mulut jiyeon. ‘seburuk itukah aku di matanya?’ batin minho. “jiyeon~aa.” Panggil minho. “mulai sekarang jangan pernah berada di dekatku lagi, aku sudah penat dengan semua hal yang kau lakukan.” Ucap jiyeon dengan dinginnya dan pergi meninggalkan minho yang masih terdiam. ‘mianhe minho~aa, jeongmal mianhe.’ Batin jiyeon berusaha menahan air matanya agar tidak menetes.

 

————–

 

~author POV~

Hari itu seperti biasa, jiyeon menjalani hari sebagai seorang pelajar, pagi itu saat jiyeon hendak berangkat kesekolah, HP nya berdering, dilihatnya dilayar tertera nama dara. “eonni, mianhe.” Lirihnya sebelum mematikan HPnya.

 

~dara POV~

Pagi ini aku menelpon jiyeon, aku ingin menanyakan kabarnya karena sejak kemarin dia tidak pulang, aku takut terjadi sesuatu padanya. Cukup lama aku menunggu jiyeon mengangkat telponku tapi tuutt, dia mematikan telponnya, ada apa dengannya, aku mencoba menelponnya sekali lagi tapi nomornya sudah tidak aktif. Kenapa dengan jiyeon?

 

————–

 

~jiyeon POV~

Sesampai di sekolah aku segera menuju kelas, tapi sesampainya di kelas sebuah pemandangan yang tidak mengenakkan menghampiri kedua mataku, minho sedang berpelukan dengan seorang yeoja, aku tidak tahu siapa yeoja itu. “gomawo oppa, sudah mau menerimaku sebagai yeojachingumu.” Ujar yeoja itu. ‘mwo? Y, yeojachingu?’ apa pendengaranku sudah tidak normal? Yeojachingu katanya? Kulihat minho tersenyum padanyas dan menoleh kearahku, dengan cepat aku membuang pandanganku dan berjalan menuju kursiku. “oppa, kau tahu, sejak dulu aku sangat ingin jadi yeojachingumu, saranghae oppa.” Ujar yeoja itu manja, ne, dari tempat dudukku aku masih bisa mendengar percakapan mereka. “omo! yeoja itu centil sekali.” Pekik krystal yang duduk di sampingku. “jiyeon~aa, gwenchanayo?” Tanya krystal. Aku menoleh ke arah krystal. “wae?” tanyaku seakan tak peduli. “I, itu, minho, minho..” krystal tak melanjutkan perkataannya dan menatapku. “krystal~aa, kau sudah berapa lama kau mengenalku? Kau seperti tidak tau diriku saja.” Ujarku setenang mungkin, walau dalam hati terasa sangat sakit. Aku mengambil headset dan ipad ku ku pasang headset di telingaku dan memutar music sekencang2 nya agar tak mendengar pembicaraan minho dengan yeoja itu lagi.

 

~minho POV~

Saat aku bersama di kelas bersama yeoja yang sekarang ini ada yeojachinguku, jiyeon masuk ke kelas, aku menoleh kearahnya dan dia segera membuang muka dan duduk di bangkunya bersma krystal. “jiyeon~aa, gwenchanayo?” Tanya krystal, dari bangku ku aku dapat mendengar pebicaraan jiyeon dan krystal. Ku lihat jiyeon menoleh ke arah krystal. “wae?” tanyanya tak peduli. “I, itu, minho, minho..” krystal tak melanjutkan perkataannya dan menatap jiyeon. “krystal~aa, kau sudah berapa lama kau mengenalku? Kau seperti tidak tau diriku saja.” Ujar jiyeon terlihat tenang. Aish, kenapa jawabannya begitu? Jujur aku kecewa dengan jawabannya yang seakan tak peduli. Kulihat jiyeon mengambil headset dan ipad lalu memasangnya di telinga, dan itu berarti dia tidak akan mendengar pembicaraanku dengan yeoja ini, haah, sudahlah, lebih baik ku suruh pergi saja yeoja ini. “pergilah.” Ujarku. “hah? Waeyo?” tanyanya. Aish dasar pabbo. “kita putus.” Ujarku malas. “mwo?!” w, waeyo? Bukankah kita baru jadian? Kenapa kau berkata seperti itu?” ujarnya. “sudahlah pergilah. Aku sedang tidak ingin diganggu.” Aku mengalihkan pandanganku ke luar jendela. *ihh,minho oppa tega. Hihi* akhirnya yeoja menyebalkan itupun pergi. Haahh, baguslah. Aku menoleh kearah jiyeon, ‘dia benar2 tidak peduli.’ Batinku.

 

————-

 

~author POV~

Sepulang sekolah jiyeon berniat mencari tahu soal kedua orang tuanya, ya, dia mulai mencari tahu keberadaan teman2 orang tuanya, dimana jedua orang tuanya tinggal dulu, semua itu dia lakukan untuk mendapatkan bukti yang konkret untuk menuduh athena sebagai pembunuh kedua orang tuanya. Hari ini jiyeon berencanna untuk menemui salah satu teman ibunya (kim tae hee) yaitu im yoona *Cuma minjem nama*, sahabat kim tae hee. “aku harus menemuinya, mungkin saja dia tahu hubungan eomma dan appa dengan Athena.” Ujar jiyeon memasuki mobilnya dan melaju ke rumah im yoona yang alamatnya sangat susah ia dapatkan. Tanpa jiyeon sadari ternyata TOP mengintainya sejak tadi dan mengikutinya sampai di rumah nyonya im. Sesampainya di rumah im yoona, jiyeon segera mengetuk pintu rumah dan memencet bel beberapa kali sampai seorang wanita yang kira-kira berumur 40 tahunan. “annyeonghasaeyo ahjuma.” Sapa jiyeon. Dari kejauhan seunghyun memperhatikan jiyeon dan nyonya im.

maaf, apa anda yang bernama im yoona?”

ne, aku im yoona, ada apa ya?”

perkenalakan aku park jiyeon, anak dari park jungsu dan kim tae hee.” Jiyeon mengulurkan tangannya. Nyonya yoona terlihat sedikit kaget dan kemudian dengan sedikit ragu menjabat tangan jiyeon. “Kau adalah sahabat dekat eommaku kan?”

n, ne. waeyo?”

Jiyeon tersenyum, “aku ingin bicara denganmu dan bertanya beberapa hal, boleh?”

boleh, ayo masuk dulu.” Nyonya yoona mempersilahkan jiyeon untuk masuk ke dalam rumahnya yang tidak terlalu mewah. Saat jiyeon dan nyonya im masuk, seunghyun mendekat kerumah nyonya im dan mengintip ke dalam rumah berusaha mendengar pembicaraan jiyeon dan nyonya im. “duduklah.” Ujar nyonya im. “kau ingin minum apa?” lanjutnya.

aniyo, tidak usah.”

gurae, kau ingin bertanya apa?”

emm, begini, kau kan adalah sahabat dekat eommaku, jadi kau pasti tahu tentang eommaku, kau tahukan 10 tahun yang lalu, saat aku berumur 7 tahun, kedua orang tuaku meninggal terbunuh, dan di duga pembunuh kedua orang tuaku adalah organisasi Athena, apa kau tahu hubungan kedua orang tuaku dengan Athena?”

A, Athena?” Tanya nyonya im. ‘bukankah itu organisasi yang di pimpin oleh park gi tae.’ Batinnya.

ne, Athena, apa kau tahu?”

aku tidak begitu yakin, tapi kalau tidak salah itu adalah organisasi yang di pimpin oleh park gi tae.”

benar, organisasi itu di pimpin oleh park gi tae, apa kau tahu apa hubungannya dengan kedua orang tuaku?”

park gi tae adalah temanku dan tae hee, kami berteman sangat dekat karena kami tinggal di panti asuhan yang sama, setelah kami cukup dewasa, kami memutusakan untuk meninggalkan panti asuhan itu dan mencoba mengadu nasib di seoul, tapi ternyata mencari pekerjaan tak semudah yang kami bayangkan, dan,,, akhirnya,,,,” nyonya im dia sejenak, mimic wajahnya berubah menjadi sedih. “aku dan tae hee mengambil jalan pintas..” yonna menarik nafas dalam2 sebelum melanjutkan ceritanya. “kami, kami memutuskan untuk menjadi,,, p, pelacur.” Lidah yoona terasa kelu mengatakan hal itu. “m, mwo?!” mata jiyeon membelalak mendengar hal itu. “keputusan itu adalah keputusan terbodoh dalam hidupku, tapi kami benar2 kehilangan jalan keluar, kami sudah tidak punya uang sama sekali bahkan hanya untuk membeli air minum pun kami tak punya. Saat aku dan tae hee melakukan pekerjaan hina itu, park gi tae juga berusaha mati matian mencari uang, mulai dari kerja serabutan, namun hal itu masih juga tidak cukup, sampai akhirnya gi tae mulai membangun organisasi Athena bersama teman2 premannya, sedangkan aku dan tae hee masih melakukan pekerjaan hina itu, namun hal yang tidak kami sangka terjadi, tae hee hamil, tae hee tidak ingin menggugurkan janinnya dia terus menjaganya sampai bayi laki2 itu lahir ke bumi ini.” nyonya im berhenti sejenak. Sedangkan di luar rumah, seunghyun sangat terkejut mendengar cerita nyonya im, tiba2 HP nya bergetar, ternyata park gi tae menelponnya dan menyuruhnya kembali, maka TOP pun menurutinya. “karena pekerjaannya, jadi tak seorangpun yang tahu siapa ayah dari anak itu.” lanjut nyonya im. ”gi tae yang sudah lama menyukai tae hee, akhirnya bersedia merawat anak itu dan tae hee bisa kembali bekerja mencari uang tanpa harus terbebani dengan statusnya yang sudah memiliki anak, tak lama seorang pria bernama lee tae sung mulai dekat dengan tae hee dan akhirnya mereka berpacaran, hal itu cukup membuat gi tae terguncang karena tae sung adalah temannya, karena tae sung, tae hee berhenti menjadi pel*cur dan mencari pekerjaan yang lain, tiba2 seorang pria dari keluarga kaya raya jatuh cinta pada tae hee yang kebetulan bekerja di perusahaan keluarganya dan pria itu adalah park jungsu, ayahmu. Jungsu mendekati tae hee sampai akhirnya dia meminta tae hee untuk menikah dengannya, tae hee yang masih berstatus sebagai pacar tae sung, awalnya tidak ingin menerima lamaran junsu namun entah kenapa tae hee menerima lamaran jungsu dan menikah dengannya. Aku, gi tae dan tae sung sangat terkejut mendengar hal, tae sung sangat sedih, begitu pun gi tae. Setelah itu aku jarang berkomunikasi dengan tae hee, gi tae, atau pun tae sung, sampai sepuluh tahun yang lalu aku mendengar kematian tae hee dan jungsu.” Jelas nyonya im panjang lebar. Jiyeon tak dapat menahan air matanya, ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya, mencoba mencerna setiap kata yang di ucapkan nyonya im. “l, lalu di mana anak laki2 yang dilahirkan oleh eomma? Apa dia masih hidup? Setidaknya aku masih mempunyai kakak, walaupun tidak se ayah denganku.” Ujar jiyeon. “ne, dia masih hidup dan orang yang merawatnya dari dulu sampai sekarang yang menjaganya adalah park gi tae.” Jawab nyonya im. “m, mwo?! Park gi tae?!” pekik jiyeon. “kau tahu siapa namanya?” Tanya jiyeon lagi. “mollayo, aku hanya tahu gi tae yang menjaganya, sebelum aku berhenti menjalin kontak dengan mereka.” Kata nyonya im. “guraeyo, gomawo sudah menceritakan semuanya. Aku permisi dulu.” Jiyeon pun pamit. “ne.” sahut nyonya im. Jiyeon pun pergi meninggalkan ruamah nyonya im.

 

~jiyeon POV~

Aku melajukan mobilkuku menuju apartemenku. ‘aku harus mencari tahu siapa oppaku, kudengar, park gi tae hanya mempunyai satu putra, mungkinkah itu adalah kakak ku? Tapi siapa dia?’

TBC

jebal di komeeeeeeeeeeeeeeeeennnnnn yaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhh, yang udah baca ni FF trus ga kasih komentar, aku sumpahin biasnya ilang (?) 😀

Running up part 7

Running up part 7

Author   : choi hee young

Length    : chaptered

Genre      : Thriller, action, romance

Cast          :

Choi minho Shinee
 Park ji yeon T-ARA
Choi siwon Super Sunior
Sandara park 2NE1
TOP BigBang

Support cast :

kyuhyun super junior
Krystal f(x)

Track    :

MBLAQ – running & running
Shinee – Lucifer
SNSD & 2PM – cabi song
MBLAQ – bang bang bang
Taeyeon – I love you
Rainbow – you and I

  

 ~author POV~
Sesuai rencana, hari ini siwon, ji yeon, dara dan minho berangkat ke pulau yang di maksud dara sebagai tempat penyimpanan chip itu. Mereka pergi ke pulau itu dengan pesawat dan menempuh perjalan selama 3 jam 45 menit.

    ~ji yeon POV~
Hari ini aku  pergi ke pulau yang di maksud dara eonni. Sepanjang perjalan tak ada lagi yang dapat kupikirkan kecuali chip itu, pokoknya chip itu tidak boleh di dapatkan oleh Athena.

    ~dara POV~
Selama perjalanan menuju pulau itu  aku terus terbayangi oleh masa laluku saat di pulau itu, rasa sakit, senang, semua bercampur di pulau itu, apa aku akan kuat jika melihat tempat itu lagi? Tempat di mana ayahku di bunuh dengan kejam, tempat di mana aku bersenang-senang dengan appa untuk yang terakhir kalinya. Pulau itu sangat berharga bagiku namun pulau itu juga adalah memori terburukku.

    ~author POV~
Tepat pukul 05.00 sore dara, ji yeon, siwon dan minho sampai di pulau itu. “aigoo, badanku pegal semua.” Dara merenggangkan otot-ototnya yang sudah kaku. “hmmpphhh..” ji yeon menarik nafas dalam2 sambil memejamkan matanya. “udara di pulau ini segar juga.” Lanjutnya. “namun menyakitkkan.” Ujar dara lirih namun masih dapat terdengar oleh siwon yang berdiri di sampingnya. “bagaimana kalau kita istirahat dulu.” Saran minho. “benar, istirahat saja dulu, besok baru kita mulai mencari chipnya.” Timpal ji yeon. “ne, lagi pula hari juga akan malam.” Siwon membenarkan. “ya sudah, kita cari hotel sekarang.” Ujar ji yeon. “ne, kajja.”
“changkaman.” Pekik minho.
“wae?”
“apa kita tidak akan di curigai?
“maksudmu?” ji yeon mengernyitkan keningnya.
“kata dara noona kan, ayahnya di bunuh oleh Athena di pulau ini, jadi bukan hanya kita saja yang tahu pulau ini tapi Athena juga tahu dan mungkin saja mereka juga mencoba mencari chip itu di sini, dan mencoba mengikuti kita agar menemukan tempat chip itu.” Jelas minho panjang lebar.
“benar juga.” Gumam dara.
“lalu bagaimana?” Tanya ji yeon.
“kalau begitu kita harus membuat mereka tidak mengenali kita.” Usul siwon.
“bagaiman caranya?” Tanya dara.
“bagamana kalau menyamar?” Ji yeon menjentikkan jari lentiknya.
“ah! Matta.” Pekik dara.
“tapi menyamar jadi apa?” kini minho ikut bingung.
“yang pasti kita harus berpisah, agar tak menarik perhatian.” Kata ji yeon.
“andwae, bagaimana kalau terjadi sesuatu..” bantah minho.
“tapi kalau begini pasti akan gampang ketahuan.” Dara angkat bicara.
“begini saja, kita berpencar menjadi 2, otthe?” saran siwon.
“gurae, kajja dara eonni.” Ajak ji yeon.
“ya! perempuan dua2nya mereka akan mudah menyerang pabbo.” Ujar minho, ji yeon hanya mendengus di sebut ‘pabbo’ oleh minho.
“kalau begitu…” kata2 dara tergantung.
“dara eonni pergi dengan siwon oppa saja.”
“ne?” wajah dara sedikit memerah.
“gurae, aku dan dara lalu kau dan minho. Minho~aa, jaga ji yeon baik-baik, kalian jangan bertengkar, araseo?” perintah siwon.
“ne.” sahut minho, ji yeon hanya diam saja karena sedari tadi ia merasa tidak nyaman, dia merasa ada yang sedang meperhatikan, dengan cepat ji yeon mengalihkan pandangn ke sembarang arah dan ternyata benar mata cantiknya menangkap seorang namja berpakaian serba hitam sedang memperhatikan mereka, namja itu segera bersembunyi setelah melihat ji yeon mulai menyadari keberadaannya. “aku rasa kita sedang di pantau.” Bisik ji yeon.
“mwo?” minho kaget.
“sebaiknya kita kabur saja sekarang.” Saran dara.
“ne, dalam hitungan ketiga kalian harus lari.” Perintah siwon.
“hana…” siwon mulai berhitung, sementara dara, minho dan ji yeon bersiap untuk lari.
“dul…”
“set…” seketika minho menarik tangan ji yeon untuk berlari begitupun dengan siwon yang menarik tangan dara, mereka berlari kea rah yang berbeda sehingga memebuat namja yang mengintai mereka kewalahan. “sial!” gerutu namja itu. Minho dan ji yeon terus berlari tanpa arah, berusaha menghilangkan jejak dari namja itu. “minho~aa.” Panggil ji yeon yang masih terus berlari. “wae?”
“lihat, bagaimana kalau kita begabung di sana.” Usul ji yeon sembari menunjuk ke arah kumpulan orang2 yang hendak mengikuti pelatihan olahraga air di pulau itu.
“mwo?! Tapi..”
“sudahlah, dari pada kita tertangkap, kajja.” Mau tidak mau minho akhirnya mengikuti ji yeon. sementara itu, dara terus berlari bersama siwon, mereka berlari sekencang mungkin sampai, BRUKK, dara menabrak seorang halmeoni. “choseonghamnida halmeoni.” Dara membungkukkan badannya.
“dara~aa, gwenchana?” siwon menghampiri dara.
“ne, sekali lagi maaf halmeoni.”
“ne, gwenchana, hajiman, kenapa kalian berdua lari2 seperti itu?” Tanya halmeoni itu heran.
“ne?” siwon bingung menjawab pertanyaan halmeoni itu.
“kami,,, kami hanya olahraga kok, heehehehe.” Sahut dara.
“ah! Matta, kami olahraga sore.” Siwon membenarkan.
“aigoo, pengantin baru memang romantic, olahraga saja sampai pegangan tangan.” Ujar halmeoni itu.
“ne?” dara dan siwon membulatkan mata mereka.
“oh, ya, ngomong2 kalian tinggal di mana?”
“uri? Euummm” dara mencoba berpikir.
“ah! Matta, kalian baru sampai ya? pantas saja bawa tas sebesar itu, apa tidak capek olahraga sambil membawa tas seberat itu?”
“ani, hehehe.”
“jadi kalian belum punya tempat menginap?”
“ah, ne.” sahut dara.
“bagaimana kalau di rumahku saja?”
“ne?”
“kalian bisa tinggal di rumahku.” Ujar halmeoni itu, dara berpikir sejenak lalu berbisik pada siwon. “kita terima saja ajakannya, Athena tidak akan mencurigai kita, jika kita menyamar dan tinggal di rumah warga, otthe?” dan siwon mengangguk.
“baik halmeoni, kami mau, sebelumnya gamsahamnida.” Dara dan siwon membungkuk.
“ne, cheonma.. kajja, rumahku tidak jauh kok.” Dara dan siwon pun pergi kerumah halmeoni itu. “ini dia rumahku, yah, tidak besar sih, ku harap kalian nyaman ya.”
“bagus kok rumahnya, kami pasti akan nyaman.” Sahut dara ramah.
“wah baguslah, ayo ku antar ke kamar kalian.” Dara dan siwon mengikuti halmeoni itu untuk masuk ke dalam rumahnya. “ini kamar kalian.” Ujar halmeoni itu berdiri di depan sebuah kamar. “ini?” Tanya dara tak yakin karena halmeoni itu hanya meberikan satu kamar. “ne.”
“apa ada kamar kosong yang lain?” Tanya siwon sesopan mungkin.
“tak ada, aku hanya punya 2 kamar, yang satu adalah kamarku jadi hanya ini kamar yang kosong.”
“tapi…” dara kebingungan.
“sudah,,, kalian tidak perlu merasa tidak enak, aku maklumi kok pengantin baru, hehehe.” Ujar halmeoni itu sementara siwon dan dara hanya terdiam. “yasudah, istirahatlah.” Ujar halmeoni itu dan berlalu dari hadapan mereka. “bagaimana ini?” dara kebingungan. “kenapa kalian masih di luar? Sudah sana, istirahat.” Halmeoni itu mendorong siwon dan dara masuk ke dalam kamar. Di saat dara dan siwon kebingungan karena mereka dikira pengantin baru, ji yeon dan minho sedang di bombing layaknya peserta pelatihan olahraga air lainnya, mereka di ajak keliling pantai untuk melihat arena latihan mereka setelah itu mereka di antar ke hotel tempat para peserta lain menginap. “aigoo, aku lelah sekali.” Keluh ji yeon sesampai di hotel. “setidaknya dengan menyamar menjadi peserta kita tidak akan ketahuan oleh Athena, istirahatlah.” Ujar minho. Minho dan ji yeon pun mengistirahatkan diri di kamar masing-masing. Berbeda dengan minho dan ji yeon yang dengan nyaman bisa beristirahat di kamar masing-masing, kini dara dan siwon harus berpikir cara mereka untuk tidur, karena di kamar yang di sediakan halmeoni itu hanya ada satu tempat tidur. “bagaimana ini?” dara kembali memutar otaknya. “aku tidak mau tidur di bawah.” Ujar siwon. “tapi kau kan namja, masa’ kau mau membiarkan seorang yeoja tidur di lantai.” Keluh dara. “tapi aku juga tidak mungkin tidur di bawah, di sini tak ada karpet atau apaun untuk di jadikan alas.”
“huahh.. ottokhe?” gerutu dara.
“sudah ah, aku lelah.” Siwon berbaring di ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut. “ya! lalu aku bagaimana?”
“molla.”
“ish! Napeun.” Gerutu dara.
“terserahlah, aku lelah, mau tidur.” Siwon mempernyaman posisinya. “siwon~aa.” Panggil dara namun tak ada sahutan. “ish!” dengan terpaksa dara pun tidur di ranjang yang sama.

    ~dara POV~
Deg, Omo! Kenapa lagi ini?! tenang dara, this is just sleep together! Aku memaksa memjamkan mataku walaupun jantungku berdegup kencang. Perlahan tapi pasti mataku mulai merasa lelah dan aku terlelap.

@ the same island

    ~TOP/seung hyun POV~
Orang suruhanku datang ke kamar hotelku. “maaf tuan, orang2 yang anda minta untuk saya ikuti menghilang.” Ujarnya. “mwo?! Sial!” bagaimana bisa?! Aku harus mendapatkan chip yang di minta appa, dan kuncinya adalah dara dan ketiga orang itu. “dasar ceroboh.” Terdengar suara appa dan DORR peluru melesat cepat dari pistol yang di pegang appa ke kepala orang suruhan itu. Mataku membelalak melihatnya, apa sekejam ini?! apa aku harus sekejam ini bila ingin bertahan hidup?! “abeoji..” ujarku. “wae? Orang seperti dia memang pantas mendapatkannya, dan kau! Jika kau tidak ingin dihianati maka harus beginilah caramu, araseo?!” tegas appa.

Keesokan harinya…

    ~author POV~
“eughhh..” ji yeon keluar dari selimutnya karena pintu kamarnya di gedor2 oleh seseorang, dengan malas ji yeon melangkahkan kakinya ke pintu dan……
“YA! KENAPA KAU BARU BANGUN?!” teriak seorang ahjushi.
“ne?” Tanya ji yeon bingung.
“semua teman2 peserta pelatihan sudah siap, tinggal kau dan temanmu yang belum ada!” kata ahjushi itu. ‘omo! Benar! Aku dan minho menyamar menjadi peserta pelatihan.’
“sekarang CEPAT MANDI DAN PERGI KE LOBI, biar aku yang membangunkan namja itu.” Ujar ahjushi itu sembari berjalan ke kamar minho dan menggedor-gedor pintu kamar minho. “ish! Kenapa jadi seperti ini?! sial!” gerutu ji yeon. di waktu yang sama dara juga baru saja bangun dari tidurnya, perlahan di bukanya mata yang terasa berat namun matanya segera mebelalak mendapati wajah siwon yang sedang tertidur tepa di depannya. “hmmph.” Dengan cepat dara menutup mulutnya dengan kedua tangannya agar tak berteriak saking kagetnya. ‘omo!’ batin dara, tanpa ia sadari dara terus memandangi wajah siwon yang masih tertidur lelap. ‘kalau di lihat-lihat, wajahnya sempurna, hidung mancung, mata lumayan bulat, kulit mulus tak ada cacat sedikitpun.’ Pikir dara. “eughh.” Siwon mulai menggeliat, karena tak sempat bangun terpaksa dara kembali menutup matanya sambil pura-pura tidur, kini gentian siwon yang memperhatikan wajah dara yang manis, ‘wajahnya jauh lebih muda dari umurnya, dia masih terlihat seperti mahasiswa, hahahaha’ batin siwon. Tok, tok, tok, ketukan pintu dari halmeoni berhasil membuyarkan lamunan siwon dan menyelamatkan dara sebelum wajahnya memerah di hdapan siwon. “ye.” Sahut siwon membukkan pintu kamar. “aku sudah siapkan sarapan, wahh, anae mu masih tidur ya.” ujar halmeoni itu melihat dara masih memejamkan matanya di ranjang empuknya. “ah, n, ne..” siwon menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “ya sudah, aku tunggu di meja makan ya.” halmeoni itu pergi. “ne.” sahut siwon. “eughh..” dara pura-pura mengucek matanya. “kau sudah bangun, cepatlah mandi, halmeoni sudah menunggu untuk sarapan, setelah itu kita pergi ke tempat chip itu.” Ujar siwon. “ne. tapii, ji yeon dan minho kemana? Mereka tak memberi kabar apapun.” Ujar dara. “nanti ku telpon minho.” Sahut siwon.

————–

    ~author POV~
Ji yeon dan minho berkumpul bersama peserta pelatihan lainnya agar tidak menimbulkan kecurigaan. “baik, karena semuanya sudah berkumpul, kajja kita semua ke pantai untuk memulai latihan.” Titah pelatih yang tadi pagi membangunkan ji yeon dan minho. “aigoo, kalau begini mana bisa kita mencari chip itu.” Gerutu ji yeon saat mereka sampai di pantai bersama peserta yang lain. “ini pakaian latihannya, cepat ganti pakaian, ku beri waktu 5 menit, araseo?!” pelatih itu membagikan pakaian seragam untuk latihan, semua peserta termasuk ji yeon dan minho (peserta gadungan) pun bubar untuk mengganti pakaian, peserta namja hanya memakai celana dan shirtless sedangkan peserta yeoja memakai hotpants dan tanktop  mini yang memperlihatkan sebagian perut (bayangin aja pakaian SNSD & 2PM yang di caribean CF). setelah mengganti pakaiannya, ji yeon menelpon dara…
“yobosaeyo.”
“eonni, kau dimana?” Tanya ji yeon setengah berbisik.
“aku ada di rumah warga yang tinggal di pulau ini, kau sendiri di mana? Kau tetap bersama minho kan?”
“ne, tenang saja, aku tetap bersama minho kok, hajiman..”
“wae?”
“sekarang kami terjebak dalam penyamaran.”
“maksudmu?”
“nanti saja ku jelaskan, yang terpenting sekarang adalah chip itu, kau dan siwon oppa pergilah duluan untuk mencari chip itu, nanti aku dan minho akan berusaha kabur dan menyusul kalian.”
“gurae, nanti ku beritahu kabar selanjutnya.”
“ne.” tuuttt.
“YA! kenapa masih diam di sana?! Kajja, nanti kau di hukum oleh pelatih.” Teriak seorang yeoja pada ji yeon. “ne.” ji yeon segera berlari ke tempat mereka berkumpul. Mereka memulai latihan dan dengan terpaksa ji yeon dan minho pun mengikuti latihan itu, setelah beberapa jam latihan akhirnya mereka mendapat waktu istirahat walaupun hanya setengah jam. “aigoo, menyebalkan! Sudah tahu sinar mataharinya sangat menyengat, malah di suruh latihan! Huh!” gerutu ji yeon sambil mengipas wajahnya dengan tangan. “ini, minumlah dulu, setelah itu kita pikirkan cara untuk kabur.” Minho datang dan memberi sekaleng minuman pada ji yeon. “thank’s.” sahut ji yeon membuka minuman kaleng itu dan meneguknya. “lalu sekarang bagaimana caranya kita kabur dari pelatih galak itu?” lanjutnya. “euumm.” Minho menatap lurus ke arah pantai. “kita kabur sekarang saja.” Lanjutnya. “maksudmu?”
“hanya sekarang kita punya waktu, karena jika latihannya di mulai lagi, akan susah kabur dari pelatih itu. Kau siap?”
“mwo?” ji yeon membulatkan matanya, dan dengan cepat minho menarik tangan ji yeon untuk berlari dari lokasi latihan tersebut, “YA! KALIAN MAU KEMANA?! YA!” teriak pelatih itu dari kejauhan dan hendak mengejar minho dan ji yeon namun mereka sudah terlanjur jauh sehingga pelatih itu tak dapat mengejar mereka. “ya! minho~aa, sepertinya pelatih itu sudah tidak mengejar.” Ji yeon menghentikan larinya dan berusaha mengatur nafasnya yang tak beraturan karena berlari terlalu jauh. “ baguslah, sekarang kita ke hotel saja, kita ambil semua barang kita, lalu pindah ke hotel lain, dari pada membuang waktu untuk pelatihan bodoh itu.” Saran minho. “uhm. Kajja.” Ji yeon menurut. Berbeda dengan minho dan ji yeon yang kesusahan kabur dari pelatih itu, dara dan siwon dengan mudah bisa pergi dari rumah halmeoni tempat mereka menginap, “sekarang kita cari kemana chip itu? Lalu, apa kau sudah tahu dimana ji yeon dan minho? Tadi kau bilang ji yeon menelfonmu.” Ujar siwon. “kata ji yeon dia dan minho terjebak dalam penyamaran mereka jadi mereka meminta kita untuk pergi duluan mencari chip itu. Dan chip itu…” dara berusaha mengingat. “seingatku, appa mengubur benda berharga yang ku rasa adalah chip itu di lahan tempat di bangunnya sebuah bangunan yang besar dan bertingkat karena pondasinya yang terlihat kuat.” Jelas dara. “kau tahu di mana lahan tempat bangunan itu di bangun?” Tanya siwon. “eumm.. mollayo. Tapi jika aku melihat bangunan atau sesuatu yang bisa mengingatkanku dengan tempat itu, ku rasa aku akan ingat.” Lanjutnya. “changkaman.. bangunan bertingkat dan besar,,,,” pikir siwon. “tidakkah kau berpikir hotel? Karena biasanya bangunan bertingkat dan besar seperti adalah kantor atau hotel, kalau dilihat dari tempatnya, tidak mungkin di sini di bangun kantor, jadi kemungkinan terbesarnya hanyalah hotel.” Jelas siwon. “benar juga..” gumam dara. “hajiman,,, di sini bukan hanya ada 1 atau dua hotel, bagaimana bisa menemukannya?” lanjutnya. “itu tergantung ingatanmu tentang tempat itu.” Sahut siwon. “kajja, pakai topimu, agar tidak ketahuan Athena.” Suruh siwon, mereka menyamarkan identitas dengan memakai pakaian layaknya orang yang tengah liburan ke pulau ini. sementara dara dan siwon berkeliling mencari letak bangunan tempat chip itu di sembunyikan, ji yeon dan minho buru-buru membereskan barang2 mereka yang ada di hotel. Tuutt. “yobosaeyo…… eonni, kau di mana?…… ah, gurae, kami akan ke sana.” Tuutt.

TBC

otthe???? RCL *wink* ;-*

[twoshoot] Mianhe, chingu part 2

Mianhe, chingu part 2

 

Author : choi hee young

Length : twoshoot

Genre : sad, friendship

Cast : Suzy Miss A

Ji yeon T-ara

IU / lee ji eun (singer)

Minho Shinee

 

~suzy POV~

suzy, saranghe~ jadilah yeojachinguku.” Deg, jantungku berdebar cepat mendengar pernyataan itu, kau tahu dengan semua perlakuan minho padaku aku merasa nyaman dan sedikit demi sedikit menghapus kenangan buruk itu dari pikiranku. “kalau kau menerimaku lepaskan balon2 ini ke udara hajiman, kalau kau tidak menerimaku pecahkan semua balon ini.” Ujar minho memberikan jarum dan balon padaku. Jujur aku pun sudah mulai mencintainya, ku buang jarum yang di berikan minho dan ku lepaskan balon2 itu ke udara, ku lihat senyuman indah merekah di wajah minho. “jadi kau menerimaku? Gomawoyo..” minho memelukku, hangat sangat hangat. “ya! Aku melepaskan balon itu karena aku malas memcahkan balon2 sebanyak itu.” Gurauku. “ne, araseo, araseo, kau pasti akan menerimaku.” Sahutnya meledek. “hh, kau ini ge’er sek-“ chu~ sebelum aku melanjutkan kata-kataku minho sudah mengunci bibirku dengan bibirnya. Ku pejamkan mataku. Saranghe minho~aa.

 

~ji yeon POV~

Aku kembali dari toilet bersama ji eun menuju tempat di mana minho oppa dan suzy menunggu dan betapa kagetnya aku melihat minho oppa dan suzy tengah berciuman, sakit sekali rasanya. Aku berusaha menahatn airmataku agar tidak keluar, ku paksakan senyumku dan berjalan mendekati mereka. “wahh kalian” seru ji eun tak percaya. Wajah minho oppa dan suzy memerah. “wah,,, chukkae..” ujarku tersenyum walau hatiku menangis.

 

~author POV~

Hari demi hari mereka lalui bersama, suzy dan minho semakin saling mencintai sementara ji yeon terus menahan sakit di hatinya. Hari itu ji eun pulang sendiri karena ji yeon dan suzy masih ada janji dengan minho sementara appanya meminta ji eun untuk pulang lebih awal karena ada hal penting yang harus di bicarakan.

 

~ji eun POV~

appa aku pulang..” ujarku sesampai di rumah. “kau sudah pulang, kemarilah.” Sahut appa dari ruang tamu. “ada hal apa? Kenapa appa memintaku pulang cepat?” tanyaku penasaran. “sebentar malam ikut appa untuk makan malam jangan lupa dandan yang cantik.” Ujar appa. “waeyo? Untuk apa aku berdandan cantik malam ini?” tanyaku heran. “karena malam ini kau akan bertemu calon suamimu.” Jelas appa. “MWO?! Suami? Tapi aku kan masih SMA.” Ujarku kaget. “3 bulan lagi kau ulangan akhir dank au akan segera lulus SMA, setelah itu baru kau menikah.” Jelas appa. “tapi appa aku..”

tak ada bantahan. Ini untuk kemajuan perusahaan putra dari keluarga itu adalah mitra bisnis yang paling tepat, kalau kau membantah maka appa akan menghentikan pengobatan ibumu yang sudah tidak berdaya itu! Araseo!” bentak appa, ani, lebih tepatnya appa tiri ku, aku tak dapat membantah, karena jika aku membantah appa pasti akan menghentikan pengobatan eommaku yang sedang koma di rumah sakit.

 

~minho POV~

minho, kemarilah.” Panggil appa dari ruang tengah. “ada apa appa?” tanyaku menghampiri appa. “siapkan dirimu untuk sebentar malam.” Ujar appa. “memangnya ada apa?” tanyaku penasaran. “sebentar malam appa akan mepertemukanmu dengan calon istrimu.” Jelas appa. “mwo? Tapi appa…” bibirku beku tak dapat membantah, ne, appa sudah seperti tuhan bagiku, aku tak dapat membantah perintahnya, dia memintaku sekolah di amerika, ku turuti, dia memintaku kembali ke korea ku patuhi tapi untuk yang satu ini,,, sungguh aku tak ingin, tapi apa yang bisa ku perbuat.

 

~author POV~

Malam pun tiba, ji eun pergi bersama appanya ke restoran tempat dia harus bertemu calon suaminya. “wah, anda sudah datang tuan lee.” Sambut tuan choi dan istrinya. “ne, perkenalkan ini putriku, lee ji eun.” Ujar appa ji eun. “annyeonghasaeyo. Lee ji eun imnida banggapseumnida.” Ji eunmemperkenalkan diri. “oh iya, minho kemarilah” ujar tuan choi pada namja yang sedang menelpon. “ne appa.”

 

~ji eun POV~

ne appa” namja itu berbalik, OMO! Itu kan minho. “k,,kau..” seruku kaget, bagaimana tidak, mana mungkin aku menikah dengan namjachingu sahabatku sendiri. “ji eun, jadi kau..” ujar minho tak kalah kaget. “wah, jadi kalian sudah saling kenal? Bagus kalau begitu.” Seru nyonya choi gembira. Aku menghembuskan nafas berat. Kenapa begini? Kenapa harus minho? Kenapa?! AISH! “oh ya, kalian akan menikah setelah ji eun lulus SMA, jadi sering2lah jalan bersama agar lebih dekat, ne?” ujar appa minho, huh! Kenapa hidupku jadi seperti ini?! ISH! Tapi apa yang bisa ku lakukan? Jika aku menentang maka keselamatan eomma yang paling kusayangi akan terancam. Suzy, mian.

 

~author POV~

Keluarga choi dan keluarga lee sudah selesai makan malam. “minho, kau antar ji eun pulang ya, soalnya setelah ini appa masih ada urusan dengan appanya ji eun.” Ujar tuan choi. “eh, tak apa, aku bisa pulang sendiri kok.” Sahut ji eun. “andwae, anak gadis itu tidak baik kalau pulang sendiri, minho, sana, antar ji eun pulang.” Ujar nyonya choi. “ne.” sahut minho pasrah. “tidak bisakah kau meminta appamu untuk mebatalkan pernikahan kita?” Tanya ji eun pada minho di tengah perjalanan ke rumah ji eun. “kenapa bukan kau saja yang memintanya, kurasa permintaan seorang anak perempuan akan lebih di ikuti.” Ujar minho. “hhh, percuma.” Ujar ji eun pasrah, tes~ air mata ji eun menetes begitu saja. “k,,kau kenapa?” Tanya minho khawatir karena ji eun tiba2 menangis. “mianhe, aku tidak bisa melakukan apapun untuk membatalkan pernikahan ini.” Ujar ji eun dengan suara bergetar. “……”minho hanya diam. “ku mohon jangan beritahu suzy tentang hal ini, aku tidak akan kuat melihatnya nanti.” Ujar ji eun terisak. “kau pikir bagaimana denganku? Aku juga tidak ingin melukai suzy.” Sahut minho. “makanya aku tak ingin suzy tahu.” Ujar ji eun. Hari terus berlanjut, ji eun dan minho tidak memberitahukan soal pernikahan mereka pada suzy, tak terasa 3 bulan berlalu, mereka pun lulus SMA.

 

~ji eun POV~

yeay! Aku lulus!” seru ji eun sesampai di rumahnya. “kau sudah pulang..” sambut appa. “hu’um.” Aku mengangguk. “cepatlah ganti bajumu. Nanti nyonya choi akan menjemputmu untuk melihat-lihat gaun pengantin.” Ujar appa. “ne?” tanyaku kaget, hhhhhhhhh…… benar, kata appa 3 bulan lalu, aku akan menikah dengan minho setelah aku lulus. Ottokhe? Bagaimana dengan suzy. Dengan terpaksa aku mengganti baju dan pergi bersama nyonya choi untuk melihat gaun pengantin. “ji eun, kemarilah, coba yang ini.” Ujar nyonya choi semangat. “ne” sahutku memaksakan senyumku. Tak lama aku keluar dari ruang ganti dengan menggenakan gaun pengantin. “wahh neomu yeoppo..” puji nyonya choi. “gomawo nyonya choi.” sahutku yang lagi-lagi dengan senyum palsu. Sungguh saat ini aku benar2 merasa bersalah pada suzy. “eh, jangan panggil nyonya choi lagi, seminggu lagi kan kau akan jadi anak menantuku. Panggil aku eomma, ne?” perkataan nyonya choi membuat ku benar2 merasa bersalah pada suzy. Mianhe suzy~aa aku tak dapat berbuat apapun. “e,,e, hajiman,,”

ah, tunggu sebentar biar ku telepon minho, agar dia melihat calon istrinya yang cantik ini.” Ujar nyonya choi.

 

———-

 

~ji eun POV~

Hufftt… aku menghempaskan tubuhku di kasur, besok, ne, besok adalah hari pernikahanku dengan minho dan sampai sekarang suzy ataupun ji yeon tak tahu hal ini. Ku raih ponsel ku, ‘sebaiknya ku beritahu ji yeon sekarang’

 

To : sweetest ji yeon

 

Ji yeon, mianhe, aku baru beritahu hal ini sekarang, besok aku dan minho akan menikah. Mianhe, jeongmal mianhe, aku tak bermaksud membohongi kalian, dan ini bukan keinginanku, appa tiriku yang memaksaku untuk melaksanakan pernikahan ini, dan dia menjadikan eomma ku sebagai ancaman, kau tahukan betapa sayangnya aku pada eommaku, jadi aku tak dapat berbuat apa-apa selain menuruti keinginan appa. Mianhe.

 

Aku membuang nafas panjang setelah mengirim SMS itu, semoga ji yeon mengerti.

 

~ji yeon POV~

Drrtt HP ku menunjukan icon 1 message.

 

From : ji eun eomma

 

Ji yeon, mianhe, aku baru beritahu hal ini sekarang, besok aku dan minho akan menikah. Mianhe, jeongmal mianhe, aku tak bermaksud membohongi kalian, dan ini bukan keinginanku, appa tiriku yang memaksaku untuk melaksanakan pernikahan ini, dan dia menjadikan eomma ku sebagai ancaman, kau tahukan betapa sayangnya aku pada eommaku, jadi aku tak dapat berbuat apa-apa selain menuruti keinginan appa. Mianhe.

 

MWO?! Apa ini?! ya tuhan.. bagaimana bisa?! Ji eun,,, ji eun menikah dengan minho oppa, namja yang sangat ku cintai dan juga namjachingu dari sahabat ku dan ji eun. Kalau ini cobaan untuk persahabatan kami, kenapa begitu berat? Segera ku balas SMS dari ji eun.

 

To : ji eun eomma

 

MWO?! Lalu apa suzy sudah tahu?

 

beberapa menit kemudian, drrrt, segera ku buka pesan yang ku yakin dari ji eun.

 

From : ji eun eomma

 

Belum, aku belum memberitahukannya, aku benar2 takut suzy akan sakit hati dan membenciku.

 

huffttt” aku meenghembuskan nafas berat. semoga tidak terjadi hal buruk pada persahabatan kami. Mataku memanas, butiran2 air mata mulai membasahi pipiku. Besok, besok aku harus melihat namja yang sangat kucintai menikah dengan sahabat ku sendiri, dan juga aku harus melihat suzy sahabatku merasakan sakit yang sama sepertiku.

 

~author POV~

Malam itu minho terus berpikir tentang pernikahannya dengan ji eun, “sebaiknya ku beritahu suzy sekarang.” Ujarnya segera meraih ponselnya.

yobosaeyo” terdengar suara ji eun di seberang sana.

ji eun~aa sebaiknya kita beri tahu suzy sekarang, aku takut jika dia mengetahuinya besok dia akan lebih marah.”

ne, kurasa juga begitu.”

gurae, kalau begitu ku jemput kau sekarang, dan aku akan meminta suzy untuk bertemu di café.”

ne..” tuutt..

Segera ku sms suzy untuk bertemu dan aku bergegas untuk menjemput ji eun.

 

~ji eun POV~

Setelah mendapat tlp dari minho aku segera siap2. ‘lebih baik ku minta ji yeon untuk datang ke café.’ Segera ku SMS ji yeon untuk datang ke café.

@café

 

~suzy POV~

Setelah mendapat sms dari minho aku segera menuju café untuk bertemu dengannya. Sesampai di café aku segera masuk kulihat di meja no. 4 minho melambai-lambai kan tangan kearah ku, kulihat ji yeon dan ji eun berada di sampingnya, ooo,, jadi dengan ji eun dan ji yeon juga ya, ku pikir hanya aku dan minho hehehe. Siapa tahu kencan.. “ayo duduk.” Ujar ji yeon. “ne..” aku segera duduk di samping minho dan ji yeon. “uhm,,, begini.. ada hal yang ingin kami beritahu.” Ujar minho memulai pembicaraan. “hal apa?” tanyaku penasaran. “uhm,,, besok,,” kata ji eun sedikit pelan. “besok, aku akan menikah dengan ji eun.” Lanjut minho. “MWO?!” hatiku rasanya seperti di tusuk ribuan pisau, sakit, sungguh menyakitkan. “B,, bagai,, bagaimana bisa?” tanyaku tak percaya. “kami di paksa.” Ujar ji eun menunduk. “hhh.. dan kalian baru memberitahuku sekarang! Wae? Kenapa kalian begitu tega heoh?!” hatiku benar2 sakit. “mianhe suzy~aa” ujar ji eun. “mianhe?! Jika maaf ada gunanya untuk apa ada hukum?!” bentakku. “jebal, suzy~aa. Mianhe.” Pinta minho. “BRENGSEK! Kalian benar2 brengsek!” kata2 itu keluar begitu saja dari mulutku.

 

~ji eun POV~

BRENGSEK! Kalian benar2 brengsek!” hati ku sakit mendengar suzy berkata se kasar itu padaku. “mianhe, jeongmal mianhe.” Aku hanya dapat terus meminta maaf. “suzy~aa tenanglah.” Ujar ji yeon memegang tangan suzy yang gemetar karena sangat marah. “DIAM KAU!” dengan kasar suzy menghempaskan tangan ji yeon. Aku tak dapat menahan air mataku lagi. “jangan pernah menunjukan air mata bodohmu itu!” ujar suzy sinis. “suzy~aa” minho berusaha menenangkan suzy. “apa yang harus ku lakukan agar kau memaafkan ku eoh?” pintaku memegang tangan suzy yang dingin. “mati, jika kau mati aku akan memaafkan mu.” Sahut suzy dingin. Mati? Sebenci itukah suzy padaku sekarang. “apa yang kau katakan suzy!” bentak ji yeon. “wae? Orang seperti mereka memang pantas mati.” Sahut suzy dingin. PLAKK tamparan dari ji yeon mendarat tepat di pipi suzy. “kalau begitu kau juga pantas mati! Kau sama saja dengan mereka. Kau pikir apa yang kau perbuat heoh?! Kau! Kau membuatku harus merelakan minho, namja yang aku cintai untuk menjadi namjachingumu! Dan sekarang kau malah berharap mereka mati?! Heoh?!” bentak ji yeon dengan mata berkaca-kaca. Astaga! Apa yang sudah ku lakukan?! Aku sdh menyakiti ke dua sahabatku dgn pernikahan ini. ji yeon, mianhe, aku tak tahu kau mencintai minho.

 

~minho POV~

kalau begitu kau juga pantas mati! Kau sama saja dengan mereka. Kau pikir apa yang kau perbuat heoh?! Kau! Kau membuatku harus merelakan minho, cinta pertama ku untuk menjadi namjachingumu! Dan sekarang kau malah berharap mereka mati?! Heoh?!” bentak ji yeon pada suzy dengan mata berkaca-kaca. Ya tuhan, kenapa aku sekejam ini? aku sudah menyakiti ji yeon dan suzy dua yeoja yang berarti bagiku. Ji yeon~aa, mianhe.. ku lihat air mata mulai membasahi pipi mulus ji yeon, aku tidak tahan melihatnya, dan suzy, terlihat jelas suzy benar2 terluka dengan ini semua, seandainya aku tidak kembali ke korea, semua ini tidak akan terjadi.

 

~suzy POV~

kalau begitu kau juga pantas mati! Kau sama saja dengan mereka. Kau pikir apa yang kau perbuat heoh?! Kau! Kau membuatku harus merelakan minho, cinta pertama ku untuk menjadi namjachingumu! Dan sekarang kau malah berharap mereka mati?! Heoh?!” bentak ji yeon padaku dengan mata berkaca-kaca. Kenapa bisa seperti ini? ji yeon merelakan minho untukku.. mataku terasa panas, air mata segera mengalir deras di wajahku.

 

~ji yeon POV~

kalau begitu kau juga pantas mati! Kau sama saja dengan mereka. Kau pikir apa yang kau perbuat heoh?! Kau! Kau membuatku harus merelakan minho, cinta pertama ku untuk menjadi namjachingumu! Dan sekarang kau malah berharap mereka mati?! Heoh?!” bentak ku pada suzy dengan mata berkaca-kaca. Perlahan air mataku turun membasahi pipiku. Aku segera berlari keluar café dan melaju dengan mobilku.

 

~suzy POV~

Ji yeon berlari keluar café aku segera mengejarnya sungguh aku merasa bersalah padanya. Aku segera melajukan mobilku untuk mengejarnya. Aku terus mengejar mobil ji yeon dengan kecepatan tinggi tiba-tiba sebuah mobil mlintas di depan mobilku, aku segera membanting stir dan prakk! Aku menabrak pohon. “ahk! Kepalaku.” Sakit, dan gelap………

 

~author POV~

Ji yeon terus melajukan mobilnya, saat dia melihat ke kaca spion, dia melihat mobil suzy yang menabrak pohon sontak ji yeon kaget dan terus menoleh kebelakang tanpa menyadari bahwa dia sedang menyetir dengan kecepatan tinggi hingga akhirnya… PRAKK! Mobilnya menabrak truk yang ada di depannya mobil ji yeon terhempas dan terbalik.

 

~minho POV~

Aku dan ji eun mengejar mobil suzy dan ji yeon namun tiba-tiba mobil suzy menabrak pohon dan beberapa menit kemudian di depannya mobil ji yeon menabrak sebuah truk mobilnya terhempas dan terbalik. “suzy, ji yeon” seru ku. “andwae!” jerit ji eun. Kami segera menghampiri ke dua mobil itu ku lihat tubuh ji yeon berlumuran darah, begitu pun dengan suzy “ANDWAE! Ji yeon, suzy” jerit ji eun menangis keras. Air mataku menetes seketika melihat dua orang yeoja yang sangat berarti bagiku berlmuran darah. tak berapa lama mobil ambulance pun datang dan segera membawa ji yeon dan suzy ke rumah sakit. Aku dan ji eun terus menunggu ji yeon dan suzy yang berada di ruang oprasi, hatiku sunggunh tak tenang. Seorang dokter keluar dari ruang oprasi. “bagaimana dok?” tanyaku khawatir. “mana keluarga pasien yang bernama ji yeon?” Tanya dokter itu. Deg, apa yang terjadi dengan ji yeon ya tuhan. “sedang menuju kesini dok, apa yang terjadi padanya dokter?” tanyaku. “maaf, nyawanya tidak dapat di selamatkan, dia mengalami pendarahan hebat sehingga tidak dapat bertahan hidup.” Jelas dokter itu. “ANDWAE!” air mataku tak dapat ku tahan lagi. Ji yeon, kenapa?! Kenapa kau lakukan ini?! kau bahkan tidak memberiku kesempatan untuk minta maaf.

 

~ji eun POV~

Ya tuhan kenapa kau mengambil ji yeon secepat ini? aku bahkan tidak sempat meminta maaf padanya, air mata terus membasahi pipi ku. Tak lama seorang dokter keluar lagi dari ruang operasi. “maaf, apa kalian keluarga dari pasien yang bernama suzy?” Tanya dokter itu. “ne, ada apa dengannya dokter?” sahutku. “jantungnya sudah sangat lemah, jika tidak melakukan transplatansi jantung maka dia hanya akan bertahan selama beberapa jam.” Jelas dokter itu. “MWO?! Apa maksudmu heoh?!” minho mencengkram kerah dokter itu. “tenanglah minho.” Aku berusaha menenangkan minho. Suzy, kau tak boleh meninggal. Aku melangkah gontai menyusuri koridor rumah sakit. ‘mati, jika kau mati aku akan memaafkan mu.’ Kata2 suzy terngiang di telingaku. Suzy, kau tidak boleh meninggal. Aku segera menuju ruangan dokter yang menangani suzy. “dokter, bisakah aku menjalani tes kecocokan jantung dengan suzy?” tanyaku. “tapi kan..” “aku hanya ingin tes kok dokter. Setelah melakukan tes tak lama hasilnya pun keluar dan hasilnya, cocok, ne, jantungku cocok dengan suzy. “maaf nona, walaupun jantungmu cocok tapi kau tidak bisa melakukan transplantasi.” Ujar dokter itu. “ne, araseo, yang boleh melakukan transplantasi jantung itu jika pendonor sudah meninggal kan?” Sahutku. “ne, kau benar” sahut dokter itu. Aku keluar dari ruangan itu menuju ke repsionis. “permisi, bisa minta 2 lembar kertas dan pulpen.” Tanyaku. “ne, ini” suster itu menyerahkan 2 lembar kertas dan pulpen padaku. Setelah menulis beberapa kata di kertas itu, aku menyerahkannya pada suster itu. “bisakah kau serahkan ini pada dokter kang, 30 menit setelah ini.” ujarku pada suster itu. “ne.” “gomawo.” Aku melangkahkan kakiku menuju atap rumah sakit. ‘mati, jika kau mati aku akan memaafkan mu.’ Kata2 itu terus mebayangiku perlahan ku langkahkan kaki menuju tepi bangunan atap rumah sakit. Air mataku mengalir deras. ‘jika aku mati, suzy bisa hidup, dia bisa bersama minho dan dia bisa memaafkanku, lagi pula tak ada gunanya aku hidup, aku hanya akan membuat suzy menderita. Eomma koma sedangkan appa tiriku hanya bisa membuatku tersiksa dengan semua perintah dan ancamannya. Ku harap aku bisa bertemu dengan ji yeon dan meminta maaf padanya’ Dengan air mata yang masih deras membasahi pipiku, aku terus melangkah ke tepi bangunan dan… gelap…

 

~author POV~

KYAA” teriakan seorang ahjuma mebuat semua orang di sekitar lobi rumah sakit menoleh ke arahnya. “ada apa ahjuma?” Tanya seorang gadis. “a,, ada,, orang jatuh dari atas.” Kata ahjuma itu menunjuk kea rah ji eun yang sudah tak bernyawa. Suster yang tadi menerima kertas dari ji eun segera berlari menghampiri doter kang untuk memberikan surat itu.

 

Dokter kang, sekarang kau sudah boleh melakukan transplantasi jantung untuk suzy kan? Palliyo, aku takut kau nanti terlambat dan semua ini sia-sia. Ku mohon selamatkan suzy. Gamsahamnida. Dan tolong berikan surat yang satunya lagi untuk suzy ne?

 

Dokter kang sangat kaget membaca surat ji eun, dia tak menyangka ada orang seperti ji eun yang rela mengorbankan nyawanya untuk sahabatnya. Mengingat keadaan suzy yang semakin kritis dokter kang segera melakukan transplantasi jantung. Dan suzy dapat di selamatkan.

 

Beberapa hari kemudian…

 

~minho POV~

Setelah melakukan operasi transplantasi jantung, suzy belum sadarkan diri, aku terus menungguinya. “ugh..” suzy mulai membuka matanya. “kau sudah sadar?” tanyaku. “sebentar, biar ku panggilkan dokter untuk memeriksamu.” Ujarku. Segera ku panggil dokter kang untuk memeriksa suzy. “wah, kondisimu mulai membaik bae suzy.” Ujar dokter kang membuat ku lega. “oh ya, ini ada surat untukmu dari orang yang mendonorkan jantungnya untukmu.” Dokter kang menyodorkan secarik kertas pada suzy. Suzy segera mengubah posisinya menjadi posisi duduk dan membuka surat itu.

 

~suzy POV~

oh ya, ini ada surat untukmu dari orang yang mendonorkan jantungnya untukmu.” Dokter kang menyodorkan secarik kertas padaku. aku segera mengubah posisiku menjadi posisi duduk dan membuka surat itu.

 

Suzy~aa mianhe, jeongmal mianhe, aku bukan sahabat yang baik untukmu dan ji yeon. Kau jangan marah pada minho ya, ini semua salahku, salahku yang tidak bisa menentang keinginan appa. Aku tidak bermaksud membohongimu aku hanya takut kau akan terluka. Aku memang brengsek, aku tidak pantas menjadi sahabatmu, tapi bisakah kau beri aku kesempatan untuk mendapat maaf dari mu? Hatiku benar-benar sakit saat aku tahu aku tidak akan bisa lagi meminta maaf pada ji yeon untuk selamanya jadi bisakah kali ini kau memaafkanku? Aku memang tidak tahu diri memohon maaf darimu seperti ini. sekali lagi mianhe, jeongmal mianhe. Semoga kau bahagia, karena di sini aku dan ji yeon pun akan bahagia jika melihatmu bahagia. Saranghe chingu, kkugae, mianhe.

 

Ji eun

 

ANDWAE!” jeritku menangis. “minho~aa, apa maksudnya ini?! ke mana ji yeon dan ji eun? Hiks..” isakku. “mereka, mereka sudah tak ada lagi, ji yeon sudah pergi untuk selamanya.” Jelas minho dengan mata berkaca. “ANDWAE” tangisku semakin menjadi. ji yeon~aa, kenapa kau pergi.. aku bahkan belum meminta maaf padamu, ji eun~aa kenapa kalian biarkan aku hidup dengan rasa bersalah?! Kenapa?! Aku terus mengangis. “uljima..” minho merengkuhku. “kenapa mereka meninggalkanku?” tangisku. “ingatlah jantung yang berdetak di dadamu sekarang adalah jantung ji eun, jadi dia tetap hidup di jantung itu dan selamanya menemanimu.” Ujar minho.

 

——–

 

~suzy POV~

Hari ini aku keluar dari rumah sakit, aku meminta minho membawaku ke makam ji eun dan ji yeon. “mianhe, chingu, jeongmal mianhe.” Aku kembali terisak di makam kedua sahabatku yang telah ku sakiti.

 

~minho POV~

Setelah mengantar suzy ke makam ji yeon dan ji eun, kami pergi ke rumah ji yeon. Aku meminta ijin pada eommanya ji yeon untuk masuk kekamar jiyeon, ku lihat kamarnya tertata rapih. Buku? Buku apa itu? Perlahan aku dan suzy membuka buku kecil yang ada di atas meja belajar ji yeon. Mataku memanas membaca tiap lembar dari buku itu, ne, buku itu adalah diary ji yeon, setiap hari dia memikirkanku, dan aku tidak menyadari hal itu. Lembar demi lembar ku baca sampai pada lembar terakhir aku sungguh tak dapat lagi membendung air mataku.

 

Hari ini, sungguh adalah hari terburuk. Kau tahu kenapa? Minho oppa, namja yang benar benar ku cintai akan menikah dengan sahabatku ji eun. Sakit, rasanya sakit sama seperti saat dia mengatakan kalau dia mencintai suzy sahabatku, saat aku harus merelakan minho oppa untuk suzy, dia adalah satu-satunya namja yang dapat membuat suzy melupakan kenangan masa lalunya yang buruk dan aku senang melihat suzy perlahan melupakan kenangan buruknya itu. hal itu juga membuat minho oppa bahagia, aku pun ikut bahagia karena walau hanya melihat sanyumannya aku sudah sangat senang dan tenang. Cinta tidak harus memiliki, walau sekeras apapun aku berusaha tapi kalau dia tak mencintaiku apa boleh buat, aku hanya bisa mencintainya tanpa harus mengharapkan balasan darinya. Saranghe minho~ kau adalah cinta pertama dan terakhirku…

 

Mianhe ji yeon~aa, jeongmal mianhe…

 

~suzy POV~

Setelah ke makam ji yeon dan ji eun, kami pergi ke rumah ji yeon. minho meminta ijin pada eommanya ji yeon untuk masuk kekamar jiyeon, ku lihat kamarnya tertata rapih. Buku apa itu? Perlahan aku dan minho membuka buku kecil yang ada di atas meja belajar ji yeon. Setiap lembar dari buku itu menggambarkan betapa sakitnya ji yeon karena aku. Lembar demi lembar ku baca sampai pada lembar terakhir.

 

Hari ini, sungguh adalah hari terburuk. Kau tahu kenapa? Minho oppa, namja yang benar benar ku cintai akan menikah dengan sahabatku ji eun. Sakit, rasanya sakit sama seperti saat dia mengatakan kalau dia mencintai suzy sahabatku, saat aku harus merelakan minho oppa untuk suzy, dia adalah satu-satunya namja yang dapat membuat suzy melupakan kenangan masa lalunya yang buruk dan aku senang melihat suzy perlahan melupakan kenangan buruknya itu. hal itu juga membuat minho oppa bahagia, aku pun ikut bahagia karena walau hanya melihat sanyumannya aku sudah sangat senang dan tenang. Cinta tidak harus memiliki, walau sekeras apapun aku berusaha tapi kalau dia tak mencintaiku apa boleh buat, aku hanya bisa mencintainya tanpa harus mengharapkan balasan darinya. Saranghe minho~ kau adalah cinta pertama dan terakhirku…

 

Air mataku mengalir dengan derasnya. Betapa jahatnya aku. Aku sudah menyakiti sahabatku sendiri. Mianhe chingu, jeongmal mianhe..

 

THE END

Otthe? Biar jelek harus tetap komen ya…… ^_~